Sorang lelaki tua berkendara melewati gedung hancur lebur di Daraya (foto),

Pejuang oposisi dan pejabat lokal di kota terkepung Daraya meyakini bahwa pasukan rezim Assad sedang mempersiapkan serangan ke kota itu, pasca konvoi bantuan medis pekan lalu.

Daraya terletak dekat dengan pangkalan udara penting dan hanya beberapa kilometer saja dari istana Basyar al-Assad.

Selama beberapa pekan, wilayah ini ikut mengalami penurunan kekerasan sejak terjadi gencatan senjata rapuh pada akhir Februari.

Tetapi, gencatan senjata mudah dilanggar di Suriah, militer rezim Suriah sempat menyerang wilayah kota pada hari Kamis (12/5) dan menghalangi masuknya konvoi bantuan pertama, sejak kota itu dikepung.

Daraya adalah lokasi aksi protes damai di masa awal revolusi Suriah, kota mulai dikepung dan dibom secara terus-menerus sejak Mei 2012.

Oposisi meyakini militer rezim sedang dimobilisasi untuk kembali menyerang Daraya.

"Konvoi besar militer (Assad) bergerak dari bandara dan dari wilayah Ashrafiyat Sahnaya (kota di selatan)", kata Abu Samer, juru bicara kelompok oposisi Liwa Syuhada Islam.

"Kami siap menangkal serangan mereka, tapi kekhawatiran utama kami adalah (keselamatan) warga sipil di kota yang terkepung ini dari resiko kekurangan makanan", lanjutnya.

Namun sebuah sumber militer Suriah membantah laporan oposisi tentang pergerakan pasukan dan tidak ada hal yang berubah.

Meskipun hanya ada 8.000 warga dan sekitar 1.000 pejuang tersisa di kota itu, tentara Suriah belum sanggup merebut kontrol kota itu hingga hari ini.

"Pemantauan kami menunjukkan adanya penyebaran kendaraan berat di sisi selatan kota", kata pemimpin Liwa Syuhada Islam, kolonel Said Naqrash.

"Rezim terus menempatkan lebih peralatan dan pasukan... Semua pergerakan ini menunjukkan bahwa rezim merencanakan sesuatu", lanjut Said.

Daraya dikendalikan oleh dua kelompok pejuang utama, Liwa Syuhada Islam dan Itihad al-Islami Ajnad al-Syam, mereka berasal dari warga asli. Sehingga diyakini tak ada kelompok radikal apapun. Namun rezim secara sepihak menyebut Daraya "dikuasai teroris".

"FSA mematuhi gencatan senjata dan hanya (bertahan) memukul mundur serangan", kata seorang aktivis Daraya, Fadi Dirani.

Abu Yamen, anggota dewan kota, mengatakan bahwa penyebaran tentara rezim seperti saat ini belum pernah terlihat sejak sebelum gencatan senjata.

Tanaman warga dibakar Assad
Bulan ini, PBB mengatakan bahwa pemerintah Assad telah menolak tuntutan PBB untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada ratusan ribu orang. Termasuk bantuan makanan bagi warga Daraya yang dilanda kelaparan.

Perjuangan mereka untuk bertahan hidup bahkan nyaris menyentuh putus asa, ketika 6 bulan lalu pasukan rezim memotong hubungan dengan kota Moudamiyah yang juga dikuasai oposisi.

"Militer telah membakar (tanaman) gandum dan rerumputan", kata Naqrash.

Pada bulan April, sekelompok perempuan Daraya menulis surat terbuka yang mengatakan jika kota itu di ambang kelaparan, orang-orang memasak sup hanya dari bahan bumbu-bumbuan agar bisa makan.

Konvoi bantuan yang diblokir pada pekan lalu seharusnya menjadi pertama kalinya akan diterima Daraya sejak hari pertama diblokade.

Militer Assad tidak memperbolehkan adanya bantuan makanan, hanya bantuan medis, alat sekolah dan lainnya.

Warga meluncurkan kampanye online menjelang pengiriman yang diharapkan, dengan slogan: "Kami tidak bisa kenyang dengan makan obat".

SOHR melaporkan bahwa bentrokan pecah di sekitar kota dan militer rezim yang mengepung mulai menyerang setelah konvoi bantuan berbalik.

Dewan lokal Daraya melalui halaman Facebook-nya pada hari Sabtu, menyatakan kekhawatiran besar adanya serangan militer baru, setelah melihat pergerakan pesawat pengintai dan konsentrasi pasukan Assad di sebelah selatan kota. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.