Duet palu arit (ilustrasi),
Apa beda sosialisme dan komunisme?
Oleh Habib T. Amin

Pada dasarnya sosialisme dan komunisme itu dua hal berbeda, sosialisme adalah teori ekonomi tentang subsidi antara mereka yang berlebihan untuk mereka yang kekurangan.

Sedangkan komunisme adalah sebuah ideologi sekuler yang menekankan penghilangan subsidi (karena tidak ada kaya-miskin lagi dalam mimpi para komunis) dan juga tidak mengakomodir ideologi lain.

Salah satu bentuk sosialisme adalah koperasi, dimana dimiliki secara bersama oleh orang banyak dengan distribusi tanggung jawab dan hak tertentu.

Tetapi dalam komunisme tidak dikenal adanya distribusi hak dan tanggung jawab, sebab yang ada hanya distribusi tanggung jawab (misalnya buruh hanya sebagai buruh, tentara hanya sebagai tentara, petani hanya sebagai petani).

Sementara haknya disamakan semua, alias dimonopoli oleh partai komunis sepihak dengan alasan untuk "mencapai tujuan".

Sebabnya, perhitungan pendapatan dalam komunisme juga berdasar teori surplus-value (nilai lebih), yaitu kalori/energi kerja yang dikeluarkan harus mendapatkan kelebihan dalam bentuk gaji dan ini tidak boleh berlebih (versi pemodelan partai komunis).

Maksudnya adalah pekerja akan menghasilkan nilai ekonomi baru dan lebihnya (kegiatan produksi), dari modal produksi yang dikeluarkan. Nilai lebih inilah yang menjadi sumber keuntungan bagi para kapitalis. Pekerja dibayar sebagai upah bagian dari modal pengusaha, bukan atas hasil.

Tapi dalam komunisme, partai komunis yang mengambil peran untuk menghapus kelas dan memodelkan pendapatan bagi para pekerja, ini termasuk upaya mengontrol konsumsi/penggunaan sumber daya alam.

Menurut sosialisme, surplus-value ala Marx dkk, dianggap sebagai upah besi, mengapa demikian? Karena Marx menitikberatkan pada jumlah kalori (energi primer) semata.

Upah besi maksudnya adalah upah yang diberikan pada buruh atau kelas pekerja hanya untuk bertahan hidup, tanpa memanusiakan buruh itu dalam hal kebutuhan sekunder dan tertier, gagasan upah besi dicetuskan oleh David Ricardo.

Komunisme juga tidak bisa digunakan bersama dengan ideologi lain (termasuk agama), berbeda dengan sosialisme. Karena sosialisme hanya ilmu distribusi ekonomi sedangkan komunisme adalah cara pemusatan ekonomi, kekuasaan dan ideologi.

Sosialisme bisa digabung dengan ideoloi kanan (liberal) dimana menjadi sosial-demokrat yang pernah dipraktikan oleh Belanda pada zaman Perdana Menteri Hendrikus Coljin, dan juga Inggris pada masa sekarang melalui partai buruh. Tapi komunisme tidak bisa.

Komunisme berbicara tentang ideologi utuh, sehingga di negara komunis tidak boleh ada ideologi lain yang berkembang.

Sosialisme mempunyai beberapa varian turunan, diantaranya adalah komunisme, anarkisme, marhaenisme, sindikalisme dan sebagainya.

Intinya apa?
Intinya komunisme semacam ideologi Thaghut, alias ideologi sosial-ekonomi (sekuler) yang menjadi agama baru menurut teori sosiologi dan ekonomi sendiri. Sementara sosialisme sebagai ilmu ekonomi bisa berkembang sesuai masalah pasar, dimana sosialisme menitikberatkan pada distribusi kekayaan dan pajak.

Jadi jika ada buruh yang mengaku komunis, maka ia tak boleh demo, karena komunisme dalam teorinya hanya menghitung kalori untuk menentukan model kebutuhan, dan tidak menghitung rice cooker, parfum, kredit motor, HP Samsun*, tiket konser dan berbagai hal lainnya.

Versi "komunis Islami" ternyata adalah murji'ah
Almarhum Tan Malaka dikenal sebagai sosok "komunis yang Islamis". Banarkah? Tidak, karena ia harus melakukan dualisme untuk hal itu, berdasarkan pernyataannnya sebagai berikut:

"Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah anda Muslim - ya atau tidak? Apakah anda percaya pada Tuhan - ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak Iblis diantara banyak manusia!" (Tan Malaka)

Dalam ajaran Islam tidak dikenal adanya pemisahan iman dan amal (zhahir), atau memisahkan perbuatan dari iman itu sendiri, yang melakukannya hanyalah kaum sesat murji'ah.

Jadi perkataan Tan Malaka yang "mencopot" Islam (penampakan amalan zhahir) di depan manusia untuk memilih identitas komunis adalah pernyataan kufur yang sesuai dengan pandangan murji'ah.

Hal serupa bisa terjadi pada Muslim yang mengakui ideologi sekuler lainnya, walau belum seketat komunis.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.