3 orang terkuat Kerajaan Saudi
Pemerintah Arab Saudi telah memiliki rencana peningkatan ekonominya tanpa ketergantungan dari sektor minyak. Menurut Saudi, ketergantungan mereka terhadap hasil minyak telah membahayakan negara.

Seperti dikutip dari CNN Money yang dialih bahasakan oleh CNN Indonesia, Senin (25/4), wakil putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menyampaikan "visi Arab Saudi untuk 2030" yang menargetkan negara itu menjadi satu dari 15 negara dengan perekonomian terbesar dunia.

Menurut ibnu Salman, kekayaan minyak Saudi yang merupakan penyumbang terbesar pemasukan negara malah membuat perekonomian mereka terhambat.

Ia bahkan menyebut ketergantungan Saudi terhadap minyak sebagai "kecanduan" yang terombang-ambing oleh pasar.

"Kami memiliki kecanduan di kerajaan Arab Saudi dan itu berbahaya. Hal ini yang menghambat perkembangan pada banyak sektor dalam beberapa tahun terakhir", kata ibnu Salman dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Arabiya.

Dalam rencana ini, Saudi akan meningkatkan pemasukan di sektor non-minyak hingga enam kali lipat menjadi USD 266 miliar pada 2030, menjual sebagian saham perusahaan minyak nasional Aramco, dan meningkatkan dana publik hingga 7 triliun Riyal (sekitar Rp 26 ribu triliun) untuk investasi di dalam dan luar negeri.

Minyak menyumbang 87 persen pemasukan bagi Saudi selama ini dan jatuhnya harga sejak 2014 telah membuat perekonomian negara itu "sedikit terpuruk", dengan defisit terparah sepanjang sejarah.

Untuk jangka pendek, Saudi telah memotong subsidi, menaikkan harga minyak di dalam negeri, penghematan anggaran dan melepas surat utang miliaran Dollar.

Minyak Arab Saudi adalah salah satu yang termurah di dunia, dengan harga produksi hanya USD 10 per barel. Negara itu perlu kisaran harga US$86 per barel, atau dua kali lipat harga minyak saat ini, agar anggarannya seimbang dari hasil jual minyak, berdasarkan estimasi IMF.

IMF juga memperkirakan pertumbuhan GDP Saudi akan melambat menjadi 1,2 persen di tahun 2016, dibanding 3,4 persen tahun lalu.

Menurut IMF, jika Saudi tidak melakukan perubahan besar maka negara itu akan kekurangan uang tunai dalam waktu kurang dari lima tahun.

Dalam visi tahun 2030 itu, Saudi menargetkan peran yang lebih besar dari sektor swasta agar menyumbang setidaknya 65 persen bagi perekonomian negara. Sebelumnya, swasta hanya memiliki porsi 40 persen.

Mayoritas warga Saudi, sekitar 70 persennya, bekerja sebagai pegawai pemerintah dengan gaji 1,7 kali lipat lebih besar ketimbang pekerja di sektor swasta.

Sementara sektor swasta di negara itu didominasi oleh pekerja asing yang tidak mendapatkan penghasilan serta jaminan kerja yang sama dengan pekerja asli Saudi.

Warga asing dan kaum perempuan setempat akan mendapat porsi lebih baik dalam rencana ekonomi ini.

Pemerintah Saudi juga ingin mendorong warga asli untuk bekerja di perusahaan swasta. Saudi akan menggunakan dana kekayaan negara untuk membantu pengembangan sektor swasta, diantaranya yang bergerak di industri manufaktur, pariwisata, dan pertambangan.

Kerajaan juga berencana membeli lebih banyak senjata dari produsen di dalam negeri. Selama ini, 50 persen persenjataan Saudi dibeli dari luar negeri.

Diharapkan strategi ini bisa mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda. Setidaknya setengah dari populasi Saudi berusia di bawah 25 tahun dan sektor publik tidak bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi mereka.

Angka pengangguran Saudi ditargetkan akan menurun hingga 7 persen pada 2030 dari sebelumnya 11 persen.

Saudi juga akan menggenjot sektor pariwisata. Dan menargetkan 30 juta jama'ah haji dan umroh pada 2030, meningkat dari jumlah saat ini yaitu 8 juta orang saja tiap tahun. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.