Ilustrasi sampah dan pencemaran parah di sungai (foto),

Plastik memang sangat bermanfaat untuk menopang kehidupan manusia modern. Zat ini menjadi bahan penting untuk membuat berbagai peralatan. Praktis, mudan dibentuk dan murah.

Namun karena pengelolaan yang masih tumpul, ditambah lemahnya kesadaran penduduknya, sampah plastik menjadi masalah klasik di negara berkembang seperti Indonesia.

Bulan Februari lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengemukan masalah akut tentang sampah plastik di Indonesia. Bahkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia soal menjadi pembuang sampah plastik ke laut setelah China.

Data KLHK juga menyebut bahwa plastik yang berasal dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) selama waktu satu tahun saja telah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.

Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektar plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Setiap hari, jutaan kantong plastik digunakan sebagai pembungkus belanja. Plastik yang digunakan oleh para pengecer, PKL, pedagang keliling dan lain-lain diperkirakan jauh lebih signifikan daripada para pemain besar.

Direktorat Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK menyatakan jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dimana sampah plastik diperkirakan sebesar 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Sampah plastik berbeda dengan sampah organik. Plastik jauh lebih sulit terurai karena ikatan Karbon dalam senyawa polimer ini relatif lebih kuat dari berbagai senyawa hidrokarbon lainnya (khususnya yang berasal dari sisa makhluk hidup).

Jenis plastik yang mudah terpecah (karena memiliki tambahan zat aditif) meski bisa mengurangi tumpukan, jika berada di alam belum tentu bermanfaat untuk diserap dan mendukung kehidupan makhluk hidup.

Bahan plastik umumnya dibuat dari hasil pengolahan hidrokarbon pada minyak bumi. Setiap tahun produksi plastik setara dengan jutaan barrel minyak mentah.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut, secara keluruhan ditaksir mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton.

Berada di urutan ketiga adalah Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Tiap tahun, sebanyak 87 persen dari 3,8 juta ton sampah plastik yang dibuang mendarat di laut. Artinya setiap penduduk Indonesia bertanggungjawab atas 17,2 kilogram sampah plastik yang mengapung dan meracuni satwa laut.

Sampah plastik di Indonesia hampir bisa ditemukan di seluruh kota berpenduduk. Mencemari berbagai sungai atau tercecer berserakan di lahan-lahan.

Kemampuan daur ulang sampah plastik di Indonesia memang masih sangat rendah. Jauh sekali jika dibandingkan kebiasaan masyarakat dalam memakainya, dimana diperkirakan setengah dari sampah plastik yang ada langsung dibuang hanya setelah sekali pakai.

Tetapi yang ironis adalah kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membuang sampah sembarangan, walaupun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan mengidentifikasi diri sebagai "moderat" dan "toleran".

Dalam hal sampah, belum ada korelasi positif antara ke-Islaman penduduk Indonesia dengan kecintaan untuk menjaga tanah airnya (lingkungan).

Kebiasaan buang sampah sembarangan sebenarnya belum tentu merugikan lingkungan, terutama jika sampah yang dibuang adalah zat-zat bermanfaat bagi kehidupan sekitar (dalam jumlah tak berlebih), seperti di masa lalu ketika nenek moyang Indonesia masih menggunakan tempat/bungkus makanan dari dedaunan.

Namun tren pembuangan sampah sembarangan terus terjadi saat era modern dimana plastik digunakan sebagai pembungkus utama.

Masyarakat Nusantara juga memiliki kebiasaan kurang ramah lingkungan dalam menangani sampah seperti plastik, yaitu dengan cara membakarnya.

Di wilayah perkotaan, hampir mustahil menemukan sungai atau selokan air yang bersih, tanpa sampah plastik. Hal serupa sudah pasti ditemukan di pantai-pantai Indonesia yang berada di dekat muara.

Seperti dilansir Al-Jazeera, seorang peselancar bernama Dede Suryana, mengeluhkan banyaknya sampah plastik yang ikut "berselancar" bersama ombak.

"Popok dan pembalut bekas, semua itu bisa anda temukan di sini, tapi plastik yang paling banyak.. Ada banyak perkampungan di wilayah hulu, dan mereka menggunakan sungai untuk membuang sampah", keluhnya saat bermai ombak di pantai daerah Cimaja.

Ia mengaku menemukan hal serupa terjadi di hampir seluruh pantai Nusantara yang dikunjunginya untuk berselancar.

Sedangkan kami (Risalah), menganggap bahwa ajaran Islam sulit ditemukan di sungai-sungai dan laut di dekat muara sungai Indonesia.

Soal penggunaan plastik, beberapa tips yang bisa dilakukan untuk meminimalisir:

1. Penggunaan berulang kantong plastik yang dimiliki

2. Beli produk kemasan (plastik) dalam kemasan besar, untuk mengurangi pembelian sering dan menimbulkan sampah lebih banyak

3. Buang sampah pada tempatnya serta jelas pengelolaannya

Islam dan "Cinta Tanah Air"

Sebagai agama yang dianut oleh mayoritas mutlak penduduk Indonesia, Islam mengajarkan untuk mencintai negeri-negeri (tanah air) kaum Muslimin.

Kecintaan pada tanah air menurut Islam bukanlah sikap ungkapan rasa nasionalisme atau pengagungan simbol-simbol formal politik dan doktrin bernegara. Kecintaan tanah air menurut Islam adalah sikap nyata menjaga/mempertahankan negeri kaum Muslimin dari kerusakan.

Kerusakan yang dimaksud adalah rusaknya Tauhid, aqidah, hukum, moral hingga lingkungan sebagai akibat perbuatan maksiat (melanggar perintah Allah). Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Rum: 41)

(CNN Indonesia/Al-Jazeera/Antaranews/rslh)

Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.