Daftar belanja militer terbesar dalam miliar Dollar
Pengeluaran militer global diperkirakan mencapai hampir USD 1,7 triliun pada tahun 2015, melanjutkan tren terus terjadinya peningkatan dari tahun ke tahun sejak 2011, demikian laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) awal bulan ini, yang membuat taksiran jumlah pengeluaran militer di seluruh dunia.

Amerika Serikat (AS) tetap berada di urutan teratas sebagai negara paling boros di dunia untuk urusan belanja militer, meski mengalami penurunan dibanding tahun 2014. Dengan hanya jumlah penduduk kurang dari 5% populasi manusia, total anggaran militer AS hampir 1/3 dari pengeluaran global.

Raksasa Asia China masih berada di urutan kedua setelah AS. Diperkirakan China menghabiskan 215 miliar Dollar untuk militernya pada tahun lalu.

Namun yang mengejutkan adalah Arab Saudi. Negara Kerajaan yang menjadi lokasi 2 Masjid suci umat Islam ini menggeser Rusia dari tempat ketiga.

Hal ini terjadi karena Saudi melakukan operasi militer di Yaman untuk membantu pemerintah sah Yaman melawan pemberontak Syi'ah Houthi, sejak Maret 2015. Selain belanja besar-besaran peralatan militer mahal dari berbagai negara produsen.

Total anggaran militer Saudi tahun 2015 ditaksir mencapai 87,2 miliar Dollar atau sekitar Rp 1200 triliun.

Sejak tahun 2006, belanja militer tahunan Saudi telah meningkat hampir dua kali lipat. Peningkatan yang tak jauh berbeda juga dialami dengan Rusia.

"Arab Saudi menggeser Rusia untuk menjadi pembelanja terbesar ketiga, juga disebabkan oleh penurunan nilai Rubel (mata uang Rusia)", jelas SIPRI.

Namun menurut laporannya ini, SIPRI mencatat bahwa penurunan harga minyak dunia telah berdampak cukup besar dalam penjualan persenjataan secara umum.

Dua pengerutan anggaran paling signifikan terjadi pada militer Venezuela dan Angola, masing-masing turun 64% dan 40%. Dimana perekonomian kedua negara sangat tergantung pada ekspor minyak.

Wilayah Asia Timur dan sekitarnya juga terus mengalami militerisasi. Belanja militer kawasan ini meningkat 5,4% pada tahun 2015, disebabkan karena masalah sengketa Laut China Selatan yang melibatkan beberapa negara ASEAN melawan China. (The Washington Post)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.