Rumah sakit Dar al-Shifa di Aleppo seusai dibom Assad, pada 2012
Ketika perang Suriah memasuki tahun kelimanya, lembaga HAM dan medis telah menyerukan agar serangan terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan dihentikan.

Catatan terbaru memasuki tahun keenam ini, dilaporkan bahwa setidaknya 705 petugas medis telah terbunuh. Dengan 346 serangan terarah ataupun acak terhadap 246 fasilitas pelayanan kesehatan.

Dari jumlah itu, lebih dari 90 persen serangan ke rumah sakit atau klinik dilakukan oleh militer rezim Assad dan sekutunya.

Rezim Assad juga bertanggung jawab atas kematian lebih dari 95% dari semua korban petugas medis di Suriah. Bahkan 139 kematian terjadi melalui eksekusi langsung, seperti penyiksaan dan pembunuhan.

Pada bulan Maret tahun 2011 ketika awal revolusi membakar provinsi Dara'a, militer Assad menyerbu ke rumah sakit nasional setempat untuk membersihkan gedung dari staf dianggap yang kurang penting.

Militer rezim juga menempatkan sniper di gedung, dan memastikan hanya pendukung Assad saja yang harus diberi perawatan.

Pada 8 April, tentara menembak mati seorang perawat karena mencoba menyelamatkan korban terluka yang tidak diperkenankan oleh militer. Menjadi salah satu eksekusi awal pada petugas medis di tangan pemerintah Suriah.

Sepanjang tahun pertama konflik, militer Assad meluncurkan 8 serangan ke fasilitas kesehatan dan membunuh sebanyak 75 petugas medis. Kekerasan terhadap paramedis terjadi di provinsi Dara'a (asal-muasal demo damai), Homs dan Hama.

Serangan tersebut dilakukan dengan meluncurkan mortir atau menggunakan tembakan senjata tangan.

Mayoritas korban terbunuh dengan cara ditembak, sisanya karena terkena ledakan atau disiksa hingga meninggal dunia.

Pada bulan November 2012, militer rezim berulang kali menyerang rumah sakit Dar al-Shifa di Aleppo, membunuh seorang mahasiswa kedokteran yang tengah bertugas di sana.

Lalu ada dokter Osama Baroudi ditahan oleh tentara rezim di kliniknya di Damaskus pada bulan Februari 2012. Ia disiksa dan meninggal dalam tahanan pada akhir Juli 2013. Ia adalah pendiri persatuan "Free Syrian Doctors".

Memasuki tahun-tahun berikutnya, kekerasan atau penyasaran militer Assad terhadap petugas medis maupun fasilitas kesehatan terus berlangsung dengan menggunakan serangan mortir, rudal, roket dan sebagainya.

Mulai awal 2014, militer rezim mulai mengintensifkan penggunaan bom Birmil (drum/barrel) termasuk yang mengenai fasilitas medis. Tercatat ada 2 fasilitas medis yang terkena bom terlarang ini pada Januari 2014. Juga ada 6 serangan lainnya di fasilitas yang terletak di wilayah padat penduduk.

Pada tahun ketiga perang, selain rezim Suriah, pelaku non negara (ISIS dan oposisi) juga bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap fasilitas medis. Walaupun ada laporan bahwa ada fasilitas medis yang digunakan oleh militer rezim untuk menyiksa.

ISIS dilaporkan telah mengeksekusi seorang dokter muda lembaga MSF (dokter lintas batas), bernama Muhammad Abyad.

Di tahun ketiga perang ini, 171 petugas medis terbunuh. Hampir semuanya meninggal akibat serangan militer Assad.

Sedangkan pada tahun keempat perang, rezim Assad bertanggung jawab atas 93% kematian petugas medis, dari sebanyak 162 korban. Ada 82 serangan pada fasilitas medis, 70 serangan dilakukan militer pemerintah Assad.

Bahkan selain dengan pengeboman dan cara konvensional lainnya, militer rezim dilaporkan menjatukan bom yang mengandung gas kimia Klorin di dekat rumah sakit Wisam, Kafr Zita, provinsi Hama.

Menyebabkan para petugas dan pasien menyelamatkan diri dari gas beracun, sehingga pelayanan rumah sakit lumpuh total untuk beberapa waktu.

Di wilayah Jabal Akrad, Latakia, rumah sakit lapangan bahkan harus dibangun di dalam sebuah gua untuk menghindari penargetan.

Pada tahun 2014, seorang relawan dokter muda asal Indonesia yang datang ke Suriah dengan lembaga MMS (Misi Medis Suriah), juga ikut merasakan sendiri bangunan tempatnya tinggal dan bekerja dihantam bom hingga runtuh.

Dokter berinisial HP dan seorang rekannya asal Indonesia selamat, meski sempat terkubur beberapa saat, namun beberapa rekan orang asli Suriah yang menemani mereka terbunuh seketika.

Memasuki tahun kelima, Rusia melakukan intervensi di Suriah untuk membantu Basyar al-Assad. Pada masa ini serangan terhadap rumah sakit atau klinik juga dilaporkan tetap terjadi secara langsung.

Menjelang tahun keenam, atau awal tahun 2016 ini, sebuah rumah sakit lembaga MSF Perancis di provinsi Idlib hancur akibat serangan udara (hanya Assad dan Rusia yang memiliki pesawat). Membunuh belasan staf dan pasien.

Pemerintah Suriah memang dituduh oleh berbagai pihak sengaja menyasar berbagai fasilitas medis sebagai "strategi perang" agar para pejuang oposisi tidak memiliki akses perawatan terhadap luka. Sementara kelompok non negara juga dipersalahkan atas kekerasan yang terjadi pada paramedis. (Physicians for Human Rights/MMS/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.