Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa umat Islam kehilangan seorang ulama dan guru besar ilmu Hadits Indonesia.

Sedikitnya 37 buku menjadi peninggalan ahli hadits KH Ali Mustafa Yaqub (Rahimahullah Ta'ala) yang telah wafat pada Kamis kemarin pada pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Hermina, Ciputat.

Buku keagamaan yang ditulis mantan Imam Besar Masjid Istiqlal itu bervariasi, baik menyangkut akidah, akhlak, syari'ah, hadits dan persoalan kekinian.

Masyarakat umum kini hanya dapat bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Ulama kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 ini lewat buku-bukunya.

Sejumlah buku karya Mustafa yang telah beredar di masyarakat antara lain Memahami Hakikat Hukum Islam, Imam Al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Kritik Hadits, Peran Ilmu Hadits dalam Pembinaan Hukum Islam serta Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadits.

Terdapat juga judul lain misalnya Fatwa-fatwa Kontemporer, Hadits-hadits Bermasalah, Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan, Nikah Beda Agama dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadits, Islam Between War and Peace dan judul lainnya.

Pendidikan dan organisasi
Riwayat pendidikan agamanya dimulai dengan menjadi santri di Pondok Pesantren Seblak Jombang (1966-1969) dan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1969-1971).

Saat jenjang perkuliahan, beliau belajar di Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari, Jombang (1972-1975), juga Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi (1976-1980).

Gelar master didapatkannya di Fakultas Pascasarjana Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi dan Spesialisasi Tafsir Hadits (1980-1985). Selanjutnya gelar doktor diperoleh di Universitas Nizamia, Hyderabad, India untuk Spesialisasi Hukum Islam (2005-2008).

Sebagai ahli hadits, Kyai Mustafa juga mengajar di berbagai perguruan tinggi, mengisi seminar, menulis buku sambil terus berorganisasi di berbagai tempat.

Organisasi yang pernah diikutinya antara lain Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Imam Besar Masjid Istiqlal dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menduduki posisi penting sebagai wakil ketua dewan fatwa.

Kiprah KH Mustafa Yaqub
Selain berkiprah dalam organisasi besar dan skala nasional, Kyai Mustafa adalah pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darus Sunnah di Ciputat.

Beliau juga menjadi guru besar Hadits dan Ilmu Hadits di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta (1998-2016), penasihat syari'ah Halal Transactions of Omaha Amerika Serikat (2010-2016), menjadi ketuai Delegasi MUI untuk mengaudit Pemotongan Hewan di Amerika dan Kanada (2007), serta menjadi peserta sekaligus pemakalah dalam Konferensi Internasional tentang Metode Penetapan Fatwa di Kuala Lumpur, Malaysia (2006).

Beliau adalah narasumber di berbagai seminar internasional, seperti Takhrij Hadits Serantau, Kuala Lumpur, Malaysia, seminar Kepimpinan Pegawai-pegawai Masjid, Bandar Seri Begawan Negara Brunei Darussalam dan narasumber Pengajian Ramadhan Ad-Durus al-Hassaniyah, Kerajaan Maroko.

Kisah Wahabi dan Aswaja di tangan Mustafa Yaqub
Sebagai seorang ilmuwan Islam Indonesia terkemuka, KH Mustafa Yaqub dikenal sikap objektifnya dalam menilai permasalahan internal umat Islam dan melembutkan hati pihak-pihak yang bersengketa.

Dalam tulisan berjudul "Titik Temu Wahabi -NU", Kyai menyoroti banyaknya persamaan fundamental antara kaum Sunni tradisionalis (NU) dan pengikut gerakan pemurnian Islam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, daripada perbedaannya.

Menurut Kyai Mustafa, 90% ajaran-ajaran dalam NU dan Wahabi tidak berbeda. Hal itu diungkapkan setelah penetilian dari sumber primer langsung dengan  kitab-kitab rujukan dua kelompok besar Sunni di Indonesia itu.

Perkara-perkara pokok agama serta keilmuan syari'at, seperti kedudukan Al-Qur'an dan Hadits, ijma, qiyas, fiqih 4 mazhab dan sebagainya, antara NU dan Wahabi sama-sama mengakuinya.

Kyai juga menyoroti bahwa pembenturan perbedaan yang ada serta upaya menciptakan posisi bertolak belakang secara total, termasuk bentuk adu Domba umat Islam yang dikehendaki oleh salah satu agenda protokol Zionisme dalam menciptakan makar di berbagai masyarakat dunia.

Padahal banyak anak NU yang menimba ilmu di Saudi atau jama'ah Haji Aswaja Indonesia yang diimami imam Arab Saudi yang notabene adalah Wahabi.

Sikap terhadap Syi'ah dan kelompok sesat lainnya
Sewaktu masih menjabat sebagai Imam Besar masjid Istiqlal, Kyai Mustafa pernah melarang tokoh Syi'ah berceramah di masjid kebanggaan umat islam Indonesia itu.

Beliau juga berpesan agar jangan sampai Syi'ah memakai Istiqlal, karena bisa menjadi fitnah dan propaganda kesesatan mereka pada umat Islam NKRI.

Kyai marah ketika mendengar kabar ada tokoh Syi'ah Timur Tengah berceramah di Istiqlal. Hal itu dianggapnya sebagai musibah, dan mengkritik Badan Pelaksana Pengelola Masjid yang memberikan izin tersebut. Kala itu Kyai Mustafa sedang berada di luar pulau.

Pernah dalam sebuah kesempatan seusai acara di Qatar, Kyai ditanya tentang pendekatan atau dialog antara Ahlusunnah dengan Syi'ah, beliau menganggapnya sebagai pepesan kosong.

“Bagaimana mau berdialog, kalau mereka mencaci maki para sahabat besar Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum…!”, jelasnya, seperti dilansir Hidayatullah pada tahun 2014 lalu.

Almarhum berulang kali mendapat tawaran mengunjungi Iran yang merupakan kiblat Syi'ah, namun berulang kali pula beliau menolaknya dengan caranya sendiri.

”Baik saya terima undangannya namun waktunya masih belum pas”, ungkapnya, ketika menolak undangan Duta Besar Iran di Indonesia secara halus.

Sama seperti Istiqlal yang digunakan Syi'ah, jika Imam Besar masjidnya datang ke Iran dan bermanis muka dengan tokoh Syi'ah, pasti akan menjadi fitnah dan bahan propaganda.

“Kalau seandainya seorang rakyat biasa Ali Mustafa Yaqub yang diundang ke Iran maka tentulah tidak besar dampaknya. Akan tetapi apabila seorang Imam Masjid Negara, Masjid Istiqlal diundang ke negeri mullah dan bertemu serta berpelukan dengan ulama-ulama Syi'ah di sana maka tentu tersebarlah fitnah diantara umat Islam”, ujarnya.

Selain itu, tak terhitung lagi sudah berapa kali nama KH Mustafa Yaqub masuk ke televisi Indonesia untuk menjawab pertanyaan fiqih halal-haram, hukum syari'at, mitos, khurafat, Hadits palsu dan lain-lain, kepada masyarakat awam.

Beliau juga rajin diundang talk show TV untuk berhadapan langsung dengan narasumber gembong-gembong kesesatan.

Oleh Kyai, tokoh-tokoh Liberal atau aliran sesat lainnya dibuat tak berkutik untuk menafsir ayat versi mereka. (Antaranews/Hidayatullah/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.