Amerika menjadi broker perdamaian Israel-Assad
Kedua negara secara resmi memang masih berperang, tetapi telah mempertahankan gencatan senjata sejak tahun 1974, yaitu pasca perang Yom Kippur.

Beberapa kali proses perundingan damai gagal untuk memperoleh status "damai permanen", walau demikian, tak ada lagi konfrontasi militer signifikan antara rezim Assad Damaskus dan Tel Aviv selama 30 tahun.

Berikut ini adalah garis waktu pada hubungan Israel-Suriah serta peristiwa penting yang menyertainya:


November 1947 - Suriah menentang rencana PBB untuk membagi mandat Inggris atas Palestina menjadi negara Yahudi dan Arab.


Mei 1948 - Saat mandat Inggris berakhir, orang-orang Yahudi memproklamasikan negara Israel. Membuat pasukan Arab, termasuk Suriah, menyerang negara Israel yang dideklarasikan tersebut. Israel menang telak dalam perang ini, dengan militer lebih baik. Mencaplok banyak tanah baru. Bahkan akhirnya memperoleh pengakuan PBB pada tahun 1949, berkat dukungan 2 superpower, Amerika Serikat dan Uni Soviet.


Juli 1949 - Israel dan Suriah menandatangani perjanjian gencatan senjata.


Juni 1967 - Mesir dan negara-negara Arab memobilisasi pasukannya ke dekat perbatasan, sehingga menyebabkan Israel menyerang Mesir, Suriah dan Yordania. Dalam perang 6 hari, negara Yahudi berhasil mencaplok Sinai dari Mesir, dan dataran tinggi Golan dari Suriah, di dekat perbatasan. Perang ini layak disebut sebagai perang partai sosialis pan-Arab melawan Israel. Karena Suriah dan Mesir dikendalikan ideologi tersebut, bukan atas nama Islam atau jihad.


Suriah 1963-1970 - Karir militer dan politik Hafidz al-Assad mulai menanjak sebelum perang ini. Ia ditunjuk menjadi komandan regional militer yang bertugas memonopoli kekuatan militer di bawah Ba'ats Suriah. Lalu terjadi kudeta sesama Ba'ats pada tahun 1966 oleh militer, menggulingkan komando nasional. Assad diangkat untuk posisi lebih kuat sebagai menteri pertahanan, ia ditugasi untuk menangani masalah dengan Israel sampai perang meletus pada tahun 1967.

Kekalahan telak militer Suriah di bawah komando Hafidz al-Assad dari Israel, melahirkan perpecahan internal pemerintah Suriah saat itu. Assad dipersalahkan atas kekalahan ini oleh pemerintah sipil, begitu pula sebaliknya.

Namun Hafidz al-Assad makin menguat, dan akhirnya berhasil merebut kekuasaan pada tahun 1970. Ia juga menempatkan keluarganya atau orang-orangnya (dari suku minoritas Alawite/Nushairiyah) dalam posisi penting Suriah. Jika awalnya kekuasaan Suriah dimonopoli Ba'ats, di era Assad, Ba'ats dimonopoli kaum minoritas Alawite.

Oktober 1973 - Suriah dan Mesir kembali menyerang Israel dalam perang Yom Kippur. Sebuah pukulan mendadak Mesir berhasil memukul telak Israel dan membuat Tel Aviv panik. Militer Suriah juga berhasil membuat kerugian besar bagi Israel di Golan. Walaupun kemudian Israel bisa memukul balik, namun perang ini menjadi penegasan kembali harga diri Arab yang tidak berkutik dalam perang sebelumnya.


Perang ini dilancarkan bukan atas nama Islam atau jihad, namun perang untuk merebut kembali wilayah yang dicaplok Israel.

Mei 1974 - Suriah dan Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata yang ditengahi AS, serta menempatkan pasukan penjaga perdamaian internasional di Golan. Sebagian besar dataran tinggi Golan masih berada di bawah kendali Israel.


Desember 1981 - Israel secara sepihak menganeksasi dataran Golan sebagai wilayah kedaulatannya (kontrol sipil) dimana hal ini dikecam oleh Dewan Keamanan PBB. Hingga saat ini, klaim Israel tidak diakui dunia.


Isu dataran tinggi Golan sengaja dijual Hafidz al-Assad pada Israel
Seperti dimuat oleh media Yordania, Albawaba, pada tahun 2011. Dr. Mahmoud Jame', seorang teman dekat Presiden Mesir Anwar Sadat, pernah mengangkat isu menarik ketika ia mengatakan bahwa Sadat memiliki penjelasan tentang info rahasia bahwa "dataran tinggi Golan telah dijual ke Israel menjelang perang 1967", dengan nilai transaksi USD 100 juta saat itu yang dibayarkan pada Assad (menteri pertahanan).

Dr. Jame ', penulis buku "Aku kenal Sadat", mengatakan bahwa dana itu diterima oleh adik Hafidz, Rifaat al-Assad. Sementara nilai ceknya tersimpan di bank Swiss.

Imbalan atas bayaran itu dilakukan oleh Hafidz al-Assad sebagai Menteri Pertahanan. Ia disebut-sebut sengaja membuat Suriah kalah, dengan memerintahkan pasukannya menarik diri pada Juni 1967 alias menyerahkan Golan ke Israel.

Info lainnya menyebut bahwa rezim Assad (setelah berkuasa) akan menerima bagi hasil atas pengelolaan dataran tinggi Golan di masa depan.

Pendukung Assad menganggap isu ini sebagai cara untuk menyudutkan rezimnya.

Juni 1982 (era perang sipil Lebanon) - Israel ikut mengintervensi Lebanon dalam perang sipil. Menghancurkan angkatan udara Suriah dalam pertempuran udara di lembah Beqaa, mendesak posisi tentara Suriah. Israel juga menyasar PLO (organisasi pembebasan Palestina) di sana.


Uniknya, dalam perang sipil Lebanon ini, Israel dan Suriah (Assad) sama-sama punya sekutu lokal di sana. Israel mendukung milisi Kristen Maronit (Phalangist), sementara Assad bersekutu dengan militan Syi'ah setempat (gerakan Amal) dan kelompok kecil Palestina non-mainstream.

Kedua pihak tersebut adalah musuh bagi kelompok perlawanan Palestina dari para pengungsi di negara itu, terutama PLO.

Ribuan pengungsi Palestina dibunuh dalam pembantaian Sabra dan Shatila pada tahun 1982 oleh milisi Phalangist yang didukung Israel.

Kemudian pada tahun 1984, milisi Syi'ah (gerakan Amal) bersama sekutu-sekutunya yang didukung Suriah (Assad) mulai mengepung lokasi kamp-kamp pengungsi Palestina yang merupakan basis PLO. Selama bertahun-tahun terjadi serangan ke kamp-kamp Palestina.

Perang sipil Lebanon memang sangat rumit melibatkan berbagai faksi berbeda dan keyakinan, serta intervensi asing.

Oktober 1991 - Israel dan Suriah menghadiri konferensi perdamaian Timur Tengah internasional di Madrid, meski gagal untuk menyepakati perdamaian dalam pertukaran pengembalian wilayah Arab yang masih diduduki.


September 1993 - Suriah menolak mendukung kesepakatan Oslo yang isinya adalah perdamaian sementara antara Israel dan PLO.


Desember 1999 - Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan Menteri Luar Negeri Suriah saat itu, Farouq al-Shara, bertemu di Washington. Ini adalah upaya Amerika Serikat sebagai perantara untuk mengakhiri gencatan senjata dan menciptakan status damai permanen Suriah-Israel. Israel dan Suriah pada prinsipnya sepakat bahwa status Golan adalah syarat transaksi perdamaian itu sendiri.


Januari 2000 - Pembicaraan Israel-Suriah tentang pengembalian wilayah Golan gagal menyepakati tentang kontrol atas danau Galilea. Presiden AS, Bill Clinton, juga gagal untuk meyakinkan dilanjutkannya perundingan Suriah-Israel, saat bertemu dengan Hafidz al-Assad di Jenewa pada bulan Maret.


Akhir 2003 - Presiden baru Suriah, Basyar al-Assad (anak Hafidz), siap menghidupkan lagi perundingan damai dengan Israel dengan syarat pengembalian Golan.

Juni 2007 - Menanggapi tawaran pembicaraan damai berulang dari Basyar al-Assad, Israel memberi syarat perdamaian permanen lainnya dengan meminta putusnya hubungan Suriah dengan Iran. Republik Syi'ah Iran, di bawah Ahmadinejad saat itu memang tengah gencar-gencarnya melakukan propaganda anti Israel di dunia Islam.


September 2007 - Israel melakukan serangan udara ke Suriah, hal ini diumumkan beberapa waktu setelahnya. Menurut AS, sasarannya adalah sebuah reaktor nuklir Suriah yang membangun dengan bantuan Korea Utara. Assad mengatakan bahwa itu bukan fasilitas nuklir, ia juga membantah Suriah memiliki proyek senjata nuklir rahasia.


Mei 2008 - Israel dan Suriah mengumumkan bahwa mereka sedang melakukan pembicaraan damai tidak langsung dengan mediasi Turki.


Juni 2008 - Israel dan Suriah menyelesaikan dua putaran pembicaraan damai tak langsung yang dimediasi Turki dan setuju untuk menggelar pertemuan, namun para pejabat tidak merinci hal tersebut.


2009 - Rencana perundingan damai gagal diselenggarakan setelah terjadi pergantian pemerintah Israel ke tangan Benjamin Netanyahu, membuat upaya yang telah berlangsung harus kembali ke nol lagi. Presiden baru AS, Barrack Obama, kemudian menyiapkan tahapan baru untuk menghidupkan lagi perundingan damai Assad-Israel

2010 - Kemajuan upaya perdamaian terjadi lagi atas perantara Amerika Serikat. Dataran tinggi Golan tetap menjadi daya tawar dari Israel untuk perdamaian dan pengakuan kedaulatan dari pemerintah Suriah (seperti halnya Sinai Mesir).

Awal 2011 - Revolusi Suriah meletus mengikuti momen Arab Spring, dan kemudian berubah menjadi perang sipil melawan rezim Assad setelah terjadi berbagai kekerasan oleh militer. Membuat semua langkah perundingan Suriah-Israel gagal total dan tak terjadi lagi hingga hari ini.

Perang Suriah 2011-sekarang - Israel berulang kali melakukan serangan udara ke Suriah, menyasar musuh mereka dari pejuang anti Assad di dekat Golan, maupun posisi Iran dan teroris Hezbollah yang merupakan sekutu Assad. Israel juga mengaku khawatir jika Suriah jatuh ke tangan "teroris" maupun kelompok Islam Fundamentalis yang anti Assad. Pada September 2014, Jabhah Nushrah (al-Qaeda) berhasil menguasai garis perbatasan wilayah Golan serta menawan pasukan PBB di sana, namun kemudian dilepaskan. Uniknya, Israel mengaku membuat program kemanusiaan di wilayah itu, yang netral dan mengobati siapa saja tanpa memandang asal-usul.

April 2016 - Israel menyatakan klaim untuk tidak akan mengembalikan Golan selamanya, hal ini ditolak oleh PBB. Golan memang aset penting bagi militer Israel. Selain itu menjadi lokasi sumber air bagi wilayah sekitarnya.

(Reuters/Spiegel/BBC/Albawaba/Haaretz)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.