Suatu hari, di sebuah kampung di wilayah pegunungan berbatu dilanda musim paceklik.

Kampung ini sangat terpencil dan hanya terdapat 100 keluarga tinggal di sana. Dipimpin oleh seorang kepala desa tua yang dikenal sangat bijak, jago manajemen dan hidup hemat. Bernama kakek Marmin.

Namun Marmin hidup sebatang kara karena telah ditinggal mati istrinya dan ditinggal merantau semua anaknya yang tidak pernah kembali sejak puluhan tahun lalu.
Bulan demi bulan musim paceklik membuat lumbung-lumbung tiap rumah warga mulai kosong, kecuali lumbung sang kepala desa. Lumbung milik Marmin masih penuh berisi umbi-umbian yang cukup untuk makan dirinya sendiri sampai musim paceklik lewat.

Alkisah, warga yang mulai kelaparan ini menjelajahi berbagai sudut pegunungan untuk mencari bahan makanan bagi mereka dan ternak-ternaknya.


Beberapa warga menemukan sebuah punggung bukit yang ditumbuhi oleh Jamur misterius, tapi saat dicoba rasanya cukup enak untuk dimakan. Jamur ini tumbuh menutupi bukit yang dipenuhi kayu-kayu busuk.

Ternyata Jamur tersebut mengandung zat adiktif yang bisa mengacaukan sistem kimiawi otak sekaligus memberi efek kesenangan dan ketagihan. Hal ini tentu saja tidak diketahui oleh warga kampung.


Jika dimakan dalam jumlah cukup banyak, zat adiktif pada Jamur dapat mengacaukan sementara bagian syaraf logika di otak, sehingga hilanglah akal sehat orang-orang yang memakannya. Jika terus-terusan dimakan, berarti akan terus jadi tidak waras.

Korban Jamur dapat berperilaku menyimpang untuk banyak hal, walaupun ia tetap waras untuk beberapa hal lain, tergantung seberapa kuat otaknya menerima zat Adiktif.

Karena tidak mengetahui hal itu, serta didorong oleh keinginan perut, maka warga yang menemukan bukit Jamur segera memanggil warga lain untuk memanen dan mengawetkan semua Jamur di bukit sebagai cadangan makanan desa sampai musim panen berikut tiba.

Sementara itu, selama warganya sibuk memanen bukit Jamur, Marmin sang kepala desa seorang diri juga pergi mencari sumber makanan di tempat lain.
Ia menuju kota kecamatan terdekat, berjarak sekitar 2 hari 3 malam perjalanan. Marmin sama sekali tak tahu bahwa warganya telah menemukan bukit Jamur beracun.

Namun tidak ada bahan makanan yang bisa dibeli oleh kakek tua itu dari kota kecamatan. Ia pulang dengan tangan hampa karena tidak membawa uang untuk membeli sesuatupun.

Sementara orang-orang kota tak ada yang percaya pada ceritanya, termasuk polisi. Bahkan ia hampir diciduk ke panti sosial karena dikira pengemis.

Pada suatu malam Marmin tiba kembali di kampungnya,
malam itu ia makan Ubi dari sisa isi lumbungnya. Sementara di penjuru desa, sudah 3 hari berturut-turut seluruh warga dengan penuh rasa bahagia menikmati makan malam sekeluarga dari menu Jamur beracun yang sangat lezat.

Keesokan harinya semua warga menjadi gila kecuali kepala desa. Mereka semua mulai berperilaku menyimpang secara mencolok.


Ada preman kekar yang merasa menemukan "kodratnya" sebagai perempuan, ada juga warga yang minta dinikahkan dengan putrinya sendiri. Bahkan ada yang saling salah mengenali istrinya sendiri sehingga bertukar dengan tetangganya.

Seekor Kambing terlihat mencoba mengawini pohon Kelapa, para pemuda menjadi homo atau jatuh cinta pada binatang ternak, sedangkan orang-orang hanya bersempak saat di luar rumahnya. Berbagai kegilaan perilaku maupun kegilaan moral merajalela di kampung itu dalam waktu singkat.

Setelah sedikit menyelidiki dan mencari tahu, kepala desa sadar bahwa itu efek Jamur beracun (Marmin punya pengalaman serupa saat masih kecil).

Ia berupaya menyadarkan mereka semua dan meminta agar berhenti memakan Jamur lagi. Marmin bahkan akan memusnahkan lumbung Jamur walau gagal karena ketahuan warga.

Dalam kegilaannya, para warga malah menuduh Marmin ‘lah yang sudah tidak waras setelah 5 hari 5 malam pergi menghilang mencari makan karena kelaparan. Mereka pun memaksa Marmin agar memakan Jamur beracun supaya kenyang dan kewarasannya kembali lagi.

Marmin yang menolak akhirnya lari, namun dikejar oleh warga sekampung yang sedang menggila itu.

Marmin sang kepala desa tertangkap dan menjadi tidak sadar setelah jatuh dari lereng bukit yang licin. Selama dalam ketidaksadaran itu, Marmin dicekoki banyak air sup (ekstrak) Jamur beracun.

Bagaimana akhir kisahnya?

Apakah sang kepala desa berhasil menyadarkan kegilaan warganya, atau justru ia yang ikut gila setelah minum air ekstrak Jamur beracun?

Ternyata kisah ini berakhir dengan sangat bahagia!!


Marmin sang kepala desa akhirnya siuman setelah 2 hari tidak sadarkan diri.

Ketika ia sadar dari pingsan, dirinya merasa keadaan kampungnya telah normal kembali, berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya saat ia merasa warganya sudah gila. 

Sedangkan keadaan warga desa?
Ya, mereka semua menjadi sangat gembira mendapati sang pemimpin yang sangat bijak itu sudah kembali “waras” oleh sup Jamur.

Kampung inipun akhirnya hidup bahagia oleh Jamur beracun di musim paceklik, sampai musim panen berikutnya tiba.

Segala perilaku menyimpang warga akibat zat adiktif pada Jamur saling dimaklumi dan ditoleransi oleh warga lain yang juga keracunan zat serupa. (redaksi)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.