Presiden Erdogan dalam acara perayaan penaklukan Istanbul (foto),
Perang dunia dunia pertama menjadi kuburan bagi kekuasaan imperium Turki Utsmaniyah.

Turki Utsmaniyah atau biasa dikenal dengan ejaan Ottoman di Barat telah kalah, dan kemudian dipecah-pecah sebagai konsekuensi perjanjian Sykes-Picot yang dilakukan Inggris, Perancis dan kawan-kawan.

Singkat cerita, wilayah-wilayah kekuasaan kesultanan Ottoman berguguran melalui perjanjian Sevres, seperti wilayah bumi Syam (Levant) yang kemudian terpecah menjadi 4 negara pada saat ini, termasuk negara Zionis Israel.

Bahkan, wilayah tradisional bangsa Turki pun diduduki oleh pasukan Inggris, Perancis, Italia dan sekutu-sekutunya, yaitu dari bangsa yang pernah dijajah Ottoman, seperti Armenia dan Yunani.

Isi perjanjian Sevres memaksa pihak yang kalah, yaitu sisa-sisa kesultanan Ottoman akan dibatasi dari segi kekuatan militer dan keuangan.

Kaum nasionalis yang dipimpin oleh Kemal Attaturk kemudian mengambil alih keadaan, mereka mengobarkan perang kemerdekaan melawan pendudukan atau menggagalkan tujuan perjanjian Sevres atas bangsa Turki.

Kemenangan kaum nasionalis secara otomatis meruntuhkan sisa kekuasaan politik Ottoman yang telah berlangsung lebih dari 600 tahun, untuk kemudian berganti menjadi Republik Turki pada tahun 1923.

Kemal Attaturk menancapkan sekulerisme kelas berat ke dalam Turki barunya. Membuang semua sisa peninggalan Ottoman, karena menganggapnya sebagai simbol ketertinggalan, termasuk membatasi penerapan agama Islam di negara tersebut.

Turki sekuler juga memindahkan ibukotanya ke Ankara, sedangkan Ottoman pada saat itu menggunakan Istanbul sebagai pusat pemerintahan.

Berbeda dengan negara-negara sekuler-liberal di Barat, yang dalam ranah privat masih memberi ruang kebebasan meski di lingkup pemerintahan atau institusi negara. Sekulerisme Turki benar-benar keras, bagian negara harus total dipisahkan dari unsur spiritual.

Tulang punggung Turki sekuler adalah para Kemalis yang tidak lain tidak bukan adalah pihak militer.

Selama bertahun-tahun. kedaulatan politik berada di tangan militer. Pemerintahan sipil dibiarkan berjalan jika sesuai dengan militer. Beberapa kali kudeta dan intervensi militer terjadi pada panggung pemerintahan.

Siapa saja yang mengusik sekulerisme akan "ditindak" oleh Kemalis. Contohnya adalah mantan perdana menteri Necmettin Erbakan, yang dicabut kekuasaannya dan di-black list militer dari politik Turki pada tahun 1997.

Erbakan adalah seorang Islamis yang menyerukan penguatan nilai-nilai Islam di negara itu, meninggalkan kiblat Barat dan berpaling secara politik pada dunia Islam internasional. Dimana hal ini bertentangan secara frontal dengan intisari sekulerisme Turki.

Nasionalisme Turki
Kaum nasionalis Turki muda mulai bangkit sejak awal abad 20. Mereka menyerukan pembaruan atas kekuasaan konservatif kesultanan Ottoman. Menyebabkan arah kebijakan Ottoman ikut makin condong bagi kepentingan ashobiyah bangsa Turki, bukan atas nama Islam atau Kekhilafahan transnasional.

Kebangkitan Turki muda memunculkan banyak putusan tidak populer di wilayah non-Turki (termasuk Arab) yang menjadi seperti daerah pendudukan. Inilah salah satu alasan pemberontakan Syarif Husein dengan Arab Revoltnya, atas provokasi Inggris.

Tapi dengan semangat nasionalisme itulah Turki muda berhasil memenangkan perang kemerdekaan melawan pendudukan gabungan Eropa.

Semangat nasionalis itu masih melekat hingga saat ini di tubuh militer. Membuat mereka tak akan mundur menghadapi sesuatu yang berlawan dengan kepentingan, harga diri dan kedaulatan bangsa Turki.

Hal ini terlihat pada tahun lalu ketika militer Turki menembak jatuh pesawat tempur Su-24 Rusia, yang melanggar kedaulatan wilayah. Militer tanpa ragu langsung melakukan eksekusi, entah siapapun pemilik pesawat.

Politik AKP dan Neo-Ottomanisme
Dinamika politik Republik Turki makin menarik ketika sebuah partai berakar Islam, yaitu partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), berhasil meraih tampuk kekuasaan sipil Turki pada tahun 2002.

Partai ini didirikan oleh Recep Tayyip Erdogan yang dikenal idealis dan ambisius. Erdogan juga disebut-sebut memiliki ikatan batin dengan gerakan Ikhwanul Muslimin.

Uniknya, AKP memunculkan diri sebagai kekuatan lunak yang tidak mengancam sekulerisme.

Partai ini justru mengampanyekan wajah baru semangat nasionalisme bangsa Turki, yaitu neo-Ottomanisme. Intinya adalah ingin menunjukkan bahwa puncak kejayaan bangsa Turki justru terjadi di era Ottoman.

Walau secara historis, Ottoman dan Kemalis adalah 2 ideologi bertentangan, namun pada saat ini AKP berhasil menggunakannya untuk menenangkan militer karena banyak tujuan politik yang berkesesuaian demi kepentingan Turki.

Akhir Mei lalu, Turki merayakan secara besar-besaran penaklukan kota Istanbul oleh Sultan Muhammad al-Fatih dari tangan Byzantium.

Hampir semua orang di kota itu antusias. Acara diperkirakan diikuti hampir 1 juta orang. Simbol-simbol Ottoman yang ditinggalkan populer kembali.

Nostalgia era Ottoman bagi bangsa Turki sebenarnya adalah sebuah kebanggaan, hal yang tak bisa ditolak oleh semangat tinggi nasionalisme mereka. Bedanya, pada era Ottoman bangsa Turki berjaya karena terharmonisasi dengan Islam. Inilah jarak yang memisahkan dengan posisi sekarang.

AKP sedikit demi sedikit kembali memperkenalkan nilai Islam dalam institusi negara, yang paling sukses adalah penggunaan jilbab di berbagai institusi negara, dimana istri para petinggi negara Turki mengenakan pakaian wajib bagi Muslimah tersebut.

Secara politik, Republik Turki sekarang adalah sebuah negara sekuler yang pemerintahan sipilnya dikuasai oleh kelompok Islamis melalui AKP.

Permainan AKP dan Erdogan ialah merangkul siapa saja dengan tawaran tujuan untuk menghadapi rival yang lebih besar.

Contohnya adalah Erdogan berhasil merangkul militer untuk alasan menghadapi pemberontakan Kurdi PKK dan serangan ISIS, maupun ancaman-ancaman lain pada kedaulatan dan keamanan Turki.

Mundurnya mantan perdana menteri Davutoglu bulan lalu, diduga merupakan "skenario" dari Erdogan membentuk hubungan kuat dengan militer, karena Davutoglu bertentangan dengan militer soal kebijakan pada Kurdi.

Militer juga tidak mengusik rencana Erdogan untuk memperkuat kekuasaannya dengan mengubah pemerintahan ke sistem Presidensial, yang penting untuk kepentingan bersama lebih besar.

Untuk memperlemah sekulerisme, AKP tidak hanya terbatas merangkul kelompok Islamis konservatif, tapi juga kalangan yang secara ideologi mirip Pancasilais jika di Indonesia.

Politik luar negeri AKP meniru cara Ottoman dahulu, namun sangat kentara sekali jika pemerintah Turki sangat condong pada Ikhwanul Muslimin. Terlihat saat era Arab Spring yang ditunggangi IM, serta pembelaan terhadap presiden terkedeta Mesir, Muhammad Mursi.

Pada era Ottoman, Turki membuat hubungan persekutuan dengan kesultanan-kesultanan Islam yang sejalan, bahkan hingga ke Nusantara, ketika membantu berbagai hal untuk melawan kolonialisme Eropa. Seperti itulah politik luar negeri AKP pada saat ini, walau dalam bentuk yang jauh lebih minim dari Ottoman. Contohnya adalah dalam perang Suriah.

Erdogan kini menjadi simbol bagi gerakan politik Islamis, terutama dari para pendukung IM, di seluruh dunia.

Sedangkan dari sisi kondisi dalam negeri, yaitu pencapaian ekonomi dan pembangunan, pemerintahan AKP bisa dikatakan berhasil. Dengan menarik keluar Turki dari masalah ekonomi pada masa 2000-an.

Syari'at Islam atau sekulerisme, Turki?
Sebuah survei baru-baru ini menanyakan kepada responden penduduk Turki tentang pendapat mereka soal penerapan hukum Islam secara ketat, hasilnya tingkat kesetujuan masyarakat Turki jauh lebih kecil dari negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

Memang benar, sekulerisme di negara itu masih sangat kuat.

Erdogan sendiri menyatakan sekulerisme tetap dipertahakan dalam rancangan baru konstitusi, untuk membantah pernyataan salah satu petinggi AKP yang secara terang-terangan ingin mencabutnya.

Entah apa alasannya, untuk menenangkan militer, atau untuk berdiri di 2 kaki. (Risalah)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.