2 perempuan Iran "berhaji" (foto), 
Perundingan antara republik Syi'ah Iran dengan Arab Saudi soal haji kembali berakhir tanpa kesepakatan akhir. Delegasi Iran pulang tanpa menandatangani kesepakatan soal pengaturan ibadah haji untuk warganya.

"Delegasi (Iran) meminta untuk pulang tanpa menandatangani kesepakatan soal pengaturan jemaah haji", terang Kementerian Urusan Haji Saudi, seperti dilansir Detikcom dari AFP, Sabtu (28/5/2016).

Perundingan kedua pihak digelar selama dua hari secara ekstensif di Jeddah. Dalam pernyataannya, Kementerian Urusan Haji Saudi mengklaim pihaknya telah menawarkan banyak solusi demi memenuhi serangkaian permohonan yang diajukan delegasi Iran yang tiba di Saudi pada Selasa (24/5).

Menurut Kementerian Urusan Haji Saudi, kesepakatan telah tercapai untuk beberapa hal, termasuk penggunaan visa elektronik yang bisa dicetak sendiri oleh jama'ah Iran, mengingat misi diplomatik Saudi di Iran ditutup.

Sejak Januari lalu, pemerintah Riyadh memutus hubungan diplomatik dengan rezim Teheran, setelah demonstran menyerbu kedutaan dan konsulat Saudi di Iran untuk memprotes eksekusi mati tokoh Syi'ah di Saudi.

Hari Jumat (27/5), Kementerian Urusan Haji Saudi menyatakan bahwa pihaknya bersedia mengizinkan jama'ah Iran mendapatkan visa melalui Kedutaan Swiss yang ada di Teheran, yang mengurusi kepentingan Saudi di republik Syi'ah itu.

Saudi juga mengizinkan sejumlah maskapai Iran menerbangkan jama'ah negaranya, meskipun masih memberlakukan larangan terbang bagi sejumlah maskapai Iran terkait ketegangan 2 negara itu.

"Organisasi Haji Iran akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan rakyatnya atas kegagalan para jama'ah (Iran) melakukan ibadah haji tahun ini. Saudi menolak seluruh (upaya) mempolitisasi haji... dan selalu siap bekerja sama melayani jemaah dan memfasilitasi kedatangan mereka", sebut Kementerian Urusan Haji Saudi.

Jama'ah asal Iran mayoritasnya adalah pemeluk sekte Syi'ah Imamiyah, dimana ajarannya dianggap sesat (dan kufur) oleh para pemuka agama dalam tradisi Muslim (Sunni).
Namun Ulama Saudi yang beraliran Sunni-Wahabi tidak memvonis kafir pada para pemeluk Syi'ah awam asal Iran secara personal, sehingga tetap menerima mereka sebagai pemegang identitas "Muslim", termasuk para pemimpin politik Iran. (AFP/Detik/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.