Presiden Jokowi (Foto),
Presiden Joko Widodo atau yang biasanya disapa akrab "Jokowi" dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan bahwa Islam Indonesia bersifat demokratis dan toleran.

"Sebagai negara (berpenduduk) Muslim terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peran untuk menunjukan kepada dunia bahwa dalam Islam, demokrasi dan toleransi dapat beriringan", kata Jokowi, dalam pertemuan dengan Cameron, Selasa waktu setempat, seperti dilansi Antaranews.

Menurut Jokowi, Indonesia akan senang membagi pengalaman tersebut kepada negara lain, termasuk dengan Inggris.

Sementara ketika menyampaikan pidatonya di depan Parlemen Inggris. Presiden juga menyoroti kehidupan berdemokrasi dan ber-Islam yang ada di Indonesia.

Jokowi mengatakan bahwa Indonesia yang berpenduduk Muslim menjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, pluralisme, dan toleransi.

"Negara yang mengedepankan demokrasi dan menghormati hak asasi manusia. Negara dimana Islam dan demokrasi berjalan seiring. Negara dimana moderasi, tradisi dan modernitas disatukan oleh satu rujukan. Rujukan ke Pancasila, yang menjadi dasar negara kami", jelas Jokowi, dikutip oleh laman Vivanews.

Presiden meyakini bahwa Indonesia (yang sedang membangun ini) akan menjadi “rahmat” bagi dunia, "blessing" bagi dunia. Dunia yang saat ini masih berkutat melawan kemiskinan serta masih kental dengan ketidakadilan.

Dunia yang diwarnai oleh berbagai konflik multidimensi, dunia yang terganggu oleh terorisme dan ekstrimisme kekerasan. Dunia yang masih sarat dengan prasangka dan sikap intoleran.

Keyakinan Presiden itu, didasarkan pada kenyataan, bahwa Indonesia dianugerahi dua aset penting dalam kehidupan bangsa kita, yakni Islam dan demokrasi. Dimana Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan ciri utama yang "moderat".

"Kami bangga bahwa Islam di Indonesia memiliki peran penting dalam mengonsolidasikan demokrasi. Bertindak sebagai penjaga kemajemukan dan toleransi. Menyerukan moderasi dalam masyarakat. Menentang radikalisme, segala bentuk terorisme, dan ekstrimisme kekerasan dan dapat menjadi inspirasi bagi dunia", jelasnya.

Sejak reformasi 1998, Indonesia telah menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
Pemilu demokratis dan damai telah berjalan selama empat kali, menjadi satu-satunya mekanisme pergantian kekuasaan.

Seperti di banyak negara lain, dua aset penting dalam kehidupan di Indonesia, yakni Islam moderat dan demokrasi, masih mendapat berbagai tantangan, seperti tindakan intoleransi dalam masyarakat, radikalisme dan ektremisme kekerasan, aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama.

"Bahkan ada juga warga negara kami yang bergabung dengan gerakan-gerakan teroris asing di luar negeri meskipun jumlahnya sangat kecil sekali di antara 252 juta penduduk Indonesia", kata Jokowi. (Antaranews/Vivanews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.