Raja Salman bertemu as-Sisi
Dukungan keuangan Arab Saudi bagi Mesir tidak akan lagi dalam bentuk "uang gratis", melainkan akan mulai bergeser sebagai bentuk pinjaman untuk proyek yang harus memberikan keuntungan.

Pergeseran politik finansial ini terjadi di tengah rendahnya harga minyak dunia sehingga memangkas drastis anggaran Saudi sendiri.

"Ini adalah perubahan strategis. Imbal balik dalam investasi penting bagi Arab Saudi untuk memperbanyak sumber pendapatan", kata seorang pengusaha kepada Reuters, hari Jum'at, di tengah kunjungan Raja Saman ke Kairo.

Sebelumnya Arab Saudi (pada era mendiang Raja Abdullah), Uni Emirat Arab dan Kuwait memberi bantuan melimpah pada Mesir yang berjumlah miliaran Dollar, pasca keberhasilan Abdel Fattah as-Sisi mengkudeta presiden Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM).

Namun rendahnya harga minyak belakangan dan beberapa perbedaan isu-isu regional dengan Mesir membuat bantuan melimpah tersebut dipertimbangkan ulang oleh Arab Saudi.

Perekonomian Mesir yang memasuki tahun ketiga di bawah rezim militer as-Sisi masih berada dalam kondisi terpuruk, hal ini telah berlangsung sejak masa Arab Spring pada tahun 2011 lalu.

Kekerasan yang terus terjadi di kawasan Semenanjung Sinai oleh kelompok garis keras ikut mempersulit pemulihan keadaan Mesir.

Pendekatan Saudi kali ini menekankan agar as-Sisi merealisasikan janji-janjinya dalam pemulihan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Mesir melalui mega proyek infrastruktur.

"Arab Saudi akan melakukan investasi dan memberi pinjaman lunak. Tak ada lagi uang yang gratis", kata seorang pengusaha.

Negara Teluk (kecuali Qatar) ikut bergembira setelah as-Sisi berhasil mengkudeta Mursi pada tahun 2013, lalu "melenyapkan" gerakan Ikhwanul Muslimin yang dianggap sebagai ancaman kekuatan monarki negara-negara Teluk.

Rezim as-Sisi kemudian menjanjikan pemilihan ekonomi dan stabilitas Mesir, namun kepercayaan itu terus memudar dengan kondisi negara yang tak kunjung membaik.

Sekutu Arabnya dibuat makin kecewa melihat ketidakmampuan as-Sisi dalam mengatasi masalah korupsi dan pemborosan perekonomian, Kairo juga dianggap makin melempem dalam masalah regional dunia Arab.

Pendekatan baru Riyadh terhadap Kairo kali ini bukan berarti Arab akan meninggalkan negara Piramida itu secara keuangan maupun politik.

Meski masih terjebak dalam berbagai isu regionalnya sendiri, seperti perang Suriah dan Yaman, ketegangan dengan Iran, maupun turunnya harga minyak, namun Arab Saudi tentu tak mau Mesir hancur atau menjadi negara gagal.

Setelah bertemu as-Sisi di Kairo pada hari Jum'at (8/4), Raja Salman langsung mengumumkan proyek pembangunan jembatan di atas Laut Merah yang akan menghubungkan Mesir dan Arab Saudi. Namun belum ada rincian yang diberikan.

Menurut sumber pejabat Mesir, Arab Saudi akan menandatangani kesepakatan USD 20 miliar untuk membiayai kebutuhan minyak Mesir dalam lima tahun ke depan dan USD 1,5 milyar untuk mengembangkan wilayah Sinai.

Sedangkan para pengusaha Saudi akan menginvestasikan dana senilai USD 4 miliar dalam beberapa proyek, termasuk pengembangan Terusan Suez, energi dan pertanian, serta menyimpan 10% dari jumlah itu di bank Mesir. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.