Ilustrasi Israel dan Turki (foto),

Upaya panjang pemulihan hubungan Israel-Turki dikabarkan telah mengalami berarti, klaim seorang diplomat Israel.

Tetapi hal ini masih perlu melewati beberapa putaran perundingan lagi, sedangkan perubahan politik di dalam negeri Turki diyakini tidak akan mempengaruhi proses,

Masalah keamanan menjadi alasan utama memperbaiki hubungan diplomatik yang hancur setelah pembunuhan dan penyerangan militer Israel pada aktivis kemanusiaan di dekat laut Gaza pada tahun 2010.

Kapal yang diserang Israel tersebut berbendera Turki, yaitu Mavi Marvara. Menangkut para aktivis internasional untuk menjebol blokade.

Tentang keamanan kawasan itu, Israel mengaku khawatir dengan perkembangan negara tetangganya, Suriah, dimana Turki juga berbatasan dengannya.

Israel khawatir dengan kelompok jihad maupun ISIS yang telah menguasai beberapa bagian wilayah negara itu. Bagi Israel, isu ini adalah "kepentingan bersama" yang harus diatasi.

Sedangkan pemulihan kerjasama militer Israel-Turki akan membutuhkan waktu lebih banyak.

Ankara membawa tingkat hubungan diplomatik ke titik nadir setelah mengusir duta besar Israel pada 2011, setahun pasca pasukan komando Israel menyerbu kapal kemanusiaan Mavi Marmara.

Kedua belah pihak telah mengisyaratkan adanya upaya pemulihan hubungan diplomatik, dimana Turki menuntut ganti rugi bagi para korban Mavi Marmara dan pelonggaran blokade Gaza oleh Israel.

"Proses rekonsiliasi antara Israel dan Turki telah mendapat momentum kemajuaannya. Kami berharap proses rekonsiliasi tidak akan terpengaruh oleh pergeseran politik di Turki", kata Shai Cohen, konsulat Israel, merujuk mundurnya Perdana Menteri Turki 22 Mei nanti.

Turki dan Israel memiliki kerjasama militer sejak era 1990-an. Menurut Amerika Serikat (AS), hubungan ini penting untuk stabilitas Timur Tengah.

Dan AS telah memandang penuh kehati-hatian sejak Erdogan dan partai AK yang berakar Islamis ini mulai berkuasa sejak tahun 2002.

Selain alasan keamanan,upaya pemulihan ini dipandang Israel sangat penting untuk ekonomi.

"Semua orang menantikan bagaimana Israel bisa mengekspor ke Turki, dan mengekspor gas ke barat melalui Turki", kata Cohen.

Namun Israel justru mengesampingkan isu Gaza dari pembicaraan dengan Turki, meskipun Erdogan berulang kali menuntut pencabutan blokade atas Gaza sebagai syarat pemulihan hubungan.

Erdogan juga berjanji untuk memperjuangkan nasib rakyat Gaza dan Turki akan terus bersama mereka.

Menurut Cohen, pembicaraan kali ini bukan tentang bagaimana Turki bisa memgirim bantuan untuk pembangunan kembali Gaza, yang telah rusak parah oleh blokade dan serangan Israel.

Dimana Israel ingin memastikan bahwa bantuan Turki untuk Gaza tidak untuk mendukung Hamas, yang mereka anggap sebagai "teroris", dan bantuan harus dikoordinasikan di masa mendatang.

Sebelumnya Israel telah menuduh Turki sebagai "tuan rumah" bagi komando operasi Hamas dan menuntut Ankara agar melarang kelompok pejuang Palestina tersebut beroperasi di Turki.

Erdogan sendiri sempat bertemu dengan pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, di Istanbul baru-baru ini pada bulan Desember lalu. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.