Militan AQAP memperluas pengaruh di Yaman
Kelompok militan 'jihadis Yaman' yang berafiliasi dengan al-Qaeda, atau dikenal dengan Ansharusy Syari'ah (AQAP), dianggap telah mengambil keuntungan besar akibat fokus operasi militer di negara itu yang ditujukan kepada pemberontak Syi'ah Houthi.

Para pengamat Barat menyebut AQAP mulai merintis miniatur negara versinya di beberapa wilayah Yaman yang telah dikuasai mereka.

AQAP dilaporkan berhasil meraup jutaan Dollar dari berbagai bank yang disita, pendapatan mengendalikan izin pelabuhan dan mengontrol provinsi kaya Hadramaut dengan ibukota Mukalla.

Metode kelompok ini dinilai memiliki kesamaan dengan ISIS saat pertama kali merintis "negara di Irak dan Suriah". Dimana kala itu ISIS berhasil hidup hingga berkembang memanfaat kota Mosul di Irak serta Raqqah di Suriah sebagai modal menghidupi organisasi.

Bedanya, AQAP bersedia berbagi kekuasaan dengan tokoh-tokoh penting suku setempat. Sedangkan ISIS memaksakan kekuasaan Abu Bakar al-Baghdadi sehingga memunculkan vonis kafir dan pembunuhan terhadap kelompok lain yang menolak tunduk.

Mukalla adalah ibukota provinsi Hadramaut dan merupakan kota pelabuhan penting di tenggara Yaman. Kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa ini telah jatuh ke tangan al-Qaeda ketika kontrol militer pemerintah di sana melemah untuk melawan Houthi.

AQAP merebut kota ini pada bulan April 2015. Kelompok militan jihadis ini berupaya merintis pengelolaan anggaran mereka, kegiatan sosial untuk menarik minat masyarakat, menghapus pajak serta pendapatan dari dari izin pelabuhan hingga pungutan hasil sumber daya alam.

Pemerintah Yaman menyebut kelompok tersebut telah meraup USD 1,4 juta dari perusahaan minyak dan gas di provinsi Hadramaut. AQAP juga mendapat USD 2 juta dari penarikan bea masuk barang-barang ke pelabuhan setiap hari, serta menyita USD 100 juta dari bank Mukalla.

Ada sekitar 1.000 anggota AQAP di Mukalla saja, menguasai sekitar 600 km persegi wilayah. Kelompok yang masuk dalam daftar teroris oleh negara-negara Arab maupun Barat ini dipandang sebagai salah satu cabang al-Qaeda yang memiliki potensi paling mengancam.

Perang antara pemerintah Yaman yang dibantu koalisi Arab untuk mengalahkan pemberontak Syi'ah Houthi, 'telah membantu' AQAP untuk lebih berkembang dan kuat dalam sejarah bertahun-tahun kelompok ini.

Pendekatan AQAP dengan "mengambil hati" masyarakat lokal juga membuat Barat khawatir akan menyuburkan radikalisme dan simpati pada al-Qaeda.

Kelompok ini memang kerap melakukan kegiatan sosial kemanusiaan, termasuk melayani para pengungsi yang datang dari kota lain.

"Saya lebih suka al-Qaeda berada di sini, daripada Mukalla harus kembali bebas (dikuasai lagi pemerintah).. Keadaan di sini stabil, lebih baik dibanding wilayah Yaman lain yang 'bebas'. Pilihan-pilihan selain al-Qaeda malah lebih buruk", ujar seorang warga berusia 47 tahun.

Menurut pengakuan seoranf tokoh kepala suku kepada Reuters, AQAP dan sekutu juga berupaya mencari pengakuan de facto sebagai negara miniatur di dalam negara, bahkan menawarkan perjanjian imbal bagi hasil dengan pemerintah Yaman sebagai izin resmi mengekspor minyak dengan harga layak.

"Al-Qaeda mengirim perantara kepada pemerintah untuk mendapatkan persetujuan dari tawaran mereka", jelas seorang pemimpin suku di Yaman selatan kepada Reuters.

"Dalam tawarannya mereka membutuhkan dokumen resmi dari pemerintah agar bisa menjual minyak mentah, dimana mereka meminta 25 persen keuntungan, dan sementara 75 persen untuk pemerintah", lanjutnya.

Namun pemerintah Yaman menolak tawaran tersebut karena takut hal itu akan menjadi pemberian pengakuan de facto pada organisasi yang masuk daftar hitam teroris seperti AQAP.

Sementara koalisi Arab sendiri telah berjanji untuk memulihkan kembali stabilitas Yaman dengan mengalahkan kelompok-kelompok militan seperti Houthi dan juga kemudian AQAP. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.