Delegasi Saudi dalam pertemuan produsen minyak (foto),
Kesepakatan pembekuan produksi minyak oleh negara-negara OPEC dan produsen non-OPEC gagal total setelah Arab Saudi juga menuntut Iran agar bergabung, meskipun demikian Riyadh tetap menyerukan adanya kesepakatan dan upaya menaikkan kembali harga minyak mentah.

Gairah industri minyak jeblok akibat kekhawatiran pada para produsen utama yang akan kembali melakukan perang harga, terlebih setelah Riyadh mengancam peningkatan produksi besar-besaran jika tidak ada kesepakatan pembekuan.

Republik Syi'ah Iran juga berjanji akan terus menggenjot produksi minyaknya setelah pencabutan sanksi-sanksi ekonomi oleh Barat, dimana minyak Iran mulai membanjiri pasar sejak Januari.

Saudi dan Iran hampir mustahil akan berkompromi, terlebih 2 poros kekuatan antara Muslim Sunni dan sekte Syi'ah itu adalah musuh regional, dengan keterlibatan dalam konflik Yaman dan Suriah.

Sekitar 18 negara produsen minyak, termasuk Rusia (non-OPEC), pada hari Minggu kemarin berkumpul di ibukota Qatar, Doha, untuk mencari kesepakatan (yang telah direncanakan sejak Februari) dalam menstabilkan tingkat produksi minyak mentah.

Arab Saudi sebagai pemimpin de facto organisasi OPEC meminta semua negara eksportir minyak utama agar mengambil bagian dalam pembekuan produksi ini, termasuk Iran yang tidak hadir.

Republik Syi'ah telah menolak terlibat dalam upaya penstabilan produksi, karena ingin kembali menggenjot industri minyaknya pasca dicabutnya sanksi internasional.

Setelah terjadi perdebatan sengit selama lima jam, termasuk antara Arab Saudi dan Rusia, para delegasi di Doha mengumumkan bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai.

"Kami menyimpulkan bahwa kami semua masih perlu waktu untuk berkonsultasi lebih lanjut", kata Menteri Energi Qatar, Mohammed al-Sada.

Beberapa sumber OPEC mengatakan jika Iran bersedia bergabung dalam pembicaraan kesepakatan pembekuan dalam pertemuan OPEC berikutnya, tanggal 2 Juni.

Menteri perminyakan Rusia, Alexander Novak, menyebut permintaan Saudi sebagai "tidak masuk akal". Ia juga mengaku kecewa telah hadir ke Doha di bawah harapan semua pihak akan menandatangani kesepakatan daripada mendebatkannya.

Novak mengatakan bahwa pemerintah Rusia tidak menutup pintu untuk kesepakatan itu, tetapi pihaknya tak akan membatasi hasil produksi untuk saat ini. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.