"Ibukota bom Birmil", Daraya (foto),
Setelah mendapat berbagai desakan internasional beberapa bulan belakangan, rezim Assad setuju memberikan akses bantuan "tidak utuh" bagi ribuan warga sipil yang hidup di bawah pengepungan rezim.

Namun ada satu kota di dekat Damaskus yang tidak pernah disentuh bantuan luar satu kalipun sejak pertama kali dikepung, yaitu kota kecil Daraya.

Daraya yang dikontrol oleh pejuang Sunni lokal ini ibarat "duri dalam daging" bagi Damaskus.

Kota ini adalah salah satu tempat pertama meletusnya demonstrasi damai menentang rezim pada tahun 2011. Dan kemudian menjadi salah satu yang pertama pula mendapat kepungan ketat dari rezim Assad, sejak November 2012.

Meskipun permintaan bantuan telah diserukan oleh para penduduknya (wanita dan anak-anak), oleh PBB dan berbagai kelompok hak asasi, rezim Assad tetap menolak mengizinkan konvoi bantuan bisa masuk ke dalam Daraya.

Sejak gencatan senjata rapuh yang digagas AS-Rusia pada akhir Februari, berbagai upaya bantuan kemanusiaan internasional berhasil meraih sedikit kemajuan untuk mencapai wilayah-wilayah yang dikepung.

Tapi tidak dengan Daraya, tak ada setetes bantuan manusia lain dari luar yang diizinkan masuk.

Yang terbaru adalah penolakan dramatis pada 12 Mei lalu, ketika konvoi bantuan medis dan berbagai hal lain (kecuali makanan) harus memutar balik setelah diusir militer rezim yang mengepung kota itu.

"Rezim menggunakannya, kebijakan 'mengirimkan kelaparan' untuk mencoba merebut kota", kata Bissan Fakih, juru bicara The Syria Campaign, sebuah kelompok advokasi yang fokus dalam suatu konflik.

Daraya adalah halaman depan bagi ibukota Damaskus di sisi barat dayanya, sehingga rezim tidak akan membiarkannya terus dikontrol oposisi.

Kota ini memang hanya berjarak 15 menit perjalanan kendaraan dari pusat Damaskus, bahkan Daraya sangat dekat dengan pangkalan udara Mazzeh yang vital bagi rezim, markas intelijen angkatan udara ditakuti dan sebuah penjara terkenal.

Sebuah sumber yang dekat dengan rezim mengatakan:

"Daraya memiliki tempat khusus di dalam pikiran Assad. Negara (Assad) ingin merebut Daraya, (dan) tidak ingin ada gencatan senjata untuk lokasi yang terlalu strategis itu", ujar sumber itu, seperti dikutip Orient-news.

Diperkirakan masih ada sekitar 8.000 s/d 9.000 warga sipil di kota Sunni pinggiran ibukota itu. Hampir semua dari mereka berada dalam kondisi kelaparan dan gizi buruk.

Sementara pejuang oposisi lokal hanya berjumlah sekitar seribu orang, namun sangat gigih mempertahankan kota ini selama bertahun-tahun.

Dalam pertempuran hari Senin, oposisi berhasil memukul mundur serangan Assad dan menewaskan puluhan loyalis rezim.

Daraya juga dijuluki sebagai "Ibukotanya bom Birmil", merujuk sudah tak terhitung lagi bom Birmil yang dijatukan ke sana, sehingga membuat kota hancur lebur. Bom ini adalah drum/barrel yang diisi bahan peledak lalu dijatuhkan bebas dari helikopter. (Orient-news/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.