AIlustrasi gencatan senjata (foto SOHR),
Setelah terlibat perseteruan berdarah selama lebih dari satu bulan, para pemimpin kelompok jihad Jaisyul Islam dan Failaqur-Rahman mengumumkan pernyataan prinsip bersama tentang Ghouta timur pada hari Selasa kemarin.

Lembaga pemantau HAM Suriah, SOHR, memperoleh salinan dokumen pernyataan bersama antara pemimpin Jaisyul Islam, Isam Buwaydani, dengan pemimpin Failaqur-Rahman, Abdul Nasser Shamir, poin-poin tersebut antara lain:
  1. Penghentian pertempuran, larangan penggunaan kekuatan militer untuk permasalahan sesama saudara, saling melepas para tahanan, pembukaan jalan bagi warga sipil, pengembalian fasilitas sipil kepada pemiliknya, penghentian perang media, dan hal-hal ini akan langsung diterapkan setelah ditandatangani
  2. Ghouta timur adalah satu kesatuan demografis dan geografis, tidak bisa dibagi berdasar pengaruh (kelompok)
  3. Kasus pembunuhan dan pertumpahan darah akan diusut melalui mahkamah bersama, dengan ketentuan yang disepakati
  4. Kewajiban saling berkoordinasi atau kerjasama dalam melindungi front (dari rezim Assad)
  5. Menyampingkan dahulu semua unsur perselisihan (front, senjata, markas, terowongan dan aset) dan menentukan prioritas penyelesaian dalam suatu jadwal
  6. Komite Sipil yang disepakati bersama adalah sebuah komite yang bertanggung jawab dalam komunikasi dan koordinasi antara kedua kelompok pejuang, komite berwenang menjelaskan pada media tentang proges penyelesaian sengketa
Dokumen kemudian ditutup dengan pernyataan:

"Perjanjian ini ditandatangani dalam 3 rangkap, satu salinan (masing-masing) untuk setiap faksi, dan satunya untuk Komite bersama. Lampiran prinsip (kesepakatan) ini dihormati oleh kedua pihak, kesepakatan ditandatangani setelah shalat Isya hari Selasa 17 Sya'ban 1437 H atau 24/05/2016 Masehi di Ghouta timur (Semoga Allah menjaga dan melancarkannya) dan Alhamdulillah atas rekonsiliasi yang berhasil dilakukan."

Perseteruan dua kelompok pejuang oposisi Ghouta timur ini telah memakan korban ratusan orang dari kedua belah pihak maupun warga sipil.

Rezim Assad, Syabihah dan kelompok teroris Hezbollah Lebanon, berhasil memanfaatkan keadaan untuk merebut wilayah cukup signifikan di bagian selatan Ghouta timur sekitar seminggu lalu.

Perwakilan kedua kelompok kemudian bertemu di Doha, Qatar, untuk menyelesaikan perselisihan secara menyeluruh.

"Kesepakatan penghentian permusuhan secara menyeluruh telah tercapai, disaksikan oleh kepala koordinator Komite Negosiasi (HNC) Dr. Riad Hijab", kata pernyataan Jaishyul Islam, seperti dimuat Reuters, hari Rabu. (SOHR/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.