Jubir Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin
Juru bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, menggambarkan rezim Suriah sebagai pihak yang tidak tulus dalam mendukung upaya pembicaraan damai yang disponsori PBB.

Berbicara pada hari Senin (11/4) di Ankara, Ibrahim Kalin mengatakan bahwa serangan militer rezim yang terus terjadi dan belum dicabutnya pengepungan di berbagai kota, menjadi bukti jika rezim Suriah tidak punya itikad baik untuk mengakhiri kekerasan dan memulai proses transisi politik.

Pernyataan itu disampaikan Kalin untuk menjawab pertanyaan wartawan mengenai kabar rezim Suriah akan melakukan operasi militer di Aleppo dengan dukungan Rusia.

Ia juga menyebutkan tentang putaran perundingan berikutnya, yang menentukan proses transisi politik di Suriah, akan dilanjutkan di Jenewa pekan ini.

"Kami melihat bahwa rezim dan pendukungnya secara terus-menerus tidak ingin melangkah ke arah proses transisi politik", ujarnya.

"Di satu sisi, anda sedang mencari bentuk kesepakatan yang didukung dunia internasional agar 'kekerasan berhenti', tapi di sisi lain, anda (justru) melanjutkan operasi militer di Aleppo, Idlib dan daerah lainnya dengan alasan 'kami sedang melawan ISIS'. Adalah tidak mungkin untuk menerima sikap seperti ini", kritik Kalin terhadap rezim Suriah.

Kemungkinan gelombang pengungsi baru akibat serangan Assad
Kalin juga mengatakan jika Ankara memiliki kekhawatiran tentang potensi gelombang pengungsi baru dari Aleppo akibat serangan militer Assad dan sekutunya.

Dimana orang-orang yang melarikan diri dari kota itu menjadikan Turki sebagai "tujuan penampungan terdekat".

Menurut Kalin, Turki tidak menginginkan munculnya krisis kemanusiaan baru dari gelombang pengungsi yang berbondong-bondong melarikan diri, seperti telah terjadi baru-baru ini.

"Kemampuan dan infrastruktur Turki sanggup untuk itu (masuknya pengungsi baru). Tapi hal ini bukanlah yang kita inginkan. Kami berharap perkembangan di lapangan tidak memunculkan akibat seperti itu", lanjutnya.

Suriah jatuh dalam perang mematikan sejak tahun 2011, ketika militer rezim Basyar al-Assad membantai pengunjuk rasa damai untuk mengakhiri kediktatoran klan Assad selama 40 tahun.

Menurut perkiraan PBB, lebih dari 250.000 orang telah terbunuh, sementara hampir setengah penduduk Suriah menjadi pengungsi. Lebih dari 4 juta orang mengungsi ke luar negeri, separuhnya ditampung oleh Turki. (Anadolu Agency/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.