Foto Assad dirusak di sebuah sekolah di Ma'arat Nu'man, kota yang terus dibomnya (foto),
Perang Suriah telah berlangsung lebih dari 5 tahun. Perlawanan bersenjata didahului oleh aksi unjuk rasa damai menentang rezim Basyar al-Assad, namun kemudian ditanggapi pemerintah dengan kekerasan.

Suriah telah menjadi masalah global, menarik keterlibatan berbagai kekuatan regional untuk ikut campur, termasuk berkembangnya kelompok ultra ekstrimis ISIS.

Menurut utusan khusus PBB, Staffan de Mistura, jumlah korban tewas akibat perang Suriah memasuki tahun ke-6 diperkirakan mencapai 400 ribu jiwa.

Jutaan orang telah mengungsi, termasuk anak-anak, sehingga membatasi akses mereka terhadap pendidikan. Sementara penduduk yang tinggal di wilayah oposisi menjadi sasaran serangan udara pemerintah Assad dan Rusia.

Di tengah ancaman serangan udara mematikan, banyak sekolah-sekolah darurat berdiri secara mandiri. Para guru Suriah menjalankan kelas apa adanya agar proses pendidikan bisa tetap berlangsung.

Ali Khalid Stouf, murid Suriah ini harus berjalan ke dalam lubang bawah tanah, agar ia bisa masuk ke sekolahnya.

"Ini gerbang sekolah kami!"
Di dalam lubang, selama empat jam sejak pagi, Khalid dan teman-temannya belajar beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika dan pendidikan agama.

Kelas ini dilakukan secara sederhana di atas karpet, dengan puluhan "murid bawah tanah". Terletak di sekitar daerah Tramla, wilayah oposisi di barat laut provinsi Idlib.

Suasana sekolah bawah tanah
Suasana sekolah bawah tanah
Suasana sekolah bawah tanah
"Saya belajar di (dalam) sebuah gua. Kondisinya memang sangat kurang baik, namun profesor (guru) dan istrinya memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami duduk di lantai dan sering tidak bisa melihat secara jelas (yang diajarkan) karena ruangan gelap", ujar anak 14 tahun yang berasal dari provinsi tetangga, Hama.

Guru mereka adalah Muhammad dan istrinya, juga berasal dari Hama. Pasangan ini membuka kediaman bawah tanahnya untuk mengajar sekitar 100 orang anak-anak, yang utamanya berasal dari keluarga pengungsi.

Muhammad mengatakan bahwa sekolah darurat, yang baru dibuka enam bulan ini, selalu kebanjiran saat hujan tiba, sehingga mereka harus melakukan kegiatan belajar mengajar di luar atau di tenda. Meski ia lebih suka menggunakan lubang bawah tanah ini demi keamanan.

"Kami percaya gua adalah tempat paling aman dari pengeboman dan serangan udara (Assad), dimana semua siswanya berada di satu tempat", katanya.

Provinsi Idlib adalah wilayah yang dikontrol oleh pejuang oposisi Sunni, termasuk Jabhah Nushrah (al-Qaeda Suriah) dan secara teratur menjadi sasaran serangan udara oleh rezim Assad Suriah, yang dibantu oleh angkatan udara Rusia.

Sementara di sekolah Souriya al-Ammal (harapan Suriah), yang terletak di kota Ma'arat Num'an, koridor dan ruang kelasnya telah dipenuhi lubang peluru dan kadang-kadang bagiannya runtuh.

Di bagian tempat yang kerusakannya lebih sedikit, dindingnya telah dicat. Sekolah ini sekarang memiliki sekitar 250 murid.

Sebuah sekolah yang rusak parah
"Perang telah mempengaruhi sektor pendidikan secara besar-besaran. Di sebagian besar sekolah, jika tidak hancur sepenuhnya, (maka pasti) rusak", kata pengawas sekolah Abdullatif al-Rahoum.

Ia juga menambahkan bahwa murid yang terlantar pendidikannya, sekarang harus mengejar ketinggalannya dengan murid lain yang lebih muda.

"Ancaman terbesar yang kami hadapi adalah pesawat tempur, yang selalu ada di atas langit. Hal ini terus membuat khawatir para siswa", jelasnya.

Di kota lain, Saraqib, bekas mobil karavan telah disulap menjadi sebuah ruang kelas. Kelas dijalankan secara bersama agar bisa menjangkau anak-anak yang belum memiliki akses pendidikan di kawasan itu.

Kelas darurat dari bagian mobil karavan
Suasana kelas karavan di Saraqib
Kurangnya buku juga menjadi masalah bagi para pengajar. Para guru di Idlib mengatakan bahwa mereka masih mengandalkan bantuan atau buku bekas dari negara tetangga Turki oleh badan pendidikan kelompok oposisi.


Sementara di kota oposisi Douma, di Ghouta Timur, pinggiran Damaskus, menurut anggota badan pendidikan oposisi, Munir Abdul Aziz, sekolah setempat masih menggunakan buku lama, namun dengan perubahan.

"Kami masih mengikuti kurikulum yang sama dengan kementerian pendidikan (rezim Assad), tetapi dengan beberapa modifikasi dan artikel yang berhubungan dengan rezim (Assad) dihapus", katanya.

Selain belajar-mengajar, sekolah-sekolah sederhana itu juga berupaya menghibur para muridnya. (Reuters)

Murid-murid sekolah Suriah:
 
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.