Masjid di Malaysia (foto),
Sebuah survei yang dilakukan di 10 negara dengan populasi Muslim tinggi, menemukan perbedaan mencolok dari tiap tempat tentang pandangan mereka mengenai pernyataan "hukum negara harus sesuai dengan Al-Qur'an secara ketat".

Survei ini dilakukan oleh Pew Research Center, dengan sampling 10.000 orang Muslim maupun non-Muslim (kafir) di berbagai negara pada tahun 2015 lalu. Hasil survei memiliki margin error sekitar 3,4 - 4,3 persen.

Beberapa faktor yang dinilai mempengaruhi variasi hasil di tiap negara antara lain adalah latar belakang (sejarah) negara, komposisi agama (demografi), faktor-faktor individu seperti tingkat ketaatan Islam, usia dan tingkat pendidikan.

Ada empat negara yang lebih dari setengah responden (mayoritas) menyatakan setuju bahwa hukum negara secara ketat harus mengikuti syari'at Islam.

Keempat negara tersebut adalah Pakistan, Palestina, Yordania dan Malaysia.

Responden Pakistan, yang negaranya menggunakan nama "republik Islam", memiliki persentase tertinggi. Dimana sebanyak 78 persen mendukung syari'at.

Sedangkan Turki, yang mayoritas mutlak penduduknya adalah Muslim justru hanya 13 persen responden saja yang setuju. Negara ini memang menganut sistem sekuler keras selama 90 tahun.

Di Nigeria, Turki, Burkina Faso, Indonesia, Lebanon dan Senegal, mereka yang berpendidikan lebih tinggi memiliki tingkat kesetujuan lebih rendah pada pernyataan.

Sementara para responden non-Muslim jauh lebih kecil minatnya untuk mendukung gagasan Al-Qur'an sebagai sumber hukum utama negaranya.

Misalnya di Nigeria, dengan komposisi Islam-Kristen nyaris seimbang. Sebanyak 52 persen Muslim setuju, tapi hanya 2 persen responden Kristen yang setuju dengan pernyataan tersebut.

Pada beberapa wilayah, dukungan terhadap gagasan hukum negara harus sesuai dengan Al-Qur'an telah meningkat, meskipun meski hasil survei ini tidak mengungkap alasannya.

Palestina,misalnya, dukungan naik hampir dua kali lipat dari data survei sebelumnya. Jika tahun 2011 hanya 36 persen yang mendukung, maka menjadi 65 persen pada tahun 2015.

Di Nigeria, rata-rata dukungan juga naik sebesar delapan poin, menjadi 27 persen (gabungan responden Muslim dan bukan).

Sementara data di Yordania menunjukkan 18 poin sejak 2012, menjadi hanya 54 persen yang setuju dengan pernyataan. (Associated Press/Arabnews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.