Polisi India dilempari warga
Ratusan warga Kashmir turun ke jalan, melemparkan batu dan meneriakkan slogan-slogan kebebasan, setelah aparat India menembak mati dua pemuda ketika terjadi protes atas kasus dugaan pelecehan seksual oleh seorang tentara.

Kedua pemuda itu, Nayeem Ahmad dan Muhammad Iqbal, ditembak mati pada Selasa dalam protes yang timbul setelah penduduk lokal menuduh seorang tentara India telah melakukan pelecehan seksual kepada seorang gadis muda di kota Handwara, wilayah adminitrasi Kashmir-India.

"Kemarahan dimulai dari sebuah demonstrasi kecil, lalu ratusan orang lainnya ikut bergabung. Para pengunjuk rasa menuntut tentara (yang diduga melakukan pelecehan) untuk ditangkap dan diserahkan pada warga", jelas Zulkarnain Banday, sepupu korban Nayeem Ahmad, seperti dilansir Al-Jazeera.

"Ketika menolaknya, tentara kemudian melepaskan tembakan serta menggunakan gas air mata kepada demonstran. Saat itulah pengunjuk rasa mencoba untuk membakar sebuah bunker", lanjut Banday.

Situasi di kota yang terletak sekitar 50 km dari ibukota Srinagar dilaporkan masih sangat tegang.

Pejabat polisi setempat menyebut jika tentara telah membunuh dua orang pemuda, sementara media lokal melaporkan bahwa seorang wanita muda juga ditembak mati pada hari Selasa malam, tetapi masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Kolonel NN Joshi, bagian hubungan masyarakat Departemen Pertahanan Srinagar, mengatakan bahwa pihaknya "menyesalkan atas jatuhnya korban jiwa" dan berjanji kasus ini akan diselidiki.

"Siapa pun yang terbukti bersalah akan ditangani sesuai hukum. Kasus ini akan diusut", katanya.

Inspektur Jenderal Polisi Syed Javaid Mujtaba Gilani, juga menegaskan jika pihaknya akan menyelidiki dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tentara.

Tapi organisasi masyarakat setempat meragukannya, dan menyebut kasus seperti ini kemungkinan akan menguap, atau menjadi kasus yang tak terselesaikan dan tak terpecahkan di wilayah Kashmir.

Kelompok HAM telah sejak lama menuduh militer India menggunakan cara pemerkosaan dan pelecehan seksual untuk mengintimidasi penduduk lokal.

"Inilah mengapa orang enggan melaporkan kasus pelecehan seksual dan kekerasan, karena ini tentang cara penangannya (yang sangat buruk)", ujar Khurram Parvez, koordinator program Koalisi Masyarakat Sipil Jammu-Kashmir (JKCCS) kepada Al-Jazeera.

Sementara Zulkarnain Banday, sepupu salah satu korban penembakan, mengatakan bahwa keluarga korban Ahmad tidak mungkin akan membawa kasus ini pada polisi, karena skeptis pada lembaga tersebut.

"Tidak ada yang percaya pada polisi atau sistem (hukum)", keluhnya.

Banday, yang merupakan wartawan koran The Statesman di New Delhi, mengaku telah diancam oleh polisi karena mengambil foto dari kejadian tersebut.

"Mereka mengatakan jika saya mengambil foto, maka mereka akan membunuh saya juga", katanya.

Pemimpin kelompok perlawanan Kashmir, seperti Syed Ali Jilani, Mirwaiz Umar Faruq dan Yasin Malik, pada hari Selasa menyerukan pemogokan di Kashmir sebagai bentuk protes atas pembunuhan oleh tentara India. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.