Kehancuran pemukiman sipil Aleppo yang dikuasai oposisi akibat pemboman rezim (foto Reuters),
Serangan udara ke sebuah kamp pengungsian warga sipil di Suriah yang membunuh sedikitnya 28 orang, sementara pertempuran masih berkecamuk di sekitar kota Aleppo meski ada kesepakatan gencatan senjata di wilayah itu selama 48 jam.

Lembaga pemantau HAM Suriah, SOHR, melaporkan bahwa serangan udara menghantam sebuah kamp pengungsian di dekat kota Sarmada, pinggiran provinsi Idlib dan Aleppo.

Meski belum ada konfirmasi atau laporan penyelidikan resmi, militer Basyar al-Assad dituduh bertanggung jawab atas serangan udara pada pengungsi Sarmada.

Berdasar foto yang menyebar di Twitter, diantara korban yang meninggal adalah perempuan dan anak-anak, dimana tubuh-tubuh mereka hancur atau terpotong akibat ledakan.

Tubuh anak-anak hancur (foto: Syakir Khadr)
Jumlah korban jiwa akibat serangan udara brutal diperkirakan akan terus bertambah bisa bertambah.

Rekaman yang dibagikan di media sosial menunjukkan para petugas penyelamat berusaha memadamkan api yang masih membakar tenda.

Kamp yang porak-poranda
Asap putih mengepul dari abu yang masih bernyala, dan jasad yang terbakar dan berdarah terlihat dalam rekaman tersebut.

Para pengungsi ini adalah warga sipil yang menghindari perang di kota asalnya seperti Aleppo dan Palmyra.

"Ada dua serangan udara yang menghantam kamp sementara untuk orang-orang yang mengungsi dari daerah pertempuran di bagian selatan Aleppo dan Palmyra", kata Abu Ibrahim al-Sarmadi, seorang aktivis dari kota di dekatnya, Atmeh, kepada orang-orang di dekat kamp itu.

Nidal Abdul Qader, pejabat badan bantuan sipil oposisi yang tinggal sekitar satu kilometer dari kamp, mengatakan sekitar 50 tenda dan satu sekolah terbakar.

Kepala Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephen O'Brien, mengungkapkan rasa kengerian dan muak melihat apa yang terjadi, serta menyerukan penyelidikan atas kejadian itu.

"Jika serangan ini terbukti sengaja menyasar struktur sipil, ini bisa menjadi kejahatan perang", kata O'Brien dalam satu pernyataan.

"Saya menyeru penyelidikan independen dan berimbang segera terhadap kejadian mematikan ini", katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.

Amerika Serikat (AS) menyatakan korban serangan itu adalah warga sipil tak berdosa yang meninggalkan rumah mereka untuk menghindari kekerasan.

Sarmada membentang sekitar 30 kilometer di barat Aleppo hingga pinggiran provinsi Idlib, dimana gencatan senjata yang digagas oleh Rusia dan AS diterapkan mulai Rabu tengah malam.

Namun pertempuran masih terjadi di dekatnya. Sementara Basyar al-Assad dalam satu telegram kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, justru menyatakan bahwa tentaranya tidak akan menerima apapun kecuali "memperoleh kemenangan akhir" dan "menumpas serangan".

"Kami menyeru Rusia segera mengatasi pernyataan yang sepenuhnya tidak bisa diterima ini", kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner.

"Ini jelas upaya Assad untuk mendorong agendanya, tapi adalah kewajiban bagi Rusia untuk menggunakan pengaruhnya ke rezim itu guna menjaga genjatan senjata", katanya. (Antaranews/Reuters/Express)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.