Gerak semu harian matahari di kutub bumi (foto Fjordnorge),
Majelis Eropa untuk Fatwa dan Riset, ECFR, merilis fatwa untuk mempermudah pelaksanaan ibadah puasa bagi umat Muslim yang berada di negara-negara Eropa dengan waktu siang sangat lama atau bahkan tak pernah melihat matahari terbenam (area kutub bumi).

Seperti dilansir CNN Indonesia, ECFR merilis ‘fatwa baru untuk umat Islam Eropa’ untuk mempermudah umat Muslim menentukan waktu sahur dan berbuka puasa, di negara-negara yang siang harinya berlangsung sangat lama, bahkan hingga 19 jam.

Diantara fatwa yang baru dirilis disebutkan bahwa umat Islam yang berada di negara dengan matahari tidak pernah tenggelam disarankan agar mengambil waktu di hari-hari tahunan yang siang dan malamnya sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu shalat dan puasa di bulan Ramadhan.

"Dengan kata lain, waktu-waktu ibadah puasa Ramadhan disesuaikan dengan (waktu pada) bulan-bulan dimana durasi siang dan malam sama", bunyi pernyataan tersebut.

Di negara-negara yang malamnya sangat pendek, yang bahkan tanda-tanda fajar tidak jelas, sangat sedikit sekali jeda waktu untuk menunaikan salat Isya', tarawih dan sahur. Terkait hal ini, ECFR memberi dua fatwa.

Pertama, melihat hari terakhir dimana tanda terbit dan tenggelamnya matahari, serta waktu Isya' di horizon cukup jelas, untuk dijadikan patokan waktu-waktu ibadah di Ramadhan. Waktu yang demikian biasanya terjadi pada akhir April atau awal Mei.

Kedua, untuk umat Islam di negara-negara di mana malamnya sangat pendek, diperbolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan sahur dan shalat Subuh 1 jam 5 menit sebelum terbitnya matahari.

Karena itu, di negara-negara Eropa yang siangnya sangat panjang, ECFR memberi fatwa tidak boleh menjamak salat Zhuhur dengan Ashar karena tandanya sudah jelas.

"Sedangkan salat Magrib, Isya, dan tarawih boleh dijamak dalam satu waktu lantaran tanda waktunya tidak jelas", bunyi pernyataan tersebut.

Lalu bagi negara-negara yang tanda waktu Isya' jelas namun sangat dekat dengan Shubuh, maka dimungkinkan untuk shalat Maghrib dan kemudian langsung shalat tarawih sebelum Isya' dengan tenggat waktu 45 menit.

"Setelah tarawih lalu shalat Isya. Salat tarawih dimungkinkan lebih dahulu dari Isya', lantaran tarawih dibolehkan dilaksanakan kapan saja di waktu malam", jelas pernyataan tersebut.

Fatwa ini dirilis oleh ECFR setelah mengadakan konferensi internasional di Dublin, ibu kota Irlandia pada Juli 2015 lalu. Konferensi ini melibatkan para ulama, ahli fikih, psikolog, dokter, dan ahli falak.

Sebelum pertemuan, delegasi ECFR mengunjungi wilayah utara Swedia dan Norwegia, dimana matahari tidak pernah terbenam. Syaikh Halawa, Sekjen ECFR menyebut fatwa yang dikeluarkan ECFR kali ini adalah ‘fatwa baru untuk umat Islam Eropa’.

ECFR merupakan sebuah lembaga yang berbasis di Dublin yang dibentuk di London pada 1997 oleh Federasi Organisasi-organisasi Islam di Eropa, FIOE.

Salah seorang penggagas ECFR adalah Syaikh Yusuf Qardhawi, ketua Persatuan Ulama Dunia. Anggota ECFR terdiri dari para ulama dan para cendekiawan Muslim.

Tahun lalu, anjuran berbeda soal pelaksanaan puasa dirilis oleh Syaikh Usama Hasan dari Quillian Foundation, yang menganjurkan agar umat Muslim di Inggris mengikuti lama berpuasa di "negara moderat terdekat".

Dalam hal ini, Syaikh mencontohkan lama puasa di Mekah, Arab Saudi yang berlangsung selama 12 hingga 13 jam sehari.

Pandangan berbeda dikemukakan Sheikh Hassan Halawa yang menilai lama berpuasa tidak boleh dipotong pendek sesuai negara moderat terdekat. Menurutnya, tak pantas warga Muslim Inggris memotong waktu berpuasa sementara banyak Muslim di belahan negara lain tetap berpuasa maupun didera gelombang panas. (CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.