Suasana pertempuran bulan Maret lalu
Taliban mengumumkan dimulainya operasi besar musim semi untuk menjungkalkan pemerintah Kabul yang didukung asing, pada hari Selasa (12/4) ini.

Kelompok Islamis yang diakui sebagai pemberontak Afghanistan ini berjanji akan meluncurkan serangan besar-besaran terhadap posisi pemerintah dengan didukung serangan berani mati dan kemampuan gerilya.

Pengumuman Taliban tentang "Operasi Omari" (dinamai dengan nama pendiri Taliban, Mullah Mohammad Omar), tiba hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry, mengunjungi Kabul dan menegaskan kembali dukungan AS bagi pemerintah Afghanistan di bawah Presiden Ashraf Ghani.

"Jihad melawan tentara agresor dan penjajah Kafir adalah suatu kewajiban suci di leher kita, dan menjadi satu-satunya jalan untuk memulihkan sistem Islam serta meraih kembali kemerdekaan kita", kata Taliban dalam sebuah pernyataannya.

Kelompok pemberontak ini telah berhasil memperoleh kemajuan signifikan dan menjadi makin kuat pasca penarikan pasukan internasional dari Afghanistan pada akhir 2014. Taliban sendiri dijungkalkan dari kekuasaan Kabul oleh invasi AS pada tahun 2001.

Operasi Taliban mencakup penargetan komandan musuh di pusat-pusat perkotaan. Dengan aksi berani mati dan serangan taktis.

"Dalam operasi ini juga akan dikerahkan semua sumber daya yang kami miliki untuk memukul musuh dalam pertempuran sehingga menjatuhkan moral tempur para agresor asing dan milisi bersenjata mereka", kata pernyataan itu.

Seperti pernyataan sebelumnya, Taliban menyatakan akan membangun pemerintahan yang baik di daerah kekuasaannya serta berjanji untuk menghindari korban sipil dan meminimalisir kerusakan infrastruktur.

Belum bisa dipastikan sebesar apa konfrontasi yang akan terjadi setelah pengumuman Taliban, namun NATO dan pejabat Afghanistan memprediksi tahun 2016 akan terjadi "pertempuran yang sulit".

Pertempuran sengit terus berlangsung di Afghanistan dalam beberapa bulan belakangan. Seperti di kota Kunduz yang sempat jatuh ke tangan Taliban tahun lalu, juga pertempuran di provinsi Helmand di dekat perbatasan Pakistan.

Dalam pertempuran Helmand dengan Taliban, ribuan tentara Inggris dan Amerika telah tewas atau terluka, sementara pasukan pemerintah mundur dari beberapa daerah serta terus berupaya mempertahankan lokasi penting di sekitar ibukota provinsi, Lashkar Gah.

Pasukan Afghanistan mengalami penurunan kekuatan, banyak korban jiwa yang jatuh dan tingginya angka desersi (pembelotan). Ditambah rendahnya dukungan udara, transportasi dan logistik.

Menurut seorang komandan militer NATO, Taliban mengontrol efektif hanya enam persen dari Afghanistan, tetapi sekitar sepertiga wilayah negara itu rawan jatuh pada pemberontak, sedangkan pasukan pemerintah hanya menguasai efektif tidak lebih dari 70 persen wilayah. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.