Ilustrasi jabat tangan (foto)
Swiss telah menghentikan proses pengakuan kewarganegaraan (naturalisasi) bagi sebuah keluarga pengungsi Suriah, karena 2 anak laki-laki dari keluarga itu menolak berjabat tangan dengan guru perempuannya dengan alasan bukan mahram.

Kasus itu telah memicu perdebatan publik tentang kebebasan beragama di Swiss.

2 bersaudara, masing-masing berusia 14 dan 15, adalah anak dari seorang pengungsi Suriah yang mendapat suaka politik pada tahun 2001. Kepada seorang pejabat pendidikan di Therwil, keduanya menyatakan jika bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada hari Selasa, pihak berwenang di wilayah Basel, menjelaskan bahwa proses naturalisasi bagi keluarga itu telah dihentikan, sebagaimana keadaan lain jika pihak berwenang memerlukan tambahan informasi sebagai alasan untuk memproses lebih lanjut.

Kedua anak itu telah dibebaskan dari tradisi murid-murid Swiss yang bersalaman dengan para gurunya. Namun uniknya, para pejabat di Therwil juga meminta mereka agar melakukan hal serupa pada guru laki-laki, alasannya untuk menghindari "diskriminasi gender".

Tetapi kompromi tradisi bagi kedua murid tersebut ditanggapi panas oleh para politisi Swiss, termasuk Menteri Kehakiman Simonetta Sommaruga, yang bersikeras bahwa "bersalaman adalah budaya Swiss".

"Saya kira kita tak bisa membahas tentang penyatuan hubungan dengan penolak jabat tangan. Secara pribadi, saya akan menolak permintaan (kewarganegaraan) mereka. (Namun) sebagai presiden komite, saya memastikan bahwa permintaan akan diurus dengan benar, seperti yang lainnya", ujar Georges Thuring, ketua Komite lokal yang mengawasi pengajuan kewarganegaraan.

Dua siswa itu tetap berpegang teguh pada prinsipnya, dimana mengharuskan mereka untuk berjabat tangan dengan guru (perempuan) dianggap sebagai pemaksaan dan diskriminatif.

"Tidak ada yang bisa memaksa kami untuk bersalaman (dengan perempuan)", kata salah satu dari mereka.

Diperkirakan ada 350 ribu penduduk Muslim di Swiss dari keseluruhan populasi yang berjumlah delapan juta jiwa.

Sebelumnya, kasus mirip terjadi ketika orang tua Muslim menuntut agar anak perempuannya dibebaskan dari pelajaran berenang dengan alasan keyakinan.

Warga Muslim juga dijamin oleh pengadilan Swiss, setelah memenangkan gugatan terhadap sekolah yang melarang semacam pentup wajah. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.