Ilustrasi dokumen ISIS
Setelah diduduki selama berbulan-bulan, pasukan militan ISIS ditarik keluar dari Palmyra awal April lalu sesuai perjanjian yang telah berlangsung lama.

ISIS atau "Daulah al-Baghdadiyah" dan rezim Assad di Suriah dituduh telah bermain mata satu sama lain dalam penawaran keuntungan bersama di medan perang, ungkap media Inggris Sky News.

Menurut file yang bocor, salah satu bagian dari bentuk kesepakatan itu adalah proses "saling rebut" kota kuno Palmyra.

File-file itu juga menunjukkan bahwa ISIS telah melatih militan asing untuk menyerang sasaran Barat, lebih lama dari yang diduga.

Pembelot menyatakan bahwa kota Palmyra sengaja diserahkan kembali kepada pasukan rezim Assad oleh ISIS sebagai bagian dari rangkaian perjanjian sebelumnya.

Beberapa poin kesepakatan ISIS dan Assad, menurut file, dalam upaya meraih keuntungan tertentu antara keduanya adalah:

1. Kesepakatan dengan rezim Assad agar militan ISIS menarik diri dari kota Palmyra

2. Kesepakatan ISIS-Assad untuk perdagangan minyak yang dibarter pupuk

3. Koordinasi proses evakuasi pada beberapa daerah ISIS "sebelum" tentara rezim menyerang

Semua hal yang terjadi itu tampak telah melalui kesepakatan awal lebih dulu atau memperkuat bukti-bukti adanya main mata antara rezim Assad dan ISIS.

Beberapa pembelot mengakui bahwa mereka meninggalkan ISIS karena perbedaan pendapat internal beberapa petinggi kelompok ekstrimis itu.

Kelompok ekstrimis yang tidak didukung satupun tokoh Ulama Islam ini sangat menekankan Syari'ah (versi ghuluw mereka), "khilafah" dan akan memerangi siapapun yang dianggap musuh.

Meskipun demikian, file-file ISIS yang bocor tersebut masih belum bisa terverifikasi secara kuat.

File tersebut merupakan salinan dari dokumen tulisan tangan yang dikirim dari kantor pusat ISIS.

Satu dokumen mengungkapkan tentang permintaan perjalanan aman bagi sopir untuk melewati checkpoint ISIS "sampai ia mencapai wilayah rezim Suriah untuk penukaran minyak dengan pupuk".

Pembelot mengklaim bahwa hal ini adalah bentuk perjanjian perdagangan antara ISIS-Assad yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sementara sebuah dokumen lain berisi perintah pada seorang komandan "membawa semua peralatan dan senjata ke lokasi evakuasi yang telah disepakati". Karena menerima informasi intelijen bahwa al-Qasr dan sekitarnya akan dibom pada 24 November 2013.

Pembelot mengklaim hal ini sebagai kesepakatan evakuasi antara pihak rezim Assad dan 'negara al-Baghdadiyah'.

Namun dokumen yang paling menarik ditulis sesaat sebelum tentara Assad mengambil kembali kota kuno Palmyra, setelah berbulan-bulan dikuasai ISIS.

"Tarik semua artileri berat dan senapan mesin anti-pesawat di dalam atau di sekitar Palmyra ke provinsi Raqqah", kata dokumen itu.

Pembelot juga mengiyakan tentang penarikan militan ISIS dari wilayah diduduki bisa terjadi dengan lancar melalui koordinasi dengan rezim Suriah, bahkan Rusia

Para pengamat menyatakan bahwa perang Suriah merupakan bentuk perang paling rumit yang pernah terjadi, melibatkan berbagai kubu dan kepentingan masing-masing.

"Ini merupakan perang persepsi dan narasi, dimana semua orang berusaha untuk memanipulasi peristiwa", kata Dr. Afzal Ashraf, dari salah satu lembaga thimk tank.

"Mungkin butuh 20 tahun sebelum kita benar-benar tahu persis apa yang sedang terjadi", tambahnya.

"Hampir pasti akan ada semacam komunikasi yang terjadi diantara musuh, dan itu adalah untuk keuntungan taktis jangka pendek maupun hitungan kerugian. Tentu saja jika ada perdagangan ekonomi terjadi, yang kita tahu ada, akan ada komunikasi", jelasnya.

Namun menurut para pembelot dan warga sipil yang dihubungi oleh Sky News, semua menyatakan bahwa selama berbulan-bulan itu, tidak hanya sekedar komunikasi, tapi juga main mata antar pihak-pihak bersengketa itu. (Sky News)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.