Perang Yaman (foto),
Pemerintah Yaman menghentikan perundingan damai langsung pada hari Minggu setelah pemberontak Syi'ah Houthi dan sekutunya merebut sebuah pangkalan militer di utara ibukota Sana'a dan membunuh beberapa orang tentara.

Serangan militan Houthi menyasar pangkalan militer Umaliqa, yang "netral" dalam perang. Tentara di pangkalan Umaliqa menolak untuk berpihak, baik pada Houthi dan sekutunya (loyalis mantan diktator Abdullah Saleh) atau pada pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Militer Yaman telah terpecah, dimana banyak diantara mereka merupakan loyalis mantan diktator Abdullah Saleh yang bersekutu dengan Houthi, sehingga membuat pemerintah Yaman tak berkutik di awal konflik.

Menurut pejabat setempat, aksi Houthi selama ini ditoleransi oleh kelompok militer netral sampai terjadi serangan kejutan ke fasilitas yang terletak di provinsi Amran, serta merampas banyak persenjataan.

"Kami telah menunda sesi (perudingan) tanpa batas waktu sebagai protes atas tindakan-tindakan militer dan pelanggaran terus-menerus (oleh Houthi) dari gencatan senjata", ujar salah satu anggota delegasi pemerintah dalam perundingan di Kuwait kepada Reuters.

Sedangkan perwakilan dari militan Syi'ah Houthi dan sekutunya tidak langsung menanggapi atau memberi komentar.

Abdel-Malek al-Mekhlafi, menteri luar negeri Yaman sekaligus petinggi delegasi pemerintah dalam negosiasi di Kuwait, mengatakan bahwa pelanggaran Houthi seperti menembakkan "torpedo" pada proses pembicaraan.

"Kami akan mengambil 'posisi yang tepat' untuk merespon kejahatan Houthi di pangkalan Umaliq, Amran, demi rakyat kita dan negara", tulis Mekhlafi dalam akun resmi Twitter-nya.

Setelah tercapai gencatan senjata, perundingan damai yang digelar di Kuwait masih sangat alot, meski terjadi kemajuan dalam beberapa hari terakhir. Dimana Houthi mengatakan bahwa Arab Saudi telah melepas 40 tahanan pada hari Sabtu.

Kantor berita pro Houthi, Saba, menuduh koalisi Arab dan pasukan pemerintah Yaman telah melanggar gencatan senjata 4.000 kali.

Perang telah menewaskan sedikitnya 6.200 orang dan menyebabkan masalah kemanusiaan di beberapa wilayah, kedua pihak disalahkan atas jatuhnya korban sipil, seperti kekerasan Houthi di wilayah Taiz.

Krisis Yaman dimulai oleh pendudukan pemberontak Syi'ah dan militer loyalis Saleh ke berbagai kota, termasuk ibukota Sana'a lalu menawan pemerintah.

Presiden Mansour Hadi kemudian berhasil melarikan diri ke Aden lalu meminta bantuan negara-negara Arab. Operasi militer koalisi pimpinan Saudi berhasil membalik arah perang. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.