Polisi Malaysia (Foto: The Star)
Pemerintah Malaysia telah memasukkan 18 organisasi internasional sebagai kelompok teroris yang mengancam keamanan negaranya. 

Malaysia juga akan memperketat pintu masuk ke negaranya terkait daftar teroris ini. Menjadi pertama kalinya Malaysia membuat daftar teroris tertentu.

Menurut Deputi Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi, pemerintah terus mengawasi berbagai kelompok tersebut.

"Sampai sekarang, ada sekitar 391 organisasi atau kelompok di seluruh dunia yang dimasukkan sebagai kelompok teroris oleh Dewan Keamanan PBB", ujar Ahmad Hamidi kepada wartawan di parlemen Malaysia, Rabu (9/3).

"Pemerintah (Malaysia) telah mengidentifikasi 18 organisasi sebagai kelompok teroris. Diantaranya adalah ISIS, Macan Tamil di Sri Lanka, Boko Haram dan juga kelompok Abu Sayyaf (Filipina)", lanjutnya.

Namun Kementerian Dalam Negeri Malaysia tidak memberikan rincian keseluruhan kelompok dalam daftar, terutama yang berada di wilayah Timur Tengah.

"Nama-nama lain, selain empat yang telah disebutkan tidak dapat diungkapkan karena alasan keamanan", kata seorang sumber anonim dari Kementerian Dalam Negeri pada Anadolu Agency.

Malaysia juga akan memonitor kelompok atau organisasi yang dianggap sebagai teroris oleh negara-negara lain, termasuk 59 kelompok teroris versi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Untuk menghadapi potensi ancaman, Malaysia telah memperkuat hukumnya mengenai isu penanggulangan terorisme.

Dalam aturan baru yang lebih ketat, aparat keamanan dimungkinkan untuk meningkatkan pengamatan, pengawasan dan pembatasan. Termasuk menahan orang yang dituduh terlibat.

"Kami sekarang dapat memantau setiap kegiatan dari jaringan yang berhubungan dengan kelompok di daftar teroris dan para anggotanya", kata Hamidi.

Sementara soal warga Malaysia yang bergabung ISIS, sebelumnya Hamidi menyatakan jika warganya yang menyesal bergabung dengan ISIS karena tidak seperti apa yang dibayangkan.

Beberapa warga Malaysia mengaku, bahwa saat di ISIS bukannya dilatih menjadi militan, tetapi malah direkrut sebagai tukang bersih-bersih WC dan penyapu jalan.

"Mereka tidak terlibat dalam medan perang. Mereka menyesal karena malah diberi tugas untuk membersihkan toilet atau menyapu sampah atau melakukan pekerjaan lain, mereka tidak dilirik untuk menjadi milisi", jelas Hamidi.Menurutnya, warga Malaysia yang tewas di Irak dan Suriah tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Mereka datang karena memiliki keyakinan akan menjadi "syahid" jika berhijrah ke ISIS.Warga Malaysia yang pulang dari ISIS kemudian menjalani rehabilitasi. 97,5 persen dari mereka telah dideradikalisasi. (Anadolu Agency/Asia One)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.