Ilustrasi air mineral
Air mineral telah menjadi industri yang berkembang pesat bagi masyarakat modern. Di Indonesia, mulai dari kota besar hingga kawasan pelosok kampung sangat mudah ditemui produk air putih yang tersegel di dalam botol kemasan.

Wadah botol yang digunakan untuk penjualan air ini hampir seluruhnya menggunakan bahan plastik.

Para produsen pun menjanjikan kesegaran produknya dari sumber mata air pegunungan. Memang, rasa air mineral botolan lebih segar daripada air putih hasil rebusan maupun saringan sendiri dari keran. Bahkan satu rasa yang sering didapati dari air mineral adalah sensasi seperti meminum air kelapa segar.

Namun jika anda menemukan rasa seperti itu, justru waspadalah. Karena kuat dugaan botol plastik yang dipakai untuk kemasannya merupakan produk daur ulang dan melepas senyawa kimia berbahaya.

"Plastik yang didaur ulang dapat menghasilkan zat-zat kimia, salah satunya asetaldehida yang bisa mengeluarkan rasa menyerupai buah", jelas Johan A Nasiri, Principal Engineer Sentra Teknologi Polimer Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), seperti dilansir Kompas pada pekan lalu.

Rasa yang terkecap lidah dari air mineral yang dikemas dalam botol hasil daur ulang, sebut Johan, antara lain menyerupai air kelapa. Sayangnya, rasa yang hanya samar tercecap membuat tak banyak orang menyadarinya.

"Terlebih lagi, banyak (oknum) penjual yang mengatakan bahwa ada rasa air Kelapa menandakan kualitas airnya bagus", lanjutnya.

Bagaimanapun, harap Johan, konsumen harus lebih berhati-hati. "Cara mendeteksinya seperti tadi, ada atau tidak rasa air kelapa", ungkapnya.

Repotnya, tambah Johan, bila isi kemasan botol tersebut bukan air mineral, melainkan minuman yang memang memiliki rasa, apalagi rasa buah. Makin sulit dideteksi.

Apa itu asetaldehida?
Senyawa alami asetaldehida terdapat dalam buah-buahan dan kopi yang sudah matang. Dalam pengolahan plastik, ungkap Johan, senyawa kimia tersebut tercipta karena degradasi termal polimer, seperti saat daur ulang.

Manajer Pengujian Sentra Teknologi Polimer BPPT, Syuhada, menambahkan bahwa kemungkinan besar ada sisa asetaldehida yang tertangkap pada saat pengisian air ke dalam kemasan botol produk daur ulang.

"Produk konsumsi seharusnya tidak boleh memakai kemasan daur ulang," kata Syuhada.

Menurutnya, asetaldehida adalah salah satu senyawa berbahaya bila dikonsumsi, apalagi dalam jangka waktu lama.

Dampak mengonsumsi asetaldehida dalam jangka waktu lama antara lain adalah iritasi pada kulit, mata, selaput lendir, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Biasanya, ada juga gejala mual, muntah, dan sakit kepala. (Kompas)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.