Suasana kota Jayapura di malam hari (foto),
Kota Jayapura sejak awal 2015 lalu telah memberlakukan perda yang melarang aktivitas perdagangan apapun (terutama aktivitas pasar) pada hari Minggu pagi hingga siang harinya.

Tujuannya adalah agar masyarakat kota yang mayoritas beragama Kristen ini melaksanakan kebaktian Minggu di gereja, daripada memilih berjualan di pasar atau kios yang sudah dilarang.

Seperti diungkapkan oleh walikota Jayapura Dr. Benhur Tommi Mano, MM, ketika ditanya soal sanksi pelanggaran.

“Yang penting saya minta agar semua menghormati aturan serta menghargai jam ibadah Minggu”, mengutip dari Dharapos, pada awal Februari 2015.

Sementara itu, beberapa pendeta menyambut baik aturan tersebut. Karena Jayapura berslogan kota beriman, sehingga salah satu perwujudannya adalah pemerintah harus membuat aturan untuk melindungi kepentingan ibadah umat beragama, terutama yang mayoritas.


Perda juga mengatur tentang bagaimana pelayanan umum yang berlangsung pada hari-hari keagamaan. Walaupun sebenarnya, perda-perda sejenis bukan barang baru di tanah Papua. 

Dan untuk mencapai asas "keadilan" dan mencegah kecemburuan sosial, larangan tak hanya berlaku bagi pedagang yang beragama Nasrani agar ikut kebaktian, tapi juga semua anggota masyarakat. Dan bukan hanya pedagang pasar, tapi juga semua toko hingga kaki lima.

Menariknya, masyarakat Muslim Jayapura tidak terlalu mempermasalahkan dan menganggap penerapan aturan tersebut sebagai sesuatu yang biasa saja, sebagaimana menurut sumber Risalah yang tidak disebut namanya.

"Hari Minggu di Jayapura kalau sebelumnya belum belanja atau tidak punya persediaan makanan, ya siap-siap seharian tidak makan. Karena tidak ada yang jualan sama sekali. Jadi tinggal bagaimana dibikin persiapannya saja sendiri", jelas sumber yang asli Jawa itu.

Walau aturan larangan perdagangan hanya sampai siang hari, namun banyak pedagang yang lebih molor atau bahkan tidak menggelar dagangannya hari itu.

Putusan Jayapura menerapkan aturan melarang perdagangan di hari Minggu dimulai sejak 2014, kemudian juga diikuti beberapa Kabupaten lainnya, contohnya adalah Paniai.

"Pemkab Paniai bakal memberlakukan larang terhadap para pedagang yang berjualan di hari minggu dan larangan itu akan diberlakukan setelah dikeluarkannya surat instruksi Bupati", kata Bupati Paniai, Hengki Kayame, kepada Antara Papu pada Maret 2015.

Bupati Hengki mengatakan, sebelum dikeluarkan instruksi tertulis, terlebih dahulu akan dilakukan sosialisasi ke para pedagang yang ada di pasar, kios dan ruko.

"Ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada pedagang agar tidak kaget saat intruksi tersebut dikeluarkan dan kami harapkan para pedagang dapat mematuhi aturan", ujarnya.

"Larangan berjualan di hari minggu dilakukan karena Paniai merupakan Kota Injil sehingga hari Minggu harus dihargai dan tidak ada aktivitas (ekonomi)", katanya.

Artinya, dalam setahun, ada sebanyak 52 hari dimana pemerintah daerah di Papua membatasi aktivitas perdagangan untuk tujuan menghormati "kebaktian di hari Minggu" bagi umat Kristen.

Bagaimana dengan pemda Muslim, saat 30 hari Ramadhan?
Melihat keberhasilan pemda Kristen Papua menerapkan aturan larangan perdagangan, tentu bisa menjadi contoh bagi pemda-pemda di Indonesia yang dipimpin Muslim dan berpenduduk mayoritas Islam, terutama dalam membuat aturan khusus untuk membatasi warung makan selama bulan Ramadhan.

Memang telah banyak aturan dan imbauan pemda di daerah Muslim yang mengatur buka-tutupnya warung makan selama waktu berpuasa, namun lebih banyak lagi daerah dengan pemimpin Muslim (dan mayoriitas Islam) yang belum memiliki inisiatif apa-apa atasnya.

Jika mencontoh Papua, tak masalah sebenarnya melindungi kepentingan umat beragama dibandingkan timbangan urusan ekonomi yang sifatnya relatif. Toh hanya di siang hari Ramadhan kepada para penjual makanan.

Soal format aturan pembatasan tentang buka-tutupnya warung makan, bisa diserahkan pada Alim Ulama, yang penting sesuai Syari'at dan menimbulkan kemaslahatan bersama.

Aturan juga harus dikuatkan dalam bentuk perda mengikat dan konsisten dilaksanakan dari tahun ke tahun, sehingga lama-lama mendidik masyarakat untuk menghormati bulan Ramadhan.

Soal boleh tidaknya warung makan buka selama Ramadhan, Menag Lukman Saifuddin sendiri menyatakan bahwa hal itu dikembalikan ke masing-masing pemda.

"Kalau imbauan kan masing-masih daerah mengeluarkan, tidak hanya imbauan, tapi juga peraturan-peraturan", kata Lukman seperti dilansir Detikcom, Sabtu (4/6/2016).

Berjualan makanan di waktu berpuasa Ramadhan, tinjauan Syari'at
Seperti dimuat oleh KonsultasiSyariah:

Ada beberapa ayat yang bisa dijadikan acuan untuk membahas acara makan di siang hari Ramadhan.
Pertama, Allah melarang kita untuk ta’awun (tolong-menolong) dalam dosa dan maksiat. Allah berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2)

Sekalipun anda tidak melakukan maksiat, tapi anda tidak boleh membantu orang lain untuk melakukan maksiat. Maksiat, musuh kita bersama, sehingga harus ditekan, bukan malah dibantu.

Tidak berpuasa di siang hari Ramadhan tanpa udzur, jelas itu perbuatan maksiat. Bahkan dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diperlihatkan siksaan untuk orang semacam ini,

“Dia digantung dengan mata kakinya (terjungkir), pipinya sobek, dan mengalirkan darah” (HR. Ibnu Hibban, 7491; dishahihkan Al-A’dzami)

Siapapun pelakunya, tidak boleh didukung. Sampaipun orang kafir. Karena pendapat yang benar, orang kafir juga mendapatkan beban kewajiban syariat (hukum asal di negara Islam). Sekalipun andai dia beramal, amalnya tidak diterima, sampai dia masuk Islam.

An-Nawawi mengatakan,

والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين

Pendapat yang benar, yang diikuti oleh para ulama ahli tahqiq (peneliti) dan mayoritas ulama, bahwa orang kafir mendapatkan beban dengan syariat-syariat Islam. Sehingga mereka juga diharamkan memakai sutera, sebagaimana itu diharamkan (dilarang) bagi kaum Muslimin. (Syarh Shahih Muslim, 14/39).

Diantara dalil bahwa orang kafir juga dihukum karena meninggakan syariat-syariat Islam (tertentu), adalah firman Allah ketika menceritakan dialog penduduk surga dengan penduduk neraka,

إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ( ) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ( ) عَنِ الْمُجْرِمِينَ ( ) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ( ) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ( ) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ
Kecuali golongan kanan ( ) berada di dalam syurga, mereka tanya menanya ( )
tentang (keadaan) orang-orang kafir ( ) Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”  ( )
Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat ( )
dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin” (QS. al-Muddatsir: 39 – 44)

Dalam obrolan pada ayat di atas, Allah menceritakan pertanyaan penduduk surga kepada penduduk neraka, ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk neraka?’

Jawab mereka: “Karena kami tidak shalat dan tidak berinfak”

Padahal jika mereka shalat atau infak, amal mereka tidak diterima.

Inilah yang menjadi landasan fatwa para ulama yang melarang menjual makanan kepada orang kafir ketika Ramadhan. Karena dengan begitu, berarti kita mendukungnya untuk semakin berbuat maksiat.

Dalam Hasyiah Syarh Manhaj at-Thullab dinyatakan,

ومن ثم أفتى شيخنا محمد بن الشهاب الرملي بأنه يحرم على المسلم أن يسقي الذمي في رمضان بعوض أو غيره، لأن في ذلك إعانة على معصيته

Dari sinilah, guru kami Muhammad bin Syihab ar-Ramli, mengharamkan setiap muslim untuk memberi minum kafir dzimmi di bulan Ramadhan, baik melalui cara (Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh Manhaj at-Thullab, 10/310)

Kedua, Allah memerintahkan kita untuk mengagungkan semua syiar Islam

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. al-Hajj: 32)

Bulan Ramadhan, termasuk syiar Islam. Di saat itulah, kaum muslimin sedunia, serempak melakukan puasa. Karena itu, menjalankan puasa bagian dari mengagungkan Ramadhan.

Hingga orang yang tidak berpuasa, ia tidak boleh secara terang-terangan makan-minum di depan umum, disaksikan oleh masyarakat lainnya. Tindakan semacam ini, dianggap tidak mengagungkan kehormatan Ramadhan.

Dulu para sahabat, mengajak anak-anak mereka yang masih kecil, untuk turut berpuasa. Sehingga mereka tidak makan minum di saat semua orang puasa.

Sahabat Rubayi’ bintu Mu’awidz menceritakan bahwa pada pagi hari Asyura, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat ke berbagai kampung di sekitar Madinah, memerintahkan mereka untuk puasa.

فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ

Kemudian kami melakukan puasa setelah itu dan kami mengajak anak-anak kami untuk turut berpuasa.

Rubayi’ melanjutkan,

فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ

Kami buatkan untuk mereka mainan dari kapas. Jika mereka menangis minta makan, kami berikan boneka itu ketika waktu berbuka. (HR. Muslim no. 2725)

Kita bisa tiru model pembelajaran yang diajarkan para sahabat. Sampai anak-anak yang masih suka main boneka, diajak untuk berpuasa. Karena menghormati kemuliaan Ramadhan.

Orang yang udzur, yang tidak wajib puasa, jelas boleh makan minum ketika Ramadhan. Tapi bukan berarti boleh terang-terangan makan minum di luar. Sementara membuka rumah makan di siang Ramadhan, lebih parah dibandingkan sebatas makan di tempat umum.

Karena alasan inilah, para ulama memfatwakan untuk menutup rumah makan selama Ramadhan.

Dalam fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وقد أفتى جماعة من أهل العلم بوجوب إغلاق المطاعم في نهار رمضان ، والله أعلم .

Para ulama memfatwakan, wajibnya menutup warung makan di siang hari ramadhan. Allahu a’lam.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 2097)

Penutup
Dalam konteks sistem di Indonesia, pemda di wilayah mayoritas Kristen Papua telah berkomitmen untuk melindungi kepentingan mayoritas. Seperti melarang aktivitas jual beli secara umum di waktu-waktu tertentu, dan harus dipatuhi oleh semua lapisan, termasuk kelompok minoritas.

Lalu mengapa banyak pemda-pemda di daerah mayoritas Islam masih ragu menerapkan aturan pembatasan buka-tutup warung makan selama Ramadhan?

Mengapa anda-anda sebagai Muslim tidak berkomitmen melayani kepentingan umat Islam yang mayoritas? Menerapkan suatu aturan yang harus dipatuhi siapa saja!

Alhamdulillah, telah banyak pemda Muslim yang menerapkan aturan pelarangan bukanya warung makan di siang hari untuk menghormati bulan suci Ramadhan.

Memang sih, larangan bukanya warung selama waktu berpuasa kerap menimbulkan polemik. Berbagai komenar nyinyir akan keluar dari berbagai pihak karena hal ini berbau syariat. Mulai tentang HAM, kebebasan beragama, diskriminasi, toleransi, hingga alasan pluralitas. Seperti yang selama ini telah terjadi.

(Redaksi)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.