Ilustrasi pasca pertempuran Yaman
Korban jiwa akibat serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di provinsi Hajjah, barat laut Yaman, meningkat menjadi 119 orang, termasuk serangan yang dilaporkan mendarat di sebuah pasar terbuka

Serangan kali ini menjadi yang paling mematikan sepanjang meletusnya perang untuk mengalahkan pemberontak Syi'ah sejak Maret tahun 2015 lalu.

Menurut direktur Departemen Kesehatan Hajjah, Ayman Mathkour, jumlah korban akibat tiga serangan udara di distrik Mustaba, pada hari Selasa (14/3) lalu, meningkat menjadi 116 orang. Sedangkan jumlah korban luka di rumah sakit lokal adalah 47 orang.

Mathkour menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil. Penduduk setempat juga memperkirakan ada sekitar 20 orang yang tewas adalah anggota kelompok pemberontak Houthi.

Pejabat badan urusan anak PBB atau UNICEF di Yaman, Meritxell Relano, menyebutkan jumlah korban tewas dari serangan pada Selasa mencapai 119 orang. Ia juga menambahkan bahwa ada 22 anak diantara yang korban jiwa serta 6 mengalami luka-luka.

Juru bicara koalisi Arab, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, mengatakan bahwa pihak koalisi sedang mengupayakan penyelidikan untuk memastikan laporan-laporan atas serangan di provinsi Hajjah tersebut.

Dalam pernyataanya setelah serangan pada Selasa, Asseri menegaskan bahwa koalisi sedang menyelidiki laporan "untuk memastikan apakah itu benar atau tidak".

Menurutnya, meskipun terlalu dini untuk membuat kesimpulan tertentu, tetapi pihak koalisi sangat menyesali jatuhnya korban sipil yang luka atau terbunuh.

Belum ada tanggapan atau pernyataan lebih lanjut dari pihak koalisi Arab hingga hari Kamis kemarin.

PBB memperkirakan jika lebih dari 6.200 orang terbunuh sejak operasi koalisi Arab membantu pemerintah sah Yaman melawan pemberontak Syi'ah dan sekutunya. Setengah dari korban jiwa adalah warga sipil.

Berbagai laporan menuduh kedua pihak yang berkonflik melakukan pelanggaran hukum perang dan kemanusiaan sehingga mengorbankan warga sipil.

Koalisi pimpinan Arab Saudi membantah sengaja menyasar warga sipil. Koalisi mengklaim telah meningkatkan prosedur operasi menjadi lebih ketat dan menggunakan senjata yang akurat untuk meminimalisir korban.

Sebuah panel PBB dan berbagai lembaga HAM mendorong dilakukannya penyelidikan independen oleh Dewan Keamanan PBB. (Reuters/Antaranews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.