Bendera Taliban (foto),
Taliban Afghanistan menunjuk salah satu dari wakil Mullah Akhtar Mansour untuk menggantikannya, setelah mengkonfirmasikan kematian sang pemimpin akibat serangan Drone Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu.

Haibatullah Akhunzada, seorang ahli agama yang menurut laporan PBB merupakan mantan Ketua Mahkamah Syari'ah Taliban, akan memimpin Taliban.

Sementara Sirajuddin Haqqani, kepala jaringan Haqqani, dan Mullah Muhammad Yaqub, putra pendiri Taliban Mullah Omar, akan menjadi wakil pemimpin.

Pengumuman itu terjadi setelah melalui musyawarah oleh dewan syura Taliban, sekaligus mengakhiri simpang siurnya kabar kematian pemimpin gerakan Islamis yang berasal dari etnis Pashtun itu.

"Semua anggota syura telah berbaiat kepada Syeikh Haibatullah di lokasi aman di Afghanistan. Semua orang (di bawah Taliban) wajib untuk menaati Amirul Mukminin (yang baru)", jelas sebuah pernyataan Taliban.

Pemimpin baru Taliban ini diperkirakn berusia sekitar 60 tahun dan anggota suku Nurzai berpengaruh, berasal dari Kandahar yang merupakan basis pendukung Taliban. Ia adalah pembantu dekat Mullah Omar.

Akun resmi Taliban di Twitter memposting foto Akhundzada, atau dikenal juga sebagai Mullah Haibatullah, dengan sorban putih dan panjang, serta jenggot yang mulai memutih.
Mullah Haibatullah
Seorang pejabat pemerintah Kabul menyerukan pada pemimpin baru Taliban ini untuk melakukan pembicaraan damai, atau ia bisa bernasib sama dengan pemimpin sebelumnya.

"Kami mengundang Mullah Haibatullah untuk perdamaian. Penyelesaian politik adalah satu-satunya pilihan bagi Taliban atau kepemimpinan baru akan bernasib seperti Mansour", kata seorang juru bicara rezim Kabul, Javid Faisal dalam sebuah tweetnya.

AS, China dan Pakistan berupaya membawa Taliban ke meja perundingan dengan pemerintah Kabul. Dimana pada kepemimpinan Mullah Mansour, Taliban menolak terlibat perundingan, setelah sempat memberi syarat sangat sulit agar dihapusnya semua intervensi asing dari negeri itu.

Afghanistan adalah negara superkaya cadangan mineral, namun investasi untuk mengekploitasinya terganjal masalah keamanan, dimana konfrontasi pemerintah pro Barat dan Taliban terus berlangsung.

Berbagai investor asing dari AS, China dan negara lainnya belum bisa merealisasikan rencana investasinya. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.