Ilustrasi rohaniawan Buddha Myanmar
Para pendukung seorang biksu di Myanmar membangun paksa pagoda di dalam kompleks gereja dan di dekat masjid. Tindakan ini menyebabkan ketegangan dan dikhawatirkan memicu kembali bentrokan antar etnis di Myanmar.

Seperti diberitakan CNN Indonesia dari kantor berita AFP, peristiwa ini terjadi pada bulan lalu di Hlaingbwe, negara bagian Karen.

Menurut pemimpin umat Kristen Anglikan di Karen, Saw Stylo, para pendukung biksu Myaing Kyee Ngu tiba-tiba masuk ke kompleks gereja dan membangun patung serta menancapkan simbol agama Buddha.

Mereka datang lagi beberapa hari kemudian dan ingin membangun pagoda. Para biksu ini, lanjut Stylo, juga mendirikan pagoda dekat sebuah masjid di desa berpenduduk mayoritas Muslim, di Hlaingbwe.

Atas peristiwa ini, Stylo mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi.

"Itulah sebabnya saya meminta para pemuda, baik Buddha, Muslim atau Kristen, agar tidak melakukan tindakan yang salah", kata Stylo.

Tidak diketahui dengan jelas alasan pendirian pagoda dekat gereja dan masjid di Karen. Namun pemerintah Myanmar menganggap hal ini sangat sensitif.

Anggota parlemen setempat, Saw Shit Khin, kepada AFP mengatakan bahwa otoritas Buddha Myanmar telah mengirim surat kepada para biksu di Karen agar menghentikan pembangunan pagoda.

Komunitas Kristen yang merupakan minoritas di Myanmar telah bertahun-tahun mengeluhkan gangguan dari komunitas Buddha, terutama dengan dukungan dari militer.

Kristen dan Muslim memiliki jumlah empat persen dari populasi Myanmar. Sementara sensus terbaru tahun 2014, yang pertama kali dilakukan setelah tiga dekade, belum diumumkan hasilnya karena khawatir akan menimbulkan permusuhan.

"Saya ingin melihat bagaimana pemerintah baru membawa Myanmar menuju masa depan yang lebih cerah. Itulah alasannya mengapa saya meminta semua orang untuk tenang dalam kasus ini", ujar Stylo.

Myanmar selama puluhan tahun berada di bawah kekuasaan junta militer dan telah diwarnai berbagai  ketegangan etnis dan agama, antara warga mayoritas Buddha dengan kelompok minoritas, seperti umat Kristen dan Islam, maupun etnis Rohingya.

Bentrokan SARA besar sempat terjadi pada tahun 2012, antara kelompok Buddha Rakhine dengan Muslim Rohingya, menyebabkan beberapa orang tewas. Sementara puluhan ribu warga Rohingya kini masih hidup di pengungsian.

Sejak bentrokan tersebut, ketegangan SARA lanjutan kerap terjadi. Kelompok ekstremis Buddha pimpinan biksu Wirathu, bahkan menebar ancaman dengan menyampaikan slogan-slogan kebencian anti Islam. Mereka juga menolak pengakuan kewarganegaraan bagi etnis Rohingya.

Pemerintahan Myanmar saat ini yang dipegang oleh partai tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi, dinilai tidak akan mampu mengatasi konflik SARA di Myanmar.

Suu Kyi sebagai peraih Nobel Perdamaian dikritik keras karena sikap antipati terhadap umat Islam, salah satunya dengan penolakan adanya anggota parlemen Muslim dan rasa "gerah" ketika ditanya tentang nasib minoritas Muslim Rohingya.

Agama mayoritas Buddha Myanmar secara unik telah melebur menjadi salah satu pilar nasionalisme negeri itu. Menyebabkan pengaruh agama Buddha pada kekuasaan negara itu. (CNN Indonesia/AFP/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.