Pendukung Ali Salman (foto Reuters)
Pengadilan banding Bahrain menggandakan lebih dari dua kali lipat hukuman penjara bagi seorang tokoh Syi'ah penentang pemerintah paling menonjol di negara itu.

Ali Salman, seorang ulama Syi'ah lulusan Qom, Iran, pada hari Senin (30/5) dijatuhi vonis penjara 9 tahun, dari sebelumnya yang hanya 4 tahun kurungan pada vonis setahun lalu.

Menurut kantor berita BNA, jaksa penuntut umum Bahrain mendakwanya melakukan kejahatan penentangan pada pemerintah kerajaan, yaitu menuntut perubahan politik dengan kekerasan.

Organisasi al-Wefaq tempat Salman bernaung, mengecam vonis pengadilan dengan menyebutnya sebagai putusan "provokatif" dan merusak kesempatan penyelesaian krisis politik.

"Putusan pengadilan banding akan meningkatkan ketegangan atas situasi keamanan dan politik di Bahrain", kata pernyataan bersama empat kelompok oposisi.

Salman yang merupakan tokoh keagamaan Syi'ah Imamiyah, divonis hukuman 4 tahun penjara karena didakwa telah melakukan provokasi sehingga menyebabkan kerusuhan.

Pengacaranya kemudian mengajukan banding pada bulan September 2015 lalu, dengan pembelaan bahwa jaksa telah "menyelewengkan" maksud atau konteks pidato Salman.

Jaksa penuntut menanggapi dan membaliknya dengan menggunakan tuduhan yang lebih serius, yaitu berusaha menggulingkan sistem politik negara dengan jalan kekerasan.

"Ia memiliki kebiasaan melakukan penghasutan seperti itu, lalu menyebarkannya melalui pidato-pidato di berbagai kesempatan, termasuk seruan ekstrim yang membenarkan tindakan kekerasan dan sabotase, memprovokasi perubahan pemerintahan, serta menyerukan jihad sebagai kewajiban agama (Syi'ah)", kutip kantor berita BNA dari jaksa.

Hasilnya adalah diperpanjangnya masa tahanan Salman oleh pengadilan. Pengacara terdakwa memiliki waktu 30 hari untuk mengajukan banding atas putusan itu.

"Kasus ini didasarkan pada apa yang diserukan oleh syaikh Ali Salman melalui pidato-pidatonya, dan tidak ada dalam pidato-pidato itu yang bersesuaian dengan tuduhan terhadapnya", kata pengacara pembela, Jalila al-Sayed.

Salman ditangkap di bulan Desember 2014 dalam kasus provokasi pada para pengikutnya sehingga memicu kerusuhan.

Bahrain bergejolak sejak kaum Syi'ah menggoyang pemerintah menuntut perubahan politik pada tahun 2011 lalu.

Penentangan Syi'ah yang didukung Iran itu membuat hadirnya bantuan militer dari negara tetangga, Arab Saudi, yang tidak mau Bahrain jatuh ke tangan Syi'ah lalu berpihak pada Teheran. Bahrain telah memutus hubungan diplomatik dengan Iran.

Negara pulau di Teluk ini merupakan pemerintah Kerajaan yang dipegang oleh keluarga penganut Islam Sunni. Namun mayoritas penduduk Bahrain adalah pemeluk Syi'ah, karena banyaknya imigran yang datang dari Persia/Iran. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.