Delegasi oposisi
Koalisi oposisi utama Suriah telah mendesak PBB untuk menghentikan pembicaraan damai hingga rezim Assad "menunjukkan keseriusannya pada proses transisi politik".

Bahkan di lapangan, pejuang oposisi bersumpah akan kembali melakukan serangan sebagai balasan atas tuduhan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh militer rezim.

Staffan de Mistura, utusan khusus PBB yang menjadi mediator perundingan, hari Senin kemarin menyatakan bahwa delegasi koalisi tetap berada di Jenewa, namun menunda partisipasi mereka dalam negosiasi.

Menurut de Mistura, mereka menghentikan partisipasi sebagai ungkapan kekecewaan dan keprihatinan atas memburuknya kondisi kemanusiaan warga sipil maupun berbagai pelanggaran gencatan senjata.

"Mereka akan tetap berada di hotelnya di Jenewa dan kemungkinan, seperti saran saya, akan melakukan diskusi teknis dengan tim kami", ujar de Mistura.

De Mistura juga menjelaskan jika perundingan ini masih punya waktu hingga Agustus untuk agenda konstitusi baru dan transisi politik. Menurutnya adalah keajaiban jika 5 tahun perang bisa diakhiri dengan perundingan (basa-basi) selama seminggu, dan memulai proses transisi politik.

Salah satu politisi yang mewakili delegasi oposisi, Riad Hijab, menegaskan bahwa suatu hal yang tidak bisa diterima dalam melanjutkan perundingan, sementara rezim Assad terus mengebom dan memblokade warga sipil hingga kelaparan.

Hijab juga menuduh rezim Suriah dan sekutunya telah memanfaatkan proses perundingan sebagai "kedok" untuk terus melancarkan kekerasan militer dan memblokade kota-kota warga sipil.

Gencatan senjata antara oposisi dan rezim dimulai sejak akhir Februari atas inisiatif Rusia dan Amerika Serikat, serta mengarahkan mereka kembali ke meja perundingan politik.

Namun pesawat-pesawat rezim Assad tercatat terus membombardir wilayah oposisi dan tidak mencabut blokade di berbagai kota, bahkan rezim Suriah mengumumkan "operasi bersama dengan Rusia untuk merebut Aleppo".

Selama beberapa pekan belakangan, pertempuran mulai intensif terjadi, khususnya di Aleppo, Hama dan Latakia. Puluhan milisi pro Assad, tentara Iran dan milisi sektarian (Syi'ah) asing dilaporkan terus tewas di Aleppo.

Kekerasan di Aleppo pada akhir pekan lalu dilaporkan telah membunuh 22 warga sipil, menjadi jumlah tertinggi sejak masa gencatan senjata dimulai. (Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.