Kepala BNPT, Komjen Polisi Tito Karnavian bertemu DPR
Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) agar terbuka terkait kematian terduga teroris Siyono setelah ditangkap Densus 88.

"BNPT perlu memberikan penjelasan kepada publik, meskipun tidak gampang karena masyarakat saat ini cenderung tidak percaya", ujarnya seperti dilansir Antaranews.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan bahwa terorisme adalah musuh bersama seluruh elemen bangsa Indonesia.

Dan di tengah kondisi perekonomian yang sedang sulit seperti saat ini, BNPT perlu memberikan penjelasan secara bijak.

"Kalau kami menanyakan tentang terorisme, bukan berarti kami mendukung teroris. Karena itu, perlu ada penjelasan yang bijak dari pemerintah", tuturnya.

Sementara kepala BNPT, Komjen Polisi Tito Karnavian, menyatakan jika kasus kematian Siyono bukanlah kewenangan lembaganya untuk membahas detail kasus tersebut, karena Densus 88 bukan berada di bawah BNPT.

"Namun, berdasarkan informasi yang saya tahu, dia adalah anggota jaringan yang melakukan perlawanan saat sedang ditahan oleh Densus", jelasnya.

Menurut Tito, BNPT juga menghargai dan menghormati upaya internal yang dilakukan Polri untuk terkait kematian Siyono.

"Saya tidak ingin mendahului hasil pemeriksaan internal Polri. Polri telah melakukan pemeriksaan, kita tunggu saja nanti akan disampaikan", katanya.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara BNPT dengan Komisi III di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (13/4), juga terungkap jika jaringan teroris kelompok Santoso di Poso melakukan perekrutan di lapas.

"Beberapa anggota kelompok Santoso bertato. Setelah diselidiki, diketahui bahwa mereka adalah narapidana kasus pencurian kendaraan bermotor dan lain-lain yang direkrut saat bertemu Santoso di lapas," ujar Tito. (Antaranews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.