Sebuah acara pemakaman korban penembakan
Pemerintah India memberlakukan jam malam di beberapa bagian wilayah administrasi Kashmir untuk mencegah munculnya demonstrasi baru, menyusul kematian empat orang di tangan tentara India.

Jatuhnya korban terakhir terjadi pada hari Rabu kemarin ketika seorang pria terkena gas air mata yang ditembakkan pasukan keamanan di pedesaan utara Drugmulla, Kashmir India.

Korban adalah bagian dari ratusan demonstran yang melemparkan batu dalam bentrok dengan pasukan India pada hari kedua diberlakukannya jam malam di Srinagar, Handwara, dan desa-desa sekitarnya.

"Kami menerapkan larangan (jam malam) di kota tua Srinagar dan di Handwara untuk mencegah berkembangnya kekerasan", ujar seorang pejabat Kepolisian, K Rajendra, kepada kantor berita AFP.

Seorang warga dari Handwara mengatakan bahwa bentrokan masih berlanjut sepanjang hari, sedangkan toko-toko dan sekolah ditutup, serta jalan-jalan sepi.

Sementara menurut sebuah sumber medis, ada sekitar 20 orang yang dirawat akibat gas air mata.Mehbooba Mufti, yang menjabat sebagai Menteri Kepala negara bagian Jammu dan Kashmir, mengatakan pembunuhan akan berdampak negatif pada upaya perdamaian di wilayah tersebut.

Seorang wanita tua berusia 70 tahun dilaporkan meninggal di rumah sakit pada hari Rabu., ia terkena tembakan dan termasuk dari puluhan korban terluka akibat bentrokan antara warga dengan pasukan India di hari Selasa. Sedangkan dua orang lainnya juga terbunuh karena tembakan tentara.

Protes dan bentrokan di kota Handwara mulai pecah pada Selasa setelah penduduk menuduh seorang tentara India melakukan pelecehan seksual terhadap gadis setempat.

Sementara pihak kepolisian mengklaim bahwa berdasar laporan awal tidak ada bukti kejadian pelecehan tersebut. Polisi juga menuduh ada upaya provokasi untuk mengacaukan wilayah itu.

Pihak militer, kepolisian dan pejabat pemerintah India, mewaspadai kasus pembunuhan bisa meningkatkan konflik di wilayah yang masih bergejolak itu, dan memerintahkan penyelidikan atasnya.

"Insiden ini akan diselidiki dan siapa saja yang terbukti bersalah akan sangat ditindak", kata komandan militer India, Jenderal DS Hooda, dalam sebuah pernyataan.

Namun menurut kelompok-kelompok HAM setempat, penyelidikan jarang memberikan hasil nyata apapun dan sering dilakukan hanya untuk menenangkan kemarahan publik.

Inspektur Jenderal Polisi Syed Javaid Mujtaba Gillani, menjelaskan bahwa awalnya tentara menembaki demonstran ketika mereka mencoba membakar sebuah bunker.

Kemudian tak lama setelah pemakaman wanita, kerusuhan kembali pecah karena warga menolak pemberlakuan jam malam. Pemrotes melempar batu ke arah pasukan India, yang menanggapinya dengan menembakkan gas air mata.

"Ia (wanita korban) bekerja di kebun 4 km jauhnya dari lokasi protes. Para tentara datang dan menembaknya. Ini adalah pembunuhan", kata seorang warga bernama Ghulam Mohammed Shah.

Pada hari Rabu, ratusan orang berkumpul di acara pemakaman dua orang pemuda yang ditembak aparat dan meneriakkan slogan anti India, "Pergilah India" serta "Kami inginkan kemerdekaan".

Kelompok pro-pemisahan diri yang menentang pendudukan India atas Kashmir menyerukan pemogokan massal pada hari Kamis dan dilanjut protes anti India keesokan harinya.

Sentimen anti India masih sangat kuat diantara penduduk Kashmir yang mayoritas Muslim. Bahkan kelompok HAM sejak lama menuduh militer India sengaja menggunakan pemerkosaan dan pelecehan seksual untuk mengintimidasi penduduk lokal.

Wilayah tradisional Kashmir terbagi, dengan kontrol India dan Pakistan sejak perginya penjajah Inggris pada tahun 1947, namun wilayah tersebut terus disengketakan oleh kedua negara.

Sebuah resolusi lemah PBB telah menyerukan bahwa penduduk Kashmir lah yang berhak menentukan nasibnya sendiri, namun tak pernah dilaksanakan hingga saat ini.

Di Kashmir India yang berpenduduk mayoritas Muslim selama bertahun-tahun terus terjadi upaya pemisahan diri dari, dimana hal tersebut didukung oleh Pakistan.

Ratusan ribu tentara India dikerahkan di wilayah Kashmir, membuatnya menjadi salah satu zona paling termiliterisasi di dunia. Militer mendapat kekebalan terhadap tuntutan pengadilan sipil kecuali secara khusus diizinkan oleh pemerintah New Delhi. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.