Pengungsian dekat kantor MMS Indonesia kebanjiran
Dalam sebuah pemberitaan situs Republika online pada hari Rabu (16/3), Taufiq al-Buthi menyatakan bahwa pengumpulan dana yang diniatkan untuk disumbangkan kepada Suriah, tidak akan sampai kepada masyarakat di Suriah.

Menurut Taufiq, donasi akan diberikan kepada rumah sakit penerima korban perang di Suriah, yang mana selalu diarahkan untuk dibawa ke rumah sakit Israel.

Taufik juga menyoroti banyaknya orang asing, termasuk Indonesia, yang pergi berperang di Suriah. Menurutnya, siapa saja yang terbunuh di perang Suriah adalah mati sia-sia, tidak akan tercatat sebagai Syuhada.

"Sedih karena jadi korban sia-sia, nama mereka tidak akan tercatat tinta emas sebagai syuhada", kata Taufiq al-Buthi.

Ia kemudian mempertanyakan motivasi orang-orang ingin berjihad ke Suriah, namun melupakan Palestina. Padahal, lanjut Taufiq, masjid al-Aqsa secara terang benderang mendapat ancaman serius dari Israel, yang terus berusaha melakukan penghancuran.

"Kenapa mereka tidak ke Palestina, ketika al-Aqsa terus dicoba dihancurkan Zionis Israel", ujar Taufiq.

Ayah Taufiq, Dr. Ramadhan al-Buthi, adalah Ulama terkemuka Suriah yang dikenal sangat dekat dengan rezim Ba'ats dan Syi'ah Nushairiyah selama puluhan tahun.

Taufiq al-Buthi pernah menjelaskan jika posisi ayahnya dalam revolusi Suriah adalah netral dan menilai konflik di negerinya sebagai fitnah (sesuatu yang mengecoh dan membingungkan).

Dr. al-Buthi tidak mendukung revolusi yang dianggapnya menentang pemerintahan Assad atau "ulil amri sah Suriah" dan membahayakan kesatuan Suriah, tapi ia juga terus menasehati Basyar al-Assad.

Misi Medis Suriah jawab tudingan Taufiq al-Buthi
Salah satu lembaga kemanusiaan Indonesia yang sudah lebih dari 3 tahun terus mengumulkan donasi bantuan untu rakyat Suriah, Misi Medis Suriah atau MMS, menantang Taufik al-Buthi untuk membuktikan ucapannya dengan berkunjung ke kamp-kamp pengungsian di Latakia utara dan Idlib.

MMS Indonesia menilai bahwa pendapat Dr. Taufiq al-Buthi sebagai klaim yang tidak masuk akal dan menentang geografi Suriah sendiri. Sebab perbatasan Suriah dan Israel hanya ada di dekat dataran tinggi Golan.

Sedangkan kebanyakan aktivitas lembaga kemanusiaan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, beroperasi di dekat perbatasan Turki sebagai negara penyangga kebutuhan bantuan.

"Sangat memalukan jika komentar seperti ini keluar dari orang yang dianggap sebagai 'ulama'. Bagaimana mungkin beliau tidak paham geografi negaranya sendiri? Bagaimana bisa paspor Indonesia masuk ke Suriah via Israel? Yang jelas saja ya, paling banyak lewat Turki untuk bantuan. Para pengungsi lari ke arah perbatasan Turki, lalu juga Yordania dan Lebanon yang banyak menampung. Jadi buat apalagi buang biaya naik pesawat ke rumah sakit Israel?", jawab pengelola Fanspage MMS.

MMS menjelaskan jika pihaknya telah mengumpulkan donasi miliaran Rupiah dari kaum Muslimin di Indonesia dan berbagai negara lain, bahkan beberapa donatur diketahui adalah orang non Muslim.

Keseluruhan dana tanpa dipotong sepeserpun, langsung dikirim ke Suriah untuk menghidupkan berbagai program kemanusiaan maupun kegiatan Sosial dengan semua lapisan masyarakat. Diawasi langsung relawan, serta dibina tokoh agama setempat.

Diantaranya seperti operasional pabrik roti, medis, bantuan musim dingin, Qurban, buka puasa bersama, pembangunan pesantren, bantuan lembaga pendidikan, dakwah, santunan anak yatim dan janda, serta berbagai program lainnya untuk mempererat solidaritas Suriah-Indonesia. MMS juga aktif melakukan jurnalisme lapangan ke zona merah.

"Jika Dr. Taufik al-Buthi dan para pendukungnya tak percaya, silahkan datang ke Latakia utara untuk menginap di tenda yang tim kami dirikan untuk pengungsi di dekat perbatasan, lihat bagaimana bantuan dari Indonesia hadir di Suriah. Monggo datang, mumpung sekarang lagi ribut-ribut perundingan, jadi tidak bakal dibom oleh pesawat rezim untuk sementara. Silahkan bisa masuk lewat pintu Turki jika tak mau lewat garis merah Latakia, bisa Insya Allah dengan paspor Suriah.", lanjut MMS.

Menurut MMS, memandang perang Suriah itu bisa menggunakan 2 kacamata, yaitu kacamata kemanusiaan dan kacamata konflik.

"Dengan kacamata kemanusiaan, maka PBB sendiri telah menyatakan bahwa krisis Suriah adalah bencana kemanusiaan terbesar dalam beberapa dekade belakangan. Tidak ada alasan untuk tidak membantu mereka. Sebuah sikap tidak beradab jika membanding-bandingkan penderitaan, donatur kami yang menyumbang untuk Suriah bisa saja juga membantu kemana-mana termasuk Palestina, Rohingya atau Indonesia sendiri! Pemerintah RI era pak SBY juga nyumbang Suriah lewat PBB", jelas MMS.

"Basyar al-Assad menjadi yang paling bertanggung jawab atas hal itu, karena penggunaan perangkat berat militernya untuk menghantam apapun di wilayah oposisi sejak awal, memakai milisi Syabihah untuk menyiksa orang dan juga melakukan blokade lebih keras daripada Israel di Gaza, seperti terjadi di Madaya hingga sekarang", lanjutnya.

Sementara dari kacamata konflik, MMS memandang perang Suriah sebagai perang yang sangat kompleks melibatkan berbagai kubu. Namun asalnya adalah revolusi oleh mayoritas Ahlusunnah menentang pemerintahan rezim minoritas Nushairiyah/Alawite dan partai Ba'ats, kemudian pecah perlawanan karena sikap represif Assad.

"Semua kepentingan baik AS, Eropa, Rusia, Syi'ah internasional, Sunni Arab, Turki dan lainnya akhirnya terseret ke situ, masing-masing punya mitranya juga. Lalu masuk pula kelompok takfiri-Khawarij mendirikan daulah versinya, juga ada al-Qaeda yang ingin menerapkan hasil 'reformasi' gerakan mereka di daerah konflik ini, serta ada lagi suku Kurdi dengan agenda etnisnya. Tidak cukuplah kalau dibahas sepotong-sepotong", jelas lembaga yang telah sah dalam yayasan ini.

Rezim keluarga Assad sendiri sudah berkuasa selama 40 tahun dengan menerapkan hukum militer untuk menekan kehidupan sipil, serta memonopoli jabatan dan kekuasaan negara.

"Jadi hampir semua yang melawan Basyar itu adalah orang Suriah asli, mayoritas mereka adalah Sunni yang bermazhab Syafi'iyah. Grup-grup perlawanan Suriah itu tidak asal menerima orang asing. Lalu Jabhah Nushrah sebagai afiliasi al-Qaeda yang memang lunak menerima jihadis asing. Sedangkan ISIS mayoritas anggotanya adalah orang asing, itupun mereka jadi musuh bersama karena dianggap sebagai teroris-Khawarij. Justru Assad sendiri sengaja mengimpor milisi Syi'ah asing untuk memerangi oposisi, termasuk mendatangkan milisi Hizbullah Lebanon yang masuk daftar teroris berbagai negara", MMS menjelaskan kabar tidak benar yang menyebut revolusi Suriah diambil alih oleh militan asing.

MMS mengkritik siapapun yang membuat analisa tentang konflik Suriah, lalu menyimpulkan tertentu, sehingga malah membuat mereka mencampakkan sisi kemanusiaan dari efek konflik tersebut.

"Sungguh naif jika ada aktivis kemanusiaan, ngakunya, membuat analisa macam-macam soal perang ini, lalu akhirnya malah tidak membantu Suriah. Ini aktivis kemanusiaan kok pakai kacamata konflik? Harusnya mereka juga buat analisa tentang data korban dan kumpulkan bantuan! Orang Barat itu, walau sekuler, 'agamanya' HAM, dan menyalahkan semua pihak dalam perang ini, tapi mereka tetap membantu pengungsi, dokternya tetap mengobati siapa saja. Karena itulah kacamata kemanusiaan. Kalau nggak mau bantu ya diam, tidak mencela atau membandingkan masalah", kritik MMS.

Lebih lanjut, MMS menilai bahwa pernyataan Taufiq al-Buthi yang membandingkan Palestina dengan Suriah, adalah pendapat kadaluarsa. Karena rakyat Palestina (mayoritas Ahlusunnah) mendukung revolusi Suriah, termasuk para pejuang Hamas di Gaza yang berperang langsung dengan Israel.

Mereka (pejuang Palestina) yakin jika pembebasan Palestina harus diawali dengan kemenangan umat Islam di Suriah atas semua musuh, baik Syi'ah, Khawarij, pasukan kafir, bala pendukung Dajjal dan lain-lain.

Dukungan Hamas terhadap revolusi Suriah
"Assad dicitrakan oleh pendukungnya sebagai anti Israel dan pembela Palestina. Lalu dengan alasan ini, para pendukungnya mengajak orang memuji Assad. Meskipun ia sudah membunuhi ratusan ribu warga sipil, menyiksa 12 ribu tahanan hingga mati, dan menerapkan hukum represif melanggar HAM selama 40 tahun berkuasa. Apa ini masuk akal? Besok-besok kalau pakai logika sesat begini, apa koruptor harus dibela seperti Assad karena dia anti Israel dan duit korupsinya sebagian dipakai nyumbang Palestina?", sindir MMS.

Pendapat ketua MMS
Pendiri (sekaligus ketua) MMS, Fathi Nasrullah Attamimi, yang secara khusus dihubungi Risalah, menegaskan bahwa lembaganya aktif menentang tindakan ISIS atau terorisme apapun. Jauh sebelum isu mereka menghebohkan dunia.

Karena selain merusak perjuangan kaum Muslimin Suriah, aksi ISIS juga menyulitkan masuknya bantuan kemanusiaan ke sana.

Menurut Fathi, ISIS telah membunuhi para relawan kemanusiaan dari berbagai negara, seperti dalam video-video eksekusi mereka. Fathi punya pengalaman sendiri diserang oleh ISIS saat berada di Idlib untuk menyalurkan bantuan.

ISIS menyebabkan citra buruk pada siapapun yang pernah datang ke Suriah, walaupun untuk membantu kemanusiaan. Bahkan teror ISIS membuat berbagai negara mengetatkan pengawasan, khususnya Turki, sehingga mempersulit akses bantuan. Pemerintah Indonesia juga menjadi jauh lebih waspada dalam isu Suriah.

Fathi mengingatkan jika perang itu adalah keadaan yang sangat mengerikan, terutama bagi warga sipil. Mereka bukan hanya dibunuhi oleh pengeboman, tapi juga oleh sulitnya memperoleh kebutuhan dasar. Bukan hanya terjadi satu dua keluarga, tetapi jutaan keluarga sekaligus.

Semua pengalaman yang pernah dialaminya setelah 3 kali ke negara itu, membuat Fathi dan lembaga MMS selalu memperingakan agar jangan sampai hal serupa terjadi di Indonesia.

"MMS yang terdepan menerangkan kesesatan ISIS dan aktif menyuarakan anti peperangan di Indonesia, berkaca dan belajar dari pengalaman mengamati konflik Suriah", jelas Fathi. (Risalah/Republika)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.