Presiden Republik Turki
Presiden Turki, Tayyip Recep Erdogan, menyatakan bahwa negara Turki tetap perlu "menjaga jarak yang sama dengan semua agama".

Pernyataan Erdogan ini muncul saat kunjungannya ke Zagreb, Kroasia, setelah muncul pernyataan dari ketua Parlemen Turki, Ismail Kahraman, yang menyebut bahwa Turki membutuhkan konstitusi yang lebih agamis.

Pendapat Kahraman itu kemudian menimbulkan kontroversi, karena dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip bernegara warisan pendiri Republik Turki yang sekuler.

"Pandangan saya tentang hal ini sudah diketahui... Kenyataannya adalah, negara perlu memiliki jarak yang sama dengan semua keyakinan agama. Ini merupakan licisme (sekularisme)", jelas Erdogan, pada hari Selasa kemarin.

Partai Erdogan, AKP, juga mengungkapkan hal serupa.
"Kami belum membahas pencabutan sekularisme dari rancangan konstitusi. Ketua parlemen tidak berbicara atas nama partai. Sekularisme masih dipertahankan dalam proposal konstitusi kita", ujar ketua Komisi Konstitusi di Parlemen dan Wakil ketua AKP, Mustafa ┼×entop.

Komentar Kahraman memancing kecaman pihak oposisi dan aksi protes pada hari Selasa. Ia kemudian meralatnya sebagai pandangannya pribadi, bukan partai.

Pada hari Senin, Kahraman menyebut bahwa sekulerisme perlu dicabut dari rancangan konstitusi baru Republik Turki.

"Ini harus menjadi konstitusi yang baru dan agamis. Sekularisme tidak perlu masuk dalam konstitusi baru",  katanya.

Konstitusi Turki saat ini disusun setelah kudeta militer pada tahun 1980 dan dianggap menimbulkan berbagai kendala dalam penyusunan undang-undang. Karena itulah parlemen akan mengamandemennya.

Republik Turki modern berdiri di tangan kaum nasionalis sekuler yang berhasil memenangkan perang kemerdekaan dari sekutu, pasca pendudukan Turki setelah kalah dalam perang dunia pertama.

Pondasi sekulerisme di Turki adalah pihak militer yang dikenal sangat nasionalis dan Kemalis (pendukung Mustafa Kemal Ataturk). Pencabutan sekulerisme sangat sensitif di negeri ini.

Sementara AKP yang merupakan partai pemerintah saat ini, mulai berkuasa sejak dekade 2000-an, dikenal memiliki ide-ide "neo Ottoman", atau puncak kejayaan bangsa Turki terjadi saat era Utsmaniyah. (Daily Sabah/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.