Sisa-sisa bom cluster (foto),
Saat ini Yaman berada dalam fase gencatan senjatan dan perundingan damai antara pemerintah dengan pemberontak Syi'ah Houthi. Membuat konfrontasi jauh menurun di seluruh negeri.

Kebanyakan warga sipil di wilayah Houthi mulai kembali ke rumahnya di daerah Yaman utara setelah hampir satu tahun konflik.

Meski kekerasan telah menurun, menurut Amnesty International resiko cedera dan kematian warga sipil masih menghantui, akibat tersebarnya ribuan bagian bom cluster yang belum meledak.

Amnesty mengklaim laporan ini setelah melakukan penelitian selama 10 hari di provinsi Sa'da, Hajjah, dan ibukota Sana'a, yang merupakan sasaran serangan udara karena dikuasai pemberontak Syi'ah.

Bantuan internasional sangat dibutuhkan untuk membersihkan wilayah-wilayah yang terkontaminasi bagian-bagian bom.

Lembaga pengusung HAM yang bermarkas di London ini juga mendesak militer koalisi pimpinan Saudi Arab agar menghentikan menggunakan bom cluster yang dilarang secara internasional karena dampak penghancuran acaknya.

"Bahkan setelah pertempuran mereda, kehidupan sehari-hari warga sipil, termasuk anak-anak, terus berada di ladang ranjau yang nyata. Mereka belum bisa hidup dengan aman hingga daerah yang terkontaminasi, baik di dalam maupun sekitar pemukiman atau ladang mereka diperiksa serta dibersihkan dari bom cluster dan sisa artileri berbahaya lainnya yang belum meledak", kata Lama Fakih, penasehat senior di Amnesty International.

Di Yaman utara, Amnesty mengaku telah menemukan bukti adanya bom cluster buatan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Brasil yang digunakan oleh militer koalisi.

Amnesty mewawancarai sebanyak 30 orang narasumber, diantaranya adalah korban pecahan bom cluster atau bagian artileri (yang baru meledak), keluarga korban, saksi mata, ahli anti ranjau, aktivis dan responden awal kejadian.

Sebanyak 10 kasus telah dicatat, dimana sebanyak 16 warga sipil terluka atau tewas oleh bom cluster pada Juli 2015 hingga April 2016.

Termasuk sembilan korban anak-anak, dua diantaranya tewas. Korban jatuh setelah selang waktu hari, minggu, dan kadang-kadang bulan setelah bom dijatuhkan oleh militer koalisi di Yaman.

Sampai saat ini, koalisi yang dipimpin Saudi Arab belum secara resmi mengkonfirmasi penggunaan bom cluster.

Dalam sebuah wawancara pada bulan Januari 2016, juru bicara militer koalisi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, membantah bahwa koalisi telah menggunakan bom cluster dalam serangannya di Yaman, kecuali dalam satu contoh serangan.

Yaitu penggunaan CBU-105 Sensor Fuzed Weapon (sejenis bom cluster buatan AS) yang khusus menyasar target militer di provinsi Hajjah pada bulan April 2015. 

Saudi sendiri dan banyak negara lainnya, seperti Amerika Serikat, Rusia, dll, bahkan Yaman sendiri tidak meratifikasi konvensi pelarangan bom cluster. (AI)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

1 comments so far,Add yours

  1. Amnesty International sampah.... bagaimana dengan rezim assad sessaaat??????

    ReplyDelete

Note: only a member of this blog may post a comment.