Presiden AS, Obama Jr. (foto),
Seusai mengadakan pertemuan secara bilateral dengan Raja Salman di Riyadh, hari Rabu ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama juga akan menghadiri puncak pertemuan dewan Kerjasama Teluk (GCC) dengan para pemimpin negara Teluk, pada Kamis besok.

Pembicaraan Obama dengan para pemimpin negara Teluk akan meliputi berbagai isu bilateral, regional dan internasional, seperti memerangi ISIS, perang Suriah, perdamaian Yaman, ketegangan dengan Iran, serta yang terpenting adalah stabilitas regional.

Duta Besar Amerika Joseph Westphal mengatakan hubungan AS dengan GCC akan tetap ada dengan landasan untuk mencapai "stabilitas regional".

"Selama lebih dari 70 tahun, AS telah mempertahankan kepentingannya dengan upaya menjaga keamanan dan stabilitas di Timur Tengah maupun kawasan Teluk secara khusus", ujar Westphal.

Ia juga mengatakan bahwa Washington tetap berkomitmen untuk memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara anggota GCC.

Obama dijadwalkan tiba di Riyadh hari Rabu, dan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan kenegaraan ke Jerman dan Inggris.

Di Riyadh, Obama yang ditemani menteri pertahanan AS, Ashton Carter, akan memulai agenda resmi kunjungannya pada Rabu sore waktu setempat, untuk bertemu dengan Raja Salman.

Menurut Rob Malley, penasihat senior Obama untuk urusan Timur Tengah, menyebut beberapa isu yang akan dibicarakan Obama dan penguasa Teluk. Diantaranya adalah isu kontra terorisme, memperkuat sistem pertahanan rudal balistik dan ancaman cyber.

Untuk masalah Suriah, Malley mengatakan bahwa semua masih jauh dari tujuan yang diinginkan, namun beberapa langkah "positif" telah tercapai belakangan berkat kerjasama semua pihak.

Sementara mengenai Iran, AS menekankan upaya menghapus kemampuan negara Syi'ah itu untuk mendapat kemampuan membuat senjata pemusnah massal (nuklir).

Obama juga ingin membahas masalah ekonomi dengan GCC di tengah tren merosotnya harga minyak mentah dunia selama lebih dari setahun ke belakang.

Pertemuan AS-GCC ini menjadi wadah bagi kedua belah pihak untuk mempersempit gap perbedaan kepentingan dan pandangan atas kawasan itu.

Para pejabat tinggi negara-negara Teluk telah lama menuduh Iran sebagai sponsor teroris Hezbollah di Lebanon, milisi sektarian di Irak, perang Suriah, serta penyokong pemberontak Syi'ah Houthi di Yaman. Dimana hal ini dapat menjadi ancaman stabilitas dan perdamaian dunia.

Secara umum, pertemuan puncak di Riyadh diprediksi akan berfokus pada perbaikan atau penguatan hubungan politik antara negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat. (Arabnews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.