Pihak berwenang di provinsi Xinjiang, China, menjebloskan seorang warga Muslim Uighur ke dalam penjara selama tujuh tahun karena menonton film yang sensitif tentang hijrah Muslim.

Menurut media pro Amerika Serikat, Radio Free Asia, warga Uighur bernama Eli Yasin, dari daerah Chaghraq, Aksu, Xinjiang, China dijatuhi hukuman pada bulan Februari ini dan telah ditahan sejak Mei 2015.

Pihak berwenang menuduh Yasin dan keluarganya yang menonton film itu, tengah merencanakan "hijrah ke luar negeri untuk berjihad".

Namun keluarga itu membantah tuduhan, ungkap Hesen Eysa, seorang kepala keamanan desa setempat kepada kontributor Radio Free Asia. Eysa juga menyebut bahwa keluarga Yasin miskin dan bekerja keras untuk kehidupan sehari-hari.

"Mereka semua berusia di atas 40 tahun. Mereka hanya memiliki sebuah peternakan, dan berjuang untuk bertahan hidup serta membiayai pendidikan anak-anaknya", jelas Eysa.

"Keluarga itu tidak menunjukkan tanda-tanda menentang pemerintah (China). Setidaknya saya memang tidak pernah melihat hal itu", imbuhnya.

"Sebagai kepala keamanan, saya kesulitan menjelaskan (jenis) tuntutan ini pada warga desa.. Tidak masuk akal. Hal ini sangat tidak adil", katanya.

Yasin ditahan bersama dua saudara perempuan dan iparnya. Mereka adalah warga kota Toxula. Masing-masing keluarga memiliki tiga hingga lima anak yang ditanggung.

Tidak ada rincian informasi tentang kasus ini, dan otoritas kepolisian mentup telepon ketika dihubungi.

Kebijakan pemerintah komunis China adalah menerapkan cara apapun untuk mencapai stabilitas wilayah tersebut.

"China ingin semua orang Uighur tahu bahwa negara selalu mengawasi mereka", kata Toxti, mantan wakil ketua Kongres Uighur dunia yang berbasis di Munich.

"Menghukum seluruh anggota keluarga adalah metode yang umum digunakan untuk membungkam orang Uighur sebelum tindakan perlawanan bisa terjadi", kritiknya.

Sementara kelompok HAM menuduh pihak berwenang China menerapkan aturan diskriminatif di Xinjiang.

Seperti kekerasan aparat pada warga Uighur, juga pembatasan praktek Islam dan budaya mereka, termasuk penggunaan bahasa.

China mengancam menindak apapun yang dianggap sebagai "tiga kejahatan", yaitu terorisme, separatisme, dan ekstremisme agama di Xinjiang.

Tetapi para pengamat menganggap rezim komunis Beijing terlalu membesar-besarkan adanya ancaman separatis dari Muslim Uighur. China juga dikritik, bahwa kebijakan diskrimatif justru menjadi sebab peningkatan kekerasan dan menyemai bibit ekstrimisme. (Radio Free Asia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.