Daurah yang diselenggarakan oleh Majelis Dakwah dan Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dari Rabu hingga Jum'at (4-6/5/2016) di Jakarta berlangsung lancar.

Seperti dilansir FokusIslam, 150 peserta mendengarkan materi yang diampaikan Syaikh Ali bin Abdullah al-Amary dengan antusias. Ulama muda asal Arab Saudi ini menjelaskan materi dengan bahasa Arab fusha, panjang lebar membahas tentang kesesatan akidah Syi'ah ditimbang dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Diakhir sesi, Syaikh Ali mengingatkan kembali akan bahaya Syi'ah, dan umat Islam hendaknya tidak terkecoh dengan tipu daya Iran, yang notabene adalah negara Syi'ah.

“Banyak yang tertipu dengan sikap Iran kepada Israel. Seolah Iran sangat memusuhi Israel", kata beliau.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Iran hanyalah sebuah sandiwara belaka, tak pernah bisa dibuktikan.

“Sudah puluhan tahun Iran mengancam akan menghancurkan Israel, tapi nyatanya tak ada satu rudal pun yang ditujukan kepada Israel”, kritik Syaikh Ali.

Sikap Iran yang terlihat berani kepada Israel, membuat banyak orang tertipu sehingga banyak yang mendukung Iran.

“Negara Syi'ah Iran banyak disanjung oleh umat Islam. Masih banyak yang belum tahu hakikat Syi'ah”, tegas Syaikh Ali.

Selama ini Iran mengaku sebagai negara Islam yang menerapkan syariat dan ajaran Islam. Padahal itu hanya klaim belaka.

“Iran adalah negara Syi'ah, bukan negara Islam. Syi'ah mengambilnya dari Persia dan Persia itu Majusi”, jelas Syaikh Ali.

Syaikh Ali mengatakan bahwa klaim Iran sebagai negara Islam termentahkan dengan fakta bahwa di Teheran (ibukota Iran) tak ada masjid Ahlussunnah yang berdiri.

“Satu-satunya ibukota negara di dunia yang tidak berdiri masjid Ahlussunnah yaitu di Teheran. Kalau muslim Sunni mau sholat biasanya datang ke kantor Kedubes Saudi atau Pakistan", ungkapnya.

Syaikh Ali juga menegaskan bahwa Syi'ah, selain rusak dalam hal akidah, juga sangat memusuhi Ahlussunnah.

“Ketika kekuatan Syi'ah disebuah negeri masih kecil, mereka pura-pura berbaik hati. Tetapi jika sudah besar maka akan membantai Ahlussunnah”, tegas Syaikh Ali.

Syaikh Ali memberikan contoh kejadian tersebut di Irak. “Lihatlah apa yang terjadi di Irak. Di sana, pada masa Abbasiyah, jadi pusat peradaban muslim Ahlussunnah, tapi sekarang telah dikuasai Syi'ah dan kemudian Ahlussunnah hidup dalam tekanan”, jelas Syaikh Ali.

Selain Irak, Syaikh Ali juga menyebut Suriah, negeri yang kini sedang ditimpa duka nestapa peperangan panjang.

“Lihatlah di Suriah, Ahlussunnah banyak dibunuh seperti dikota Madaya dan lain-lain", imbuhnya.

Tentang adanya taqrib atau pendekatan antara Ahlussunnah dan Syi'ah, Syaikh Ali menganggapnya sebagai isapan jempol belaka.

“Bagaimana bisa ada taqrib, sementara mereka mengkafirkan Abu Bakar, Umar dan sebagian besar sahabat nabi. Dahulu Syaikh Yusuf Qardhawi mendukung upaya taqrib ini tapi kemudian beliau meralatnya karena tahu hakikat Syiah sebenarnya”, jelas Syaikh Ali.

Syi'ah telah mengkafirkan sebagian besar sahabat nabi, padahal jumlah sahabat nabi lebih dari 100 ribu orang.

“Lebih dari 100 ribu sahabat nabi, Syi'ah meyakini sebagian besar sahabat nabi murtad, menganggap yang beriman hanya sebagian saja diantaranya Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Ali bin Abi Thalib”, ujar Syaikh Ali.

Menurut Syaikh Ali, Syi'ah sama saja telah menganggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam gagal dalam mendidik umat, karena sahabat adalah orang yang mendampingi dan belajar langsung kepada nabi.

Sementara itu, perwakilan peserta daurah yang menyampaikan testimoni penutupan, Ustadz Muhammad Said Abdusshomad, mengatakan bahwa dirinya sangat senang bisa mengikuti acara ini.

Untuk mengatasi Syi'ah di Indonesia, kata beliau, bisa dengan cara melakukan sosialisasi buku panduan yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang penyimpangan Syi'ah.

“Buku panduan dari MUI itu dijelaskan kepada masyarakat seluas-luasnya”, kata ustadz Said.

Selain buku dari MUI, hendaknya ada sebagian da’i yang membaca buku-buku karya tokoh Syi'ah Indonesia, Jalaludin Rakhmat, untuk diteliti karena didalamnya banyak terkandung ajaran-ajaran Syi'ah.

“Bukunya Jalaludin Rakhmat berjudul Islam alternatif, di sana jelas sekali Jalal menampakkan akidah Syiah imamiyah yang berkeinginan untuk mendirikan negara di atas negara”, papar Ustadz Said.

Karna itu, lanjut beliau, dengan modal dua buku tadi sebenarnya umat Islam sudah punya bekal untuk menghadang gerakan Syi'ah di Indonesia.

“Bawa buku-buku tersebut dan laporkan ke DPR dan kepolisan”, tutup Ustadz Said. (Fokus Islam)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.