Kerajaan Saudi vs Republik Teokrasi Syi'ah
Kedutaan Besar Iran di Riyadh disebut terlibat dalam persekongkolan untuk merekrut 200 orang di Saudi dan melakukan operasi melemahkan keamanan negara, termasuk penyediaan mata-mata bagi Teheran.

Hal tersebut muncul sebagai tuduhan utama yang diumumkan oleh jaksa penuntut dalam kasus terbaru melibatkan dua terdakwa yang ditangkap karena menjadi bagian dalam operasi mata-mata Iran di Saudi.

Terdakwa No. 21 didakwa telah menyediakan rumahnya sebagai lokasi untuk pertemuan dengan tiga agen intelijen yang bekerja di Kedutaan Besar Iran di Riyadh. Ia juga disebut telah menjual informasi sensitif negara dengan imbalan uang.

Hal lain yang menjadi dakwaan diantaranya menyiapkan perangkat elektronik dan komputer untuk mata-mata Iran, serta perjalanan ke Turki untuk tujuan mentransfer informasi keamanan negara.

Informasi yang disediakan bagi intelijen Iran seperti laporan kasus-kaus publik maupun pribadi di Saudi, informasi tentang data mahasiswa universitas dan masalah kerusuhan di salah satu provinsi.

Terdakwa juga memberikan akses seorang pejabat intelijen Iran untuk menyalin beberapa informasi penting dari komputernya.

Informasi yang diberikan termasuk daftar nama 200 teroris yang membangkang pada Kerajaan dan menjadi pendukung Iran, laporan perekonomian Saudi dan daftar keluarga Syi'ah di sana.

Sedangkan terdakwa No. 22 yang merupakan seorang pegawai bank, dituduh telah menyanggupi permintaan agen Iran agar dihubungkan dengan para orang kaya Syi'ah Saudi, untuk mendorong mereka berinvestasi di Iran, serta mau mendukung tujuan Teheran di dalam wilayah Kerajaan.

Terdakwa juga diduga telah membahas situasi di Provinsi Timur dan sekitarnya (populasi minoritas Syi'ah) dengan agen Iran itu, dan menerima mereka dalam beberapa pertemuan di rumahnya.

Dalam kasus ini, seorang hakim pengadilan pidana di Riyadh menuduh pengacara terdakwa mencari cara menunda prosedur pengadilan dengan membuat permintaan berulang untuk bertemu dengan kliennya dan menyebut pengacara tersebut melakukan upaya pembelaan yang menyalahi aturan keamanan.

Sejak pembekuan hubungan diplomatik dengan Iran, Saudi telah melontarkan pernyataan yang menuduh Teheran melakukan kegiatan "ikut campur" masalah internal negara Teluk dan memprovokasi minoritas Syi'ah.

Beberapa kasus gangguan keamanan yang melibatkan kaum Syi'ah dan operasi agen Iran juga terjadi di negara Teluk lain, seperti Bahrain dan Kuwait. Meskipun demikian, Iran terus membantah telah melakukan kegiatan kotor di negara lain. (Arabnews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.