Anggota ISIS (foto)
Ini merupakan kelanjutan korespondensi langsung dr. Henri Perwira Negara, dengan seorang pemuda bernama Waliyudin asal Eropa. Ia seorang mualaf dari negara Polandia yang hijrah ke Suriah namun kemudian bergabung dengan Khawarij.

Korespondensi berlangsung di tahun 2014 hingga awal 2015. Awal 2014 adalah saat dimana kelompok ekstrimis (ghuluw) ini mulai membuka konflik besar dengan semua kelompok lain di Suriah yang menolak tunduk pada Ibrahim al-Baghdadi, hingga akhirnya di pertengahan 2014 mengklaim diri sebagai "Khalifah".

Jika pada bagian pertama (Lihat: Dokter Indonesia berdialog dengan anggota ISIS) dialog terjadi secara langsung di wilayah Aleppo, maka bagian kedua ini Waliyudin berkomunikasi dengan dr. Henri melalui pesan Facebook.

Saat masih di Aleppo, gelagat Waliyuddin menunjukkan kemantapan untuk segera bergabung dengan ISIS. Membuat petinggi katibah (grup tempur) di tempat itu dan para anggotanya menasehatinya agar mengurungkan niat tersebut.

Namun, tekadnya sudah terlalu bulat, semua nasehat-nasehat tersebut diabaikannya begitu saja.

Maka petinggi katibah berganti menasehatinya agar jangan sembarangan membunuh seseorang, sampai jelas perkaranya sesuai dalil dengan pemahaman Salafush Shaleh, apakah seseorang (yang dituduh murtad dan akan dibunuhnya) itu Muslim atau bukan.

Waliyudin berpamitan kepada orang-orang di katibah itu. Ia pergi meninggalkan mereka untuk menggabungkan diri dengan ISIS.

Rupanya ia tidak sendirian, Waliyudin ditemani seorang penduduk Suriah lain menuju wilayah yang dikuasai oleh Daulah al-Baghdadiyah di sisi lain negeri.

"Selang beberapa waktu setelah kepergiannya, saya mencoba menghubunginya via FB. Mencari tahu kondisinya dan rekan-rekannya sesama Khawarij", jelas dr. Henri dalam akun pribadinya.

Berikut screenshoot dialog tersebut:





Waliyudin membujuk dr. Henri agar segera bergabung dengan ISIS di daerah al-Bab, Aleppo. Menurutnya ISIS adalah "Kekhalifahan Islam" yang sudah tegak.

Selain itu, vonis membabi buta muncul darinya. Pada gambar 2, Waliyudin memvonis kota Idlib sebagai "kota Demokrat", padahal tidak ada Demokrasi di sana.

Ia juga memvonis para pejuang di Idlib bukan sebagai Mujahidin, dan hanya kelompok ekstrimis ISIS yang dianggap telah "berjihad". Bahkan tugas seorang dokter pun tidak diakui jika di luar naungan Khawarij.

Logika takfir yang digunakan oleh Waliyudin adalah menggunakan keberadaan salah satu tokoh oposisi Jamal Ma'rouf (pemimpin SRF saat itu), untuk mengkafirkan kota dan penduduknya. Saat itu ISIS belum terang-terangan mengkafirkan semua kelompok, termasuk Jabhah Nushrah (al-Qaeda).

Bagi kelompok lain, terutama faksi Islamis dan Jabhah Nushrah (JN), beberapa komandan lapangan SRF memang dikenal reputasinya sebagai pelaku kriminal dan penyerangan/penculikan pada orang asing. SRF di Idlib akhirnya dihancurkan oleh JN.

Pada gambar 6, sebagaimana pendukung ISIS lainnya, Waliyudin meyakini secara mutlak bahwa wilayah yang dikuasai oleh militan Khawarij "sebagai negeri Islam padahal sepantasnya adalah negeri Khawarij", kata dr. Henri.

Logika takfir ala Khawarij ISIS
Salah satu metode pengkafiran yang diterapkan oleh kelompok ekstrimis/Khawarij (Anjing-Anjing neraka) adalah dengan melebih-lebihkan suatu kesalahan, lalu diarahkan menjadi alasan untuk mengeluarkan seseorang atau suatu kelompok dari agama Islam dan menjadi dalih untuk membunuh mereka.

Misalnya penggunaan istilah "demokrasi" dan "nasionalisme" sebagai tuduhan sepihak untuk mengkafirkan. Dimana maksud istilah-istilah itu seperti dipahami seperti keinginan ISIS, lalu dipaksakan telah dilakukan oleh orang yang dituduhkan.

Istilah "demokrasi" maupun "nasionalisme" dipandang ISIS sebagai representasi agama lain atau kemusyrikan yang tak bisa ditolerir.

Padahal istilah ini memiliki padanan dengan sistem kekuasaan autokrasi absolut oleh Abu Bakar al-Baghdadi dan fanatisme pada kepemimpinannya (seorang tokoh yang tidak dikenal/majhul).

Istilah-istilah seperti ini memang tidak dikenal oleh Islam. Pengkultusan bisa menjadikannya sebagai Thaghut, sementara upaya "mengislamkannya" (cocoklogi dalil) bisa menjadi bid'ah. Atau ada yang hanya sekedar dipakai dalam retorika politik, atau lips service dengan alasan darurat.

ISIS muncul dengan ciri fasisme akut, tidak akan menerima perbedaan pendefinisian dan memberi uzur pada sesuatu yang dianggapnya sebagai kesalahan.

Ciri lain dari metode takfir sesat Khawarij adalah tuduhan berefek berantai untuk memurtadkan seseorang dan menghalakan darah.

Contohnya adalah pengumuman rekaman audio tokoh Khawarij al-Adnani (jubir ISIS) pada tahun 2015, bahwa menyerang ISIS disebut sebagai bentuk kekafiran.

Alasan al-Adnani adalah klaim bahwa "ISIS satu-satunya yang menerapkan syari'at", sehingga merebut wilayah ISIS yang diklaim "menerapkan syari'at" dianggap sebagai kekafiran, karena al-Adnani menuduh perebutan wilayah itu akan mencabut syari'at atau menerapkan "hukum buatan manusia". (Risalah)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.