Para pengungsi di Turki (foto),
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyerukan suatu kerjasama internasional yang lebih baik dalam berbagi beban menangani krisis kemanusiaan terbesar saat ini.

Erdogan berbicara dalam KTT kemanusiaan dunia di Istanbul pada hari Senin, membahas masalah masuknya pengungsi secara besar-besaran ke Turki dari Suriah dan Irak karena melarikan diri dari konflik.

Kehadiran 3 juta pengungsi di wilayah Turki membuat negara itu menjadi "tuan rumah" kemanusiaan terbesar dunia, atas apa yang disebut PBB sebagai tragedi kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II.

KTT ini berlangsung 2 hari hingga hari Selasa (24/5) ini, dihadiri sekitar kepala pemerintahan 60 negara dunia, serta didukung oleh PBB.

Turki kerap dikritik dalam beberapa tindakan keamanan di perbatasannya dengan Suriah yang menyebabkan jatuhnya korban pengungsi.

Ancaman kelompok teroris dari Suriah telah membuat Ankara mengetatkan perbatasannya serta menindak gerak-gerik mencurigakan atau para pelintas batas ilegal.

“Kebutuhan meningkat tiap hari tapi sumber daya (pendukung) tidak meningkat dengan cara yang sama. Ada kecenderungan masyarakat internasional mulai menghindari tanggung jawab”, kritik Erdogan.

“Saya berharap KTT Kemanusiaan Dunia kali ini akan menjadi titik balik di semua hal”, lanjutnya.

Turki secara total telah membelanjakan sekitar USD 10 miliar untuk membantu para pengungsi Suria sepanjang 5 tahun konflik, jauh lebih besar dari sumbangan internasional yang Ankara terima sebesar USD 450 juta.

Dalam pernyataannya, Erdogan juga mengkritik Dewan Keamanan PBB yang dimnopoli oleh 5 negara pemegang hak veto. Dimana salah satu dari mereka bisa menggagalkan sebuah resolusi, meski hampir semua negara telah menyetujuinya. (Daily Sabah/VOA)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.