Anak-anak dan kehancuran kota Daraya
Angkatan udara Rusia dan militer rezim Suriah dilaporkan tengah mempersiapkan operasi bersama untuk merebut wilayah Aleppo dari pejuang oposisi.

Perdana menteri Suriah menyatakan hal tersebut pada hari Minggu, sementara seorang petinggi oposisi menyebut bahwa gencatan senjata yang saat ini berlaku berada di ujung tanduk.

Gencatan senjata mulai berlaku pada akhir Februari dengan tujuan untuk membuka lagi kemungkinan solusi politik melalui perundingan untuk mengakhiri perang panjang lima tahun. Meskipun kedua pihak tetap bersikeras menolak kompromi.

Assad tidak mau mundur dari kekuasaannya, sementara oposisi menginginkan pemerintahan transisi untuk proses politik dengan menjungkalkan dahulu Assad dari kantornya.

Gencatan senjata telah banyak dilanggar, masing-masing pihak menyalahkan yang lain atas pelanggaran. Aleppo selatan dan Latakia utara menjadi tempat pertempuran sengit.

Serangan udara dilaporkan terus terjadi ke pemukiman sipil di wilayah oposisi. Pada akhir maret lalu, pesawat rezim Assad mengebom sebuah sekolah di Deir Ashafir, Ghouta, dekat Damaskus, sehingga membunuh puluhan anak-anak beserta gurunya.

Blokade di berbagai kota juga tetap terjadi oleh militer rezim, salah satu tempat yang tidak terjangkau bantuan apapun adalah kota Daraya, dekat Damaskus.

Sekutu asing Assad, seperti Rusia dan Iran telah mengindikasikan keinginan mempertahankan rezim Suriah saat ini. Iran mendukung Assad agar bisa terus "terlibat di Suriah masa depan", suatu opsi yang tidak diinginkan oleh oposisi.

Perdana Menteri Suriah, Wael al-Halaki, ketika mengunjungi parlemen Rusia mengklaim bahwa pihaknya tengah melakukan persiapan untuk "membebaskan" seluruh kota Aleppo, kota terbesar Suriah dan pusat ekonomi sebelum revolusi meletus pada tahun 2011.

Kota metropolitan Aleppo terbagi menjadi 2 kawasan yang dikendalikan terpisah oleh rezim dan oposisi. Wilayah kota yang dikontrol oposisi hampir hancur lebur oleh pengeboman berat selama bertahun-tahun.

"Kami, bersama mitra kami Rusia, tengah mempersiapkan operasi untuk 'membebaskan' Aleppo dan mengalahkan semua kelompok bersenjata ilegal yang tidak bergabung atau telah melanggar kesepakatan gencatan senjata", ujarnya dikutip kantor berita Tass.

Dmitry Sablin, anggota dari majelis tinggi parlemen Rusia, mengatakan kepada kantor berita RIA bahwa AU Rusia akan "membantu militer Suriah dalam operasi serangan".

Sejak dimulai gencatan senjata akhir Februari, kekerasan memang relatif menurun di beberapa wilayah Suriah. Oposisi memanfaat momen itu untuk merebut banyak wilayah dari ISIS di Aleppo dan Dara'a.

Tetapi pertempuran oposisi dengan rezim sebenarnya kerap terjadi. Jabhah Nushrah (al-Qaeda Suriah) yang tidak masuk daftar gencatan senjata dan merupakan sekutu oposisi, digunakan sebagai kelompok yang terus melawan tentara Assad. Bahkan beberapa faksi pejuang oposisi lain dilaporkan mulai ikut ambil bagian dalam pertempuran.

Selama seminggu terakhir, saat Rusia mengendurkan keterlibatan, pasukan rezim mengalami berbagai kekalahan di front Aleppo selatan dan Latakia. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.