Pertemuan loyalis Houthi di Sana'a dengan membawa anak-anak (foto Reuters),
Pemerintah Yaman akan memberi satu "kesempatan terakhir" bagi kelangsungan pembicaraan damai dengan Houthi di Kuwait yang disponsori PBB.

Hal ini disampaikan oleh menteri luar negeri Yaman pada hari Sabtu, atau empat hari pasca pembekuan partisipasi pemerintah dalam proses perundingan untuk mengakhiri perang selama setahun.

Delegasi pemerintah sah Yaman dan pemberontak Syi'ah Houthi yang didukung Iran, telah bertemu dalam meja perundingan politik sejak sekitar sebulan lalu.

Pada hari Selasa, pemerintah menarik diri dan memberikan syarat kembali ke perundingan, yaitu jika Houthi berkomitmen menarik diri dari kota-kota yang diduduki serta melucuti senjata mereka.

Menteri Luar Negeri Yaman, Abdul Malik al-Mekhlafi, melalui akun Twitternya menyatakan bahwa delegasi pemerintah akan memberikan "kesempatan terakhir", setelah Presiden Hadi melakukan pertemuan dengan para pejabat dari Qatar dan Kuwait, serta Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon.

Pembicaraan akan difokuskan pada tuntutan pemerintah pada Houthi agar menyerahkan senjata mereka dan mundur dari kota yang dicaplok. Termasuk rencana pembentukan pemerintahan baru yang akan melibatkan para pemberontak.

Pemerintah sah saat ini berpusat di kota pelabuhan Aden di selatan Yaman, sedangkan Houthi dan sekutunya masih memegang kontrol atas ibukota Sana'a yang dicaplok secara sepihak pada 2014. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.