Relawan dokter Inggris yang meninggal di penjara Assad pada akhir 2013 (foto),
Pekerja kemanusiaan di Suriah telah meminta masyarakat internasional agar berbuat lebih banyak untuk melindungi mereka dari serangan mematikan, serta memastikan bantuan mencapai penerima yang paling membutuhkan.

Menurut mereka, pernyataan "dukungan" juga harus diwujudkan ke dalam tindakan nyata.

Berbicara di hari kedua KTT Kemanusiaan Dunia di Istanbul, hari Selasa (24/5), kepala sebuah organisasi medis di Suriah mengungkapkan bahwa semua orang saat ini sedang berusaha membuat rumah sakit di bawah tanah dan gua, karena menganggap upaya internasional telah gagal dalam mengakhiri serangan pada mereka.

"Menjadi dokter di dalam Suriah berarti (juga) menunggu kematian", kata Zedoun al-Zoubi, kepala persatuan medis dan kemanusiaan (UOSSM) yang bekerja di Suriah.

"Alih-alih bekerja menyelamatkan nyawa orang, anda malah mengkhawatirkan tiap waktu anda sendiri karena dokter juga merupakan target utama serangan udara", katanya seperti dikutip Reuters.

Al-Zoubi menjelaskan, sekitar 10.000 dokter telah meninggalkan Suriah, dan hanya 1.000 saja yang tersisa di wilayah oposisi.

"Semua orang tahunya rumah sakit menjadi tempat teraman di dunia (termasuk) di saat perang, tapi di Suriah, rumah sakit adalah tempat paling berisiko", lanjutnya.

Salah satu rumah sakit lapangan pernah mencoba membangun sebuah fasilitas bawah tanah dekat posisi FSA, namun pejuang oposisi itu meminta agar mereka pergi, karena kehadiran rumah sakit berarti lokasi itu akan dibom.

"Serangan udara banyak menargetkan rumah sakit, bukan milisi", ungkap al-Zoubi, yang terpaksa keluar dari Suriah pada tahun 2013.

Awal bulan ini, lembaga bantuan medis lintas negara, Médecins Sans Frontières (MSF), mempertanyakan peran 4 dari 5 negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB atas terjadinya serangan pada rumah sakit di Suriah, Yaman dan Afghanistan.

MSF juga menarik diri dari KTT kemanusiaan, karena menganggap pertemuan yang disponsori PBB itu tidak berguna apa-apa untuk mendesak mereka yang berperang mematuhi hukum humaniter.

Kejahatan Perang

Sekjen PBB, Ban Ki-Moon, berdiskusi dengan pekerja kemanusiaan Suriah di Istanbul dan menyatakan bahwa serangan terhadap rumah sakit adalah kejahatan perang besar. Dimana para pelakunya harus diseret ke Mahkamah Kejahatan Internasional.

"Melindungi pekerja kemanusiaan adalah prinsip dasar dari hukum perang internasional. Saya dan rekan pejabat PBB saya selalu mengangkatnya dalam kesempatan pertemuan dengan negara-negara anggota dan masyarakat internasional", kata Ban.

"Menggerakkan para pemimpin agar berkomitmen menerapkan aturan hukum merupakan salah satu tanggung jawab pokok dari Agenda for Humanity yang akan diadopsi pada akhir ini", tambahnya.

Kepada NGO-NGO itu, Ban berjanji akan berusaha melakukan yang terbaik, meski saat ini masih jauh dari ideal.

Jaminan perlindungan relawan kemanusiaan
"Setidaknya (yang masyarakat internasional) dapat lakukan adalah mewujudkan kondisi aman bagi pekerja kemanusiaan", kata Rouba Mhaissen, pendiri dan direktur Sawa for Development and Aid, yang membantu pengungsi Suriah di Lebanon.

Hal tersebut diantaranya adalah menyiapkan zona larangan terbang, penyebaran bantuan kemanusiaan dari udara ke wilayah terputus, dan menjamin bahwa fasilitas seperti rumah sakit atau sekolah tidak akan diserang.

Ia juga meminta para donatur agar menyalurkan bantuan dana lebih banyak langsung ke lembaga di Suriah, karena mereka memiliki akses lebih besar ke banyak orang yang membutuhkan, dan lebih sedikit pembiayaan operasional daripada lembaga bantuan internasional.

Pekerja bantuan Suriah menyalurkan 75% bantuan kemanusiaan pada 2014, tetapi hanya mengelola langsung tak lebih dari 10% dari jumlah dana tersedia bagi Suriah, menurut penelitian Local To Global Protection (L2GP) (L2GP).

Menurut L2GP, meskipun memiliki peran besar, LSM di Suriah harus berjuang untuk menutupi sebagian besar biaya operasional mereka.

Pesan berulang
Salah satu hal yang terus berulang bagi para pekerja kemanusiaan ini adalah menyerukan pesan yang sama kepada masyarakat internasional dan tidak melihat adanya perubahan nyata.

"Kami pergi (ke) lapangan dan kami mendapati penderitaan mereka secara langsung", kata Mhaissen.

"Setiap kali kita berpikir 'inilah yang terburuk yang pernah terjadi', (ternyata) sesuatu yang lebih buruk terjadi", lanjutnya.

Mhaissen masih menemukan harapan dari para pengungsi Suriah di kamp-kamp penampungan maupun mereka yang masih tinggal di wilayah Suriah.

"Mereka masih berjuang dengan cara-cara damai untuk kebebasan dan kehormatan mereka", katanya. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.